Lagi-lagi ibu seakan membawa ceritanya begitu mendebarkan. Entah lah, aku sendiri tidak tahu harus ku jelaskan bagaimana pula. Tapi mendengarnya bercerita merupakan hal yang paling kutunggu-tunggu.

Memasuki tiga tahun pernikahannya, Saryatin belum juga hamil. Ada banyak tanda tanya yang sudah disiapkan oleh Pak Darmo pada anak perempuannya itu. Belum lagi beredar kabar burung, bahwa anaknya itu mandul.

Makin sempit hati pak Darmo mencoba legowo, nahasnya, ia tak sampai hati mendiamkan berita burung itu menyebar dengan begitu kejam. Hingga tepat setelah ba’da Magrib, di rumah milik menantunya Pak Darmo dan istrinya datang.

“Nak. Apakah ada masalah yang kalian berdua tidak bicarakan pada kami?” pak Darmo dengan wajahnya gelisah berusaha tenang membuka obrolan malam yang dingin. Liar-liar angin di luar begitu bergemuruh.

“Tidak Pak, Bu,” jawab Mas Karmin pelan.

“Lantas kenapa? Saryatin belum juga hamil?” Mendengar itu anak perempuannya itu memercingkan dahinya, matanya yang sayup-sayup diterpa lampu damar menatap sang suami. Ia bisa melihat suaminya dengan tenang, menundukkan kepalanya.

“Saryatin belum bisa menerima saya seutuhnya Pak. Tapi saya tahu, Saryatin hanya perlu waktu…” Mas Karmin-begitulah Saryatin memanggil suaminya-tampak begitu tenang. “…dan saya tetap menunggu Saryatin dengan sepenuh hati menerima saya sebagai suaminya…”.

Aku bengong, benarkah demikian yang Ibu ceritakan padaku? Dari sini aku sudah merasa cengok sejadi-jadinya. Mencoba menafsirkan kata-kata yang sederhana itu dengan berat sekali.

Baca Juga  Perempuan di Bawah Rintik Hujan

“Rama. Sejak itulah Ibu tahu, Bapak dengan tulus mencintai Ibu. Bapak dulu orangnya tidak banyak bicara, selalu minum kopi sebelum kerja dan satu lagi…”, wajah ibu terlihat semringah. “… Bapak selalu berpesan, jangan lupa angkat jemuran kalo sudah malam.”

Aku menghela nafas panjang, ku kira makna atau pesan itu berisikan hal-hal magis dan romantis. Ternyata salah, dari sini aku paham kenapa anaknya ini kadang-kadang begitu kaku kepada orang lain.

“Lalu apa hubungan semua ini dengan pohon mangga itu Bu?” Dari semua hal yang sebelumnya diungkapkan. Datanglah pada pertanyaan pamungkas itu.

Perempuan itu berjalan menuju jendela, membukanya, dan mengalihkan pandangannya pada pohon mangga yang sedang berbuah.

“Dulu bapak dan Ibu sempat cekcok perihal penanaman mangga di depan rumah. Ibu ingin menanam pohon manggis, tapi kata bapak batang manggis rentang patah dan bahaya dekat-dekat rumah.”

“Awalnya Ibu tak setuju, Ibu suka manggis dan pohon mangga sebagai solusinya adalah kesalahan besar. Ibu sempat tak menegur bapak sampai berhari-hari. Sebenarnya Ibu tahu, hal seperti ini harusnya bukanlah yang harus diperdebatkan…”.

Pohon mangga yang ditanam bapak tumbuh subur karena sering diberi pupuk olehnya. Barangkali, pupuk itulah yang membuat menjadi kuat dan tahan oleh serangan hama serta tahan dari terjang angin kuat sekali pun.

Baca Juga  Uang Logam

Bapak sempat ingin menebang karena setelah memasuki usia lima tahun tanam, mangga tak kunjung berbunga dan menghasilkan buah yang manis seperti perkataannya pada istrinya dengan begitu yakin. Bahwa mangga itu adalah mangga stek yang berbuah ketika usia tiga tahun pasca tanam, begitulah keyakinan yang ia ucapkan pada sang istri.

Berkat permintaan Ibu yang untuk bersabar-walaupun awalnya ia sendiri menolak keberadaan pohon mangga itu. Pohon mangga itu tak jadi ditebang. Aku turut menatap pohon mangga yang bergoyang-goyang ditiup angin pelan.

“Tapi pohon mangga itu buah terus Bu” tanyaku kebingungan.

“Ketika pohon itu berbuah. Bapak sudah tiada Rama”.

Ibu menolehku, matanya mulai sayu karena ucapannya sendiri. Perlahan kembali ke kursi kayu itu lagi. Aku mengikutinya, seperti anak ayam yang mengekori induknya.

“Sepertinya ibu banyak cerita ya.” Ibu Saryatin tersenyum kelu, seperti bunga amarilis yang mulai layu setelah bermekaran sepanjang hari di pengujung tahun.

*

Kini semua terlihat jelas, pohon mangga di depan rumah yang selalu kuelu-elukan keberadaannya memberikan sebuah jawaban yang tandas. Tak lagi rasa kesal yang memenuhi dadaku, perihal pohon mangga yang nyaris saja ditebang oleh pengelola listrik negara yang hendak merobohkannya.

Baca Juga  Negeri Serumpun Sebalai

Awalnya kusetuju, tapi kini perasaanku berkata demikian, “ini bukan perihal pohon mangga yang kerap kali mengganggu dan mencari alasan kenapa Ibu selalu menanam amarilis setiap tahunnya, tapi semua ini perihal kenangan yang pernah ada”.

Aku paham, satu-satunya cara untuk mengingat sosoknya adalah melihat betapa gagah pohon itu, membentangkan dahannya, menahan amukan angin yang lewat dan yang pasti buahnya yang sering ku ambil untuk memenuhi perut nakalku bersama Dazis, yang sering kami petik dengan diberi racikan cabai rawit halus dan sedikit garam kasar.

Hingga pada kesempatan yang tiba, aku ingin mengikuti cara orang tua yang mengayomiku, mengartikan sebuah rasa cinta dan cara menghadirkan memorinya.

Ya, aku ingin memulai menanam pohon mangga di pekarangan rumah dengan pelataran yang cukup, tentu sudah mempertimbangkan kehadiran tetanggaku. Memulai merangkai kehidupan baru bersama wanita yang kusembunyikan dari Ibu, Runika.

*

SUDI SETIAWAN, penulis kelahiran Bangka yang gemar menulis Cerita Pendek, Puisi dan Esai. Beberapa karyanya tersiar baik cetak maupun daring dan anggota komunitas literasi Kebun Kata di Kota Pangkalpinang.

Cerita pendek berjudul Pohon Permintaan (2023) terbit di Harian Kompas dan Pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Raksasa di Bukit Nenek (2023).