Terkadang mereka menunggu bintang-bintang di langit untuk mencari jawaban. Dan bintang di langit pun tak menjawab. Cahayanya murung.

Di televisi hitam putih warga yang gambarnya kadang berakrobatik, mereka, para penghuni kota sibuk beradu narasi. Saling membalas komentar. Saling berargumentasi. Dan suara mereka amat keras menembus gendang telinga jelata.

Kadang mengerikan nada intonasi suara mereka. Seakan-akan ingin mengalahkan sambaran halilintar di langit.

Warga cuma termangu menatap wajah mereka yang berlagak bak pahlawan pembela kaum marginal yang hanya berbekal narasi dan narasi semata.

Kadang kala warga bingung dengan narasi mereka yang beradu suara di layar televisi itu. Warga menatap langit melalui atap rumah yang bocor. Langit terlihat murung. Rembulan pucat pasi.

Baca Juga  Aku Sang Pujangga dari Desa, Nona

Sementara, di dapur, nasi masih dalam hitungan butir. Kopi dan gula pun kering kerontang di toples. Dimakan angin narasi palsu.

Semua itu tidak bisa ditebus dengan joget para pesohor di panggung hiburan.

Televisi hitam putih warga masih menyala. Suara mereka di layar televisi makin kencang. Terkadang menakutkan anjing liar yang mencari mangsa di hutan kecil yang masih tersisa di kampung itu.

Suara di televisi masih terdengar dan terdengar. Kali ini suaranya sangat sayup, dan tiba-tiba suara di televisi itu mati sendiri. Ya, mati sendiri.

Para penghuni kota pun hanyut dalam mimpi. Bermimpi tentang kedatangan pemimpin baru yang membahagiakan mereka, sang pemberi amanat. Bermimpi tentang kehadiran pemimpin masa depan yang mensejahterakan mereka sebagai pemberi kuasa.

Baca Juga  Hikayat Sungai Rangkui

Bukan pemimpin yang memanipulasi suara mereka untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Bukan pemimpin yang mengekploitasi suara mereka untuk melanggengkan kekuasaan hingga kiamat tiba.

Cahaya matahari mulai terbangun dari lelapnya. Menerangi langkah kehidupan baru para penghuni kota dengan wajah-wajah ceria.

Apakah mereka bermimpi?

Adakah hari esok makmur sentosa?

Di kejauhan terdengar lengkingan suara garang rocker Ahmad Albar lewat tape mobil yang berlari kencang bak ingin berkejaran dengan cahaya matahari pagi yang mulai memanjat langit.

Tepi jalan pinggiran kota
Duduk bersimpuh geram menangis
Tangan mencakar muka sendiri
Lelaki itu merintih

Lingkaran orang bisu memandang
Dengar sumpahnya berulang kali
Batin menyimpan luka yang sama
Sampai tak bisa apa-apa

Baca Juga  Pantun Semangat Literasi (Bagian III): Santun Lantun Pantun

Dia meminta semua miliknya
Yang telah terampas disikat pemaksa
Dia menggugat jalan hidupnya
Yang telah digilas penindas

Habang, 2024

Rusmin Sopian, Sastrawan Bangka Belitung