Penulis: Karto, S.Pd., M.M. — Pengajar di SMP Negeri 8 Toboali, Bangka Selatan

Kita pernah berpikir dunia digital akan ‘berleha-leha’ berjalan lambat. Namun kenyataannya, jauh lebih cepat. Kita sebagai guru pun masih dalam upaya membatasi penggunaan gadget pada anak-anak usia sekolah dengan melarangnya membawa gadget ke sekolah.

Namun lihatlah sekitar kita sekarang, anak-anak yang dulu bermain sepeda, kelereng, atau layangan, kini lebih betah berlama-lama dengan gadget di tangan.

Asyik membuat konten jedag jedug, status galau, mencari hiburan, games, atau sekadar mengejar tren media sosial agar tidak ketinggalan (FOMO). Dunia baru bagi anak-anak sudah terbentuk, sehingga membuat saya berpikir sejauh mana dampak pelarangan ini sebenarnya?

Cek saja di lapangan, tanyakan hal sederhana saja pada anak di sekitar kita, apa cita-citanya? Maka yang muncul dalam pikiran beberapa anak sekarang ini bukan lagi, pilot, dokter, guru, dan polisi.

Baca Juga  Menantang Balik Tantangan sebagai Guru

Sebagian besar di antaranya telah menyebutkan ingin menjadi kreator konten, selebgram, seleb tiktok, youtuber dan lain sebagainya.

Apakah itu salah? Tidak. Banyak contoh influencer sukses lokal Bangka Belitung, kota lain maupun dunia yang membuat anak-anak percaya cita-cita itu realistis, bukanlah sesuatu yang berlebihan dan mengawang-awang. Dunia ekonomi kreatif bahkan sedang membuka ruang besar untuk profesi ini.

Lalu ketika dunia digital ini secara masif sudah mulai mempengaruhi anak-anak kita, apakah kita para guru masih dalam posisi statis hanya mengerutkan dahi, menatap penuh rasa miris, ketidakpantasan, menyayang-nyayangkan, bisa jadi pula menghakimi tingkah pola anak-anak tersebut?

Apakah sekolah sudah pernah mengarahkan anak-anak dengan upaya-upaya kecil untuk membentuk semacam vaksin, penetral, pembentuk antivirus dari dampak negatifnya dunia digital sekarang ini? Mari kita coba lakukan sedikit pergerakan karena Pemerintah pun sudah menyiapkan wadahnya.

Baca Juga  Rakyat, Sebuah Kartu yang Menentukan Nasib

Mata Pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial di Sekolah

Dewasa ini pemerintah sedang gencar memperkenalkan mata pelajaran baru di sekolah yaitu Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang penuh dengan pro kontra kalangan pengamat maupun netizen terkait urgensi munculnya mata pelajaran ini di sekolah.

Kita tidak sedang berada dalam ranah perbedaan ini, namun faktanya Kalau kita cermati dilapangan terkait kebiasaan-kebiasaan anak-anak kita sekarang dalam dunia digitalnya, maka tidak dapat dipungkiri bahwa kita memang sedang butuh pelajaran ini ada di sekolah.

Kenapa begitu? Jika gadget adalah senjata, maka anak tidak boleh dibiarkan secara ‘brutal’ menggunakan senjata tanpa pedoman dan peruntukkan yang benar.

Di dalam mata pelajaran KKA memuat hal itu, kemahiran yang dibekali dengan etika. Ketika kita sudah sepakat dengan hal itu, maka mari kita sepakati pula bahwa Koding dan Kecerdasan Artifisial dimasukkan ke sekolah karena dunia semakin digital, kecerdasan artifisial memengaruhi hampir semua aspek kehidupan kita, serta untuk menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan dan peluang menjadi sumber daya manusia yang produktif dalam bidang ekonomi kreatif di masa depan.

Baca Juga  Guru 2025: Di antara Angan Tertinggi dan Realita yang Membumi

Munculnya Kokurikuler SAKTI di SMP Negeri 8 Toboali

Bersama rekan-rekan guru disekolah kecil kami ini, kami mencoba mencari semacam titik temu, agar kenikmatan anak dalam bermedia sosial bertemu dengan pengetahuan-pengetahuan utama yang selayaknya didapat oleh mereka.

Titik terang itu muncul pada prinsip pendekatan Pembelajaran Mendalam, di mana refleksi adalah hal yang sangat penting mengingat Pembelajaran Mendalam berupaya memberikan pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

Refleksi membantu siswa menjadi pembelajar yang lebih mandiri dan terlibat aktif, serta memungkinkan mereka untuk menyampaikan aspirasi dan harapan kepada guru untuk perbaikan pembelajaran di masa depan.