Guru 2025: Di antara Angan Tertinggi dan Realita yang Membumi

Oleh: Karto, S,Pd., M.M., – Pengajar SMPN 8 Toboali, Bangka Selatan

Pada Hari Guru ini, akan seru jika membicarakan tentang guru. Dari berbagai perspektif, guru menyimpan banyak hal yang terus menjadikannya pusat perhatian: kesejahteraannya, status kepegawaiannya, perubahan kurikulum, pelatihan-pelatihannya, kisah haru di daerah pedalaman, hingga kasus-kasusnya bersama murid yang kerap viral di media sosial.

Di tahun 2025 ini, dua kementerian di Indonesia merilis tema Hari Guru Nasional yang masing-masing mencerminkan sudut pandang dan nilai filosofi yang berbeda. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengusung tema resmi seperti tahun sebelumnya, yaitu “Guru Hebat, Indonesia Kuat”. Sementara itu, Kementerian Agama mengusung tema “Merawat Semesta dengan Cinta”.

Kedua tema tersebut sama-sama menggambarkan peran vital guru: sebagai pendidik berkompetensi tinggi sekaligus sebagai pengasuh masa depan yang holistik dan berkelanjutan. Idealnya, makna ini sangat menginspirasi dan seketika membuat semangat terus menyala untuk mengantarkan guru menuju angan tertinggi. Semangat menyala ini sangat penting untuk terus dibina karena realita di lapangan guru justru dihadapkan pada berbagai tantangan yang luar biasa.

Baca Juga  Tiga Karakter Seorang Pemimpin

Tantangan 1. Hasil TKA Rendah

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Abdul Mu’ti, mengungkap alasan menurunnya nilai matematika murid SMA/sederajat dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025. Menurut beliau, rendahnya nilai tersebut bukan serta merta karena murid tidak mampu mengerjakan soal matematika, melainkan kemungkinan disebabkan oleh buku yang digunakan serta cara mengajar yang belum mampu menumbuhkan minat belajar murid terhadap matematika.

Sebagai guru matematika, saya merasa apa yang diungkapkan beliau merupakan kritik yang patut menjadi bahan refleksi. Namun sebagai praktisi dilapangan, saya pun menambahkan beberapa detail tantangan yang mungkin belum banyak terdengar oleh beliau hingga tidak tersampaikan ke publik. Di antaranya, guru harus berusaha menemukan cara menyenangkan mengajarkan matematika kepada sebagian anak yang datang ke sekolah dengan mata menahan ngantuk karena semalaman begadang bermain game.

Guru juga harus melakukan hal yang sama kepada anak-anak yang jarang belajar mandiri, jarang membaca buku, bahkan kehilangan motivasi untuk masuk sekolah karena harus membantu orang tuanya bekerja demi menopang ekonomi keluarga. Apakah anak seperti ini harus kita tinggalkan? Tentu tidak, walaupun akan sangat sulit berkontribusi pada statistik TKA tersebut.

Baca Juga  Logo Kementerian Kebudayaan RI Mirip Jambul Nanas?

Ketika guru berhasil merayu, membujuk, dan memotivasi anak seperti ini secara door to door bahkan hingga datang ke sawah-sawah agar anak kembali datang ke sekolah dan belajar kembali disela-sela beragam permasalahan keluarganya, kira-kira tes apa yang cocok untuk mengukur kemampuan guru dalam hal ini? Namun, inilah tantangan kita, pokoknya cara mengajar matematika yang menyenangkan harus segera ketemu di lapangan untuk menjadi Guru Hebat demi Indonesia Kuat.

Tantangan 2. Status Kepegawaian yang Terkotak-Kotak

Viral pula di media sosial perbedaan sikap antara guru berstatus PPPK dan guru berstatus PNS seiring mencuatnya wacana peralihan status PPPK ke PNS secara otomatis. Di satu sisi, guru PPPK menaruh harapan besar terhadap wacana tersebut yang kini tengah disuarakan oleh beberapa anggota DPR RI. Di sisi lain, sebagian guru PNS justru membuat petisi online penolakan.

Baca Juga  Kokurikuler SAKTI: Menemukan Makna di Sela-Sela Tumpukan Views

Belum lagi guru PPPK paruh waktu yang diliputi kekhawatiran karena adanya berita di beberapa daerah bakal digaji rendah akibat keterbatasan kemampuan keuangan daerah. Lebih miris lagi, masih ada guru honorer yang kini bukan lagi sekadar waswas, sebab adanya pernyataan bahwa tidak akan ada lagi honorer mulai tahun 2026.

Kotak-kotak itu kian terlihat jelas dan ini menjadi sangat berbahaya jika sampai memicu perpecahan di kalangan guru. Persatuan guru semakin diuji. Namun sekali lagi, inilah tantangan kita di lapangan, pokoknya kita harus segera menemukan solusinya agar menjadi Guru Hebat demi Indonesia Kuat.