Guru 2025: Di antara Angan Tertinggi dan Realita yang Membumi
Tantangan 3. Ancaman Hukuman
Beberapa kasus viral di sekolah memperlihatkan orang tua melaporkan tindakan kepala sekolah yang menampar anak karena merokok, guru yang menampar anak saat mencoba melompati pagar sekolah hingga roboh, dan kasus-kasus serupa lainnya. Menurut guru yang bersangkutan, tindakan itu dilakukan secara spontan demi mendisiplinkan murid. Bahkan, di salah satu sekolah sempat terjadi mogok sekolah, perdebatan sengit di televisi, hingga seorang gubernur turun langsung untuk mendamaikan pihak orang tua dan guru.
Saya tidak ingin berpanjang lebar membahas hal ini karena setiap orang memiliki sudut pandangnya masing-masing. Namun, bagi kami yang pernah menjadi murid di tahun 2000-an, kisah seperti ini justru menghadirkan senyum dan tawa kecil, mengingat kerasnya cara didik yang dulu kami terima dari guru-guru kami. Namun sekali lagi, pokoknya inilah tantangan kita di lapangan untuk menjadi Guru Hebat demi Indonesia Kuat.
Sebagai bekal meredam tantangan ini, mari kita ingat kembali tiga pesan Ki Hajar Dewantara untuk menutup refleksi ini:
1. Setiap anak memiliki potensi yang unik
Anak bukanlah kertas kosong. Mereka memiliki bakat, minat, dan karakter yang berbeda. Tugas guru dan orang tua adalah mengenali potensi tersebut, memberi ruang untuk berkembang, dan tidak membanding-bandingkan.
2. Lingkungan memengaruhi tumbuh kembang anak
Ki Hajar menekankan Tri Pusat Pendidikan: keluarga sebagai pondasi utama, sekolah sebagai penguat ilmu dan karakter, serta masyarakat sebagai tempat praktik nilai kehidupan. Jika ketiganya selaras, anak akan tumbuh seimbang secara intelektual, emosional, dan moral.
3. Pendidikan harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman
Artinya, menuntun anak agar mampu hidup di zamannya sendiri, bukan di zaman orang tuanya. Ketika anak sudah asyik dengan dunia digitalnya, maka guru juga harus hadir memfasilitas anak dengan hal positif di dunia digitalnya.
Orang-orang di luar sana boleh saja menggeneralisasi bahwa guru begini dan begitu. Namun, setiap daerah memiliki keunikannya masing-masing: sumber daya alam, kondisi ekonomi, sosial, dan budaya yang berbeda. Tak ada angka pasti untuk mengukur kemampuan adaptasi seorang guru dalam hal ini.
Kita harus ingat, memegang Rp100.000 di tongkrongan daerah A mungkin akan ditertawakan, tetapi di tongkrongan daerah B, kitalah rajanya. Begitu pula dengan tantangan guru dan cara menyikapinya yang tidak bisa disamaratakan. Satu hal yang tidak boleh berubah: semangat untuk terus mendidik, menuntun, dan memanusiakan manusia harus selalu ada dari kita sebagai guru.
Jangan bersedih untuk kita para guru dan kawan-kawan guru di luar sana karena tantangan-tantangan itu. Tanggung jawab kita adalah pada senyuman-senyuman kecil anak di kelas itu. Selebihnya, biarkan mereka yang berwenang bekerja memperjuangkan kita sebagai guru. Semoga perjuangan mereka dan perjuangan kita, benar-benar menjadikan kita sejatinya: Guru Hebat, Indonesia Kuat. Selamat Hari Guru Nasional untuk Guru Bangsa Indonesia di mana pun berada!
