Oleh: Nuryana

Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga merupakan krisis multidimensi yang mengancam keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup kita.

Di banyak wilayah di seluruh dunia, perubahan iklim telah menjadi ancaman serius bagi pembangunan regional. Isu ini melibatkan banyak aspek, mulai dari mitigasi emisi karbon hingga perlindungan terhadap komunitas yang rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, dan badai tropis.

Indonesia adalah salah satu negara yang terdampak atas perubahan iklim. Dengan keberagaman geografisnya yang kaya dan kompleks, adalah salah satu negara yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim global. Bencana alam yang terus terjadi semakin mengganggu kehidupan dan penghidupan jutaan orang.

Apa itu perubahan Iklim? Perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang dalam suhu rata-rata global dan pola cuaca. Selama beberapa dekade terakhir, suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar 1,2 derajat Celcius dibandingkan dengan periode akhir abad ke-19.

Baca Juga  Pengaruh Metode Pembelajaran Problem-Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Mata Pelajaran IPS di SMPN 1 Trucuk Klaten

Namun, data dari layanan pemantau iklim Uni Eropa menunjukkan bahwa pemanasan global telah melampaui 1,5 derajat Celcius selama periode 12 bulan antara Februari 2023 dan Januari 2024. Ini menjadikan tahun 2023 sebagai tahun dengan suhu tertinggi yang tercatat dalam sejarah.

Kenaikan suhu yang terjadi bukan semata-mata berasal dari fenomena alam seperti El Nino, tetapi juga dipicu oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Meskipun fenomena alam seperti El Nino dapat mempengaruhi cuaca dalam jangka pendek, seperti yang terjadi pada tahun 2023, namun badan iklim PBB, IPCC, menegaskan bahwa pemanasan global yang terjadi dalam satu abad terakhir tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alamiah semacam itu.

Baca Juga  Menebar Pendekar dan Srikandi Literasi ke Seluruh Penjuru Negeri Junjung Behaoh

Menurut IPCC, perubahan iklim jangka panjang ini disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama karena penggunaan yang meluas dari bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas, di sektor-sektor seperti rumah tangga, industri, dan transportasi.

Dampak perubahan iklim di dunia dan Indonesia Perubahan iklim tidak hanya berdampak di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Hal ini terbukti dengan kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Sebagai contoh, pada tahun 2023, India mengalami gelombang panas yang menyebabkan suhu udara mencapai 45-50 derajat Celcius.

Bahkan, pada tahun 2022, Kuwait mencatat suhu udara yang lebih ekstrem, mencapai 63 derajat Celcius. Di kota Mosquera, Kolombia, pada tahun 2022, terjadi pencemaran lingkungan yang parah di Sungai Balsillas, yang tercemar oleh busa berbau tidak sedap akibat pembuangan limbah detergen.

Baca Juga  Pendidikan Karakter: Ajarkan Nilai dan Etika Melalui Pembelajaran IPS di SMP Negeri 1 Labang

Menurut pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, Indonesia mengalami kerugian finansial yang signifikan akibat dampak perubahan iklim. Diperkirakan bahwa Indonesia telah mengalami kerugian hingga Rp 544 triliun selama periode 2020-2024.

Pernyataan ini diungkapkan dalam acara Pertemuan Nasional RBP REDD+ Tahun 2024 yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu, 21 Februari 2024. Kejadian-kejadian seperti ini adalah bukti nyata bahwa perubahan iklim telah menjadi masalah global yang mempengaruhi kehidupan dan lingkungan di seluruh dunia.

Perlunya langkah-langkah konkret dan kolaborasi global yang efektif untuk mengatasi tantangan ini demi keberlangsungan hidup kita dan generasi mendatang. Upaya pemerintah mengatasi perubahan iklim Beberapa negara telah mengadopsi berbagai upaya dan kebijakan untuk mengurangi dampak pemanasan global.