Karya: Khoiriah Apriza

Pagi ini aku terbangun dan berniat bunuh diri. Posisinya aku sudah berada di atas pembatas balkon kamarku sambil merentangkan kedua tangan.

Terpleset dikit sudah beda alam. Aku mengenakan piyama doraemon dan sandal dinosaurus. Terlihat juga rambut warna-warniku berantakan.

Mengapa hidup ini tidak adil untukku? Aku baru saja berulang tahun, tapi malah mendapatkan kejutan pacar selingkuh dengan teman sendiri. Belum lagi Allah menciptakan tetangga-tetangga julid bin kepo yang selalu mencampuri urusanku dan menanyai kapan nikah.

“Ya Allah Daisy, ngapain di situ? Sum, Daisy mau bunuh diri!” teriak Bulek sambil menenteng tas belanjaannya yang penuh dengan sayuran.

“Duh, Bulek apaan sih teriak-teriak?” teriakku kesal, kemudian aku loncat ke balkon dengan hati-hati. Tenang, aku masih berniat untuk hidup kok.

“Duh Ndok, hati-hati entar jatuh beneran,” Bulek mengelus-elus dadanya sambil berteriak. Para tetangga yang membeli sayur pun ikut heboh melihat ke arahku. Duh, mulai deh. Drama apa lagi pagi ini?

“Ada apa Mbak Yu?” tanya Sum, ibuku yang keluar dari rumah menghampiri kakak perempuannya.

“Anakmu frustasi enggak dapat jodoh sampai mau bunuh diri itu,” Bulek menunjuk ke arahku diikuti ibuku yang melotot ke arahku.

“Daisy! Jangan bunuh diri, kamu masih punya hutang janji buat kembalikan akun Facebook Ibu yang lupa kata sandinya,” teriak Ibuku heboh kemudian segera berlari masuk ke rumah yang langsung diikuti Bulek dan tetanggaku.

“Daisy, ini hp Ibu. Kembalikan akun Facebook ibu ya, tadi ibu minta ajarin Mas-mu enggak mau,”

Cobaan apa lagi ini Allah? Punya ibu lebih khawatir akun Facebook-nya hilang dibandingkan anaknya bunuh diri. Ibu macam apa ini?

“Jadi ibu milih buat kembalikan akun Facebook ibu yang hilang dibandingkan aku?” tanyaku memelas.

“Lah, kamu kan punya hutang janji sama Ibu, ya harus ditepati,” jawab ibu.

“Ihh, Ibu nyebelin banget. Udah tau anaknya galau, bukannya dihibur malah disuruh kembalikan akun Facebook yang hilang,” rengekku, kemudian meninggalkan ibu menuju kamarku yang berantakan.

Baca Juga  Ku Sempurnakan Doa

“Hidup itu dibawa santai, jangan dibawa lesu gitu dong,” celetuk Bu Sinta, tetanggaku yang mengikuti ibu masuk ke kamarku.

“Saya udah bawa santai kok Tante,” aku tengkurap di atas kasur dengan bantal yang berbau ilerku. Eeghh…

“Aduh, ini kamar anak gadis apa kandang ayam?” celetuk Bu Ambar.

“Masih bersih juga kandang ayam saya,” Bu Fatim menyahuti.

Nyebelin banget deh ibu-ibu ini. Masa kamarku dibandingkan dengan kandang ayam.

“Kamu tuh kenapa sampai mau bunuh diri gitu? Karena enggak dapat-dapat jodoh ya?” ujar Bu Sinta duduk di kasurku.

“Makanya Dai, jangan kerja mulu. Mampus kan sekarang, umur udah kepala tiga belum ada kelihatan hilal jodoh. Kebanyakan milih sih,” cibir Bu Fatim.

“Anak saya yang umurnya dua puluh lima aja udah punya anak satu, masa kamu belum Dai,” Bu Ambar menambahkan, membuat suasa semakin panas.

“Untuk apa kuliah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya di dapur juga,” Bu Sinta ikut mengompori.

“Eh, Ini kenapa pada ngomong gitu ya sama anak saya? Ya terserah anak saya dong mau nikahnya kapan, bukan urusan ibu-ibu. Emang situ mau bayarin acara pernikahannya?” sentak Ibuku. Duh, perang emak-emak jangan dilawan.

“Kita itu niatnya baik lho Jeng Sum.”

“Baik dari mana, buat anak saya frustasi iya,” celetuk ibuku pedas. Duh Bu, terima kasih sudah mewakili perasaanku.

“Eh Jeng, kita ngomong apa adanya. Anak situ aja enggak bisa masak, enggak bisa beres-beres rumah, gimana mau jadi istri dan ibu yang baik?” ujar Bu Fatim dengan mulut yang sengaja dimoncongin.

“Emang tugas istri dan Ibu cuma beres-beres rumah aja? Lagian sekarang mah udah ada asisten rumah tangga, ngapain susah-susah bersihin rumah,” balas ibu yang terus membelaku.

“Itu kan cuma buat orang kaya, lah kalau hidupnya pas-pasan mana bisa punya asisten.”

Baca Juga  Lagu Rindu

“Ya makanya kerja, cari uang yang banyak, nikah sama orang kaya. Biar mampu bayar asisten rumah tangga,” balas Bulekku. Mantap, lanjutkan Bulek.

“Yee, anak situ aja kali yang banyak milih,” Bu Ambar mencibir.

“Oh jelas anak saya milih, enggak mau asal-asalan nikah sama orang yang enggak jelas keluarganya,” ujar ibu tak mau kalah.

“Maksudnya Jeng Sum ngomong gitu apa? Pasti nyindir mantu saya yang nikah cuma datang sendirian kan? Heh Bu, menantu saya ada keluarganya ya di Malaysia, cuma enggak bisa ke sini pas nikahan karena masih banyak kerjaan di sana,” ujar Bu Ambar kesal.

“Bilang aja enggak punya uang buat beli tiket ke Indonesia,” ibu terus ngotot membalas ucapan para tetangganya.

Terlihat suasana yang semakin memanas, Bulek segera mengusir tiga ibu-ibu yang membuat ulah di kamarku. Bisa tambah berantakan kamar ini kalau mereka cakar-cakaran di sini.

“Kamu juga, kenapa berdiri di balkon kayak orang mau bunuh diri gitu? Beneran frustasi enggak dapat jodoh ya?” tanya ibu dengan kesal. “Makanya cari pacar Dai, jangan cuma kerja mulu,” lanjutnya.

“Sebenarnya ada sih tadi niat bunuh diri, tapi kok takut gitu lihat ke bawah,” ujar ku sembarangan yang langsung dilempar bantal oleh ibuku.

“Anak kurang asem. Ibu udah ngeluarin kamu susah-susah malah kamu mau bunuh diri, enak aja!” umpat ibu kesal.

“Sudah-sudah. Kamu tuh emang enggak ada niat menikah toh Dai?” tanya Bulek pelan-pelan.

“Ya mau dong Bulek, tapi kan emang belum ketemu jodoh yang pas. Lagian Daisy pernah pacaran kok, kemarin baru aja putus,” ujarku lesu sambil duduk.

“Kamu sih, Bulek kenalkan sama anak teman Bulek enggak mau,” ujar bulek.

“Bulek ngomong doang tapi enggak dikenalin,”

“Lho, wong kamu nya yang enggak mau kok. Katanya udah punya pacar. Lagian ya Ndok, kamu sudah dewasa, sudah saatnya mulai mencari pasangan yang mau diajak hidup sesurga,” Bulek mengelus rambutku yang berantakan.

Baca Juga  Petualangan Mentilin dan Penyelamatan Hutan

“Coba lihat, terakhir kali kamu pacaran sama si Panjul rambut kamu diwarnain kayak anak ayam gini. Kamu kayak bukan Daisy yang bulek kenal, sudah saatnya berubah lebih baik Ndok,” lanjut bulek.

“Denger tuh Dai kalau Buleknya ngomong,” celetuk ibuku.

“Kamu juga Sum, jangan main Facebook mulu sambil lihat duda. Anaknya diurusin, udah tua masih aja genit, mikir suami yang udah jadi tanah di kuburan,” Bulek mencubit lengan ibuku gemas.

“Suka fitnah ih, lagian aku setia kok sama Mas Samsul. Buktinya enggak nikah sampai sekarang walaupun udah ditinggal meninggal sepuluh tahun,” ujar ibu membela diri.

“Maaf Bu, di luar ada tukang sayur nungguin Bulek. Katanya mau nagih uang belanjaannya,” ujar Bik Jah, asisten rumah tangga di rumahku yang menyelonong masuk.

“Sum,” bulek menyenggol lengan ibu namun tak dihiraukan ibuku.

“Bayarin dulu toh, Mbak lupa bawa uang tadi,” bulek ini orang yang suka belanja di tukang sayur, tapi lupa bawa uang. Mentang-mentang rumah adiknya jadi tempat langganan berhentinya tukang sayur, Bulek selalu minta dibayarin adiknya.

“Masa tiap hari lupa bawa uang terus toh Mbak,” ujar ibuku yang merengut.

“Tadi buru-buru lihat Daisy mau bunuh diri, ya udah deh sampai lupa bawa uang,” bulek memberikan alasan sambil cengar-cengir.

“Alasan aja terus, untung Mbak sendiri. Bik bayarin aja pakai uang dapur. Nanti diganti,” ujar ibuku. Untung ibu terlahir kaya, belum lagi dapat suami yang kaya raya pula. Duh, janda kaya raya anak dua nih ibuku.

“Baik Bu.”

“Makasih lho adikku seng ayu, entar mbak ganti. Mbak pulang dulu Yo, Jangan berniat bunuh diri lagi lho Dai,” pamit bulek pergi.

Saat bulek sudah di tangga, ibu segera mengejarnya dengan cepat.

“Mbak yu, besok bantuin masak-masak di sini yo,”