Kokurikuler SAKTI: Menemukan Makna di Sela-Sela Tumpukan Views
Harapan kami ada pada program yang kami beri nama Sarana Refleksi dengan Konten Edukasi (SAKTI). Kami merencanakan agar murid melakukan pembiasaan refleksi pembelajaran dengan mengintegrasikan antara proses memperoleh pengetahuan murid dan peningkatan kemampuan murid berkarya membuat konten edukasi dimedia sosial. Kenapa hal ini kami pilih dan kami upayakan?
Berdasarkan data BPS (2024), sebanyak 67,65% peserta didik usia 5–24 tahun menggunakan internet untuk mengakses media sosial. Dari segi tujuan, 90,76% dari peserta didik menggunakan internet terutama untuk hiburan, bukan konten edukatif.
Selain itu, survei Neurosensum (2021) menyebut bahwa 87% anak Indonesia sudah mengenal media sosial sebelum usia 13 tahun, dan rata-rata mulai aktif sejak usia 7 tahun, (Antaranews.com).
Jika sekolah tidak segera mengambil tindakan pada perkembangan pesat media sosial ini, maka konten-konten edukasi tidak akan pernah menjadi konsumsi anak-anak kita. Mereka akan lebih terfokus dan dihadirkan konten-konten hiburan bahkan konten-konten dewasa yang seharusnya tidak menjadi konsumsi anak-anak ini.
Karena apa? karena produksi konten edukasi sebagai ‘vaksin’ dan tandingannya dari kalangan guru dan murid pun masih sangat minim diproduksi. Paling tidak, satu dari lima konten yang di scroll anak pada media sosialnya tiap hari adalah konten yang bermakna edukasi di dalamnya dengan adanya produksi-produksi konten yang secara konsisten kita upayakan.
Layaknya prinsip Kecerdasan Artifisial, semakin sering kita masukan data terkait konten edukasi maka semakin besar peluang konten-konten edukasi ini muncul di beranda media sosial anak-anak.
Bagaimana Penerapan SAKTI ini?
Sering kami mendapati pernyataan bahwa program ini hanya main-main saja, Tentu tidak. Kenapa? setiap konten diawali dengan eksplorasi dari sumber belajar yang beragam dari setiap buku mata pelajaran atau buku pengetahuan umum yang dipilih murid untuk dibaca.
Isi konten yang akan di-publish adalah konten yang bertujuan edukasi dengan bimbingan dari guru-gurunya. Materinya tentu harus diperoleh dan diawali dengan membaca, berdiskusi sesama murid dan guru, mengulik informasi dan ilmu pengetahuan tertentu.
Setelahnya baru memikirkan bersama skenario konten menarik untuk menyajikan pemahaman-pemahaman baru dari apa yang telah didiskusikan, disampaikan secara reflektif, eksekusi skenario serta di diseminasikan lewat media sosial dengan editing yang menarik.
Kami juga menekankan kepada murid untuk mengawali konten dengan kalimat ‘Sakti’ yaitu Hari ini aku tahu bahwa. Sebuah kalimat yang kami rasa bermuatan positif untuk mencerminkan bahwa ada pengetahuan baru yang diperoleh anak dari program Sakti ini setiap harinya.
Dengan program ini kami berharap setidaknya empat dimensi profil lulusan menjadi tujuan diantaranya tumbuh proses berpikir kritis murid dengan membaca buku dan pengetahuan baru. Tumbuhnya sifat kolaboratif bersama timnya yang telah dibentuk, saling membantu dan bertukar ide menemukan isi konten dan menyajikannya dalam konten yang menarik bagi penonton.
Tumbuhnya sifat yang komunikatif karena didalam beberapa konten memerlukan public speaking di depan kamera, rasa percaya diri, dan menyampaikan ide dengan baik bersama teman-teman. Dimensi terakhir adalah tumbuhnya kreatifitas pada proses dan produk konten yang dihasilkan.
Tantangan dan Harapan
Saya menulis ini tidak ada sama sekali unsur flexing. Beragam kelemahan tentu kami temui dalam implementasi di lapangan. Ada murid yang masih malu tampil, ada yang kesulitan teknis, atau ide yang terasa monoton.
Saya hanya ingin kita meyakini satu hal, jika ini konsisten dilaksanakan, murid akan terbiasa merangkum, merefleksi, mengulang, mengingat apa yang mereka pelajari setiap harinya.
Meng-upload ke akun media sosialnya masing-masing dan media sosial semakin dipenuhi oleh konten-konten bernuansa edukasi didalamnya. Maka dari itu, mulai dari diri sendiri, guru, murid, dan orang tua murid, apapun nama program di sekolahnya, mari kita ramaikan konten-konten edukasi. Agar murid tidak hanya mengejar viral semata, namun dapat menemukan makna di sela-sela tumpukan views.
