Hikayat Sungai Rangkui
Karya: Shasa Apriva Rustam
Bila hidup serupa bentangan Sungai Rangkui, maka hidup ini mungkin sudah menuju sekarat. Sungai panjang yang membelah kota namun nadinya kini kian melemah.
Tak ada lagi semburat tawa di tepiannya. Yang ada hanya lumpur-lumpur memamahbiakkan kemuraman. Saban hari, sungai itu malah memuntahkan isinya ke permukaan yang kini hanya serupa perut ikan kelik puteh yang sibuk menelan limbah dan sampah.
“Zaman kami dulu tak ada budak-budak takut air. Semua lepas terjun ke sungai. Salto, meloncat, ahhh gaya apa saja agar terlihat keren. Budak dara sibuk mencuci baju di atas dipan-dipan kayu tepi sungai.
Amboi. Indah betulan masa itu, Boi.”
Aku hanya mendengarkan dengan takzim karena sulit kubayangkan mencuci baju dengan air sekeruh ini.
“Namun bila ditarik ke hulu, kulihat indahnya bentangan waduk dari atas Jembatan 12. Remang-remang dahulu tergantikan dengan gemerlap warna-warni lelampuan sepanjang jalan. Bukankah wajah Rangkui kini mulai berubah pula, Boi?”
Jelas betul masa dulu adalah masa-masa terbaik bagi Atok Usen. Rasanya aku pun mampu mendengar bunyi kecipak air yang beradu dengan kulit budak-budak bujang yang saling berpacu dalam renang.
Mampu jua kubayangkan mendengar tawa gadis dara sambil bercengkrama di atas dipan pencucian. Kutebak mungkin sabun mereka kala itu masih sabun batang merek Kompas, serupa sabun yang masih digunakan ibuku saat menyikat pantat kuali. Katanya akan lebih bersih mengkilat bila dicampur dengan sejumput tanah.
Aku tak membalas apa pun ucapan Atok Usen. Aku hanya takzim mendengarkan bak mabuk oleh cerita pujangga yang menjajakan romantisasi masa lampau.
“Tak hanya sekadar bermain dan mencuci, tetua dulu senang betul duduk bersantai sambil berkidung dan bermain dambus. Puas main air, kami akan ikut bedincak di tepi sungai. Sesekali diajari cara bermain dambus. Ade kawan Atok yang sampai lihai main dambus. Ahh. Dulu Rangkui benar-benar seperti nadi kehidupan.”
Tok Usen memandang jauh ke depan. Kuterka mungkin ia sedang memilah memori dalam silabus otaknya. Memori-memori yang berisikan memoar menyenangkan dalam riwayat perjalanan hidupnya bersama sungai keruh di hadapan kami ini.
“Tak ada macam sekarang, orang tua sibuk bekerja sedang anak dibiarkan bermain hape. Kini anak tak banyak diajak bicara. Di teve Atok beberapa kali lihat berita anak-anak kecanduan main hape. Kasian betul anak kini.”
Aku dengan sigap langsung memasukkan gawaiku kian dalam agar tak tampak di mata atok bahwa ada gawai di saku celanaku.
“Kami dulu senang mendengar tetua berkidung memainkan dambus, kadang pula mereka berkelakar kisah bulek ukan.” Atok masih melanjutkan kisahnya yang serupa martabak cokelat basah. Aku bisa membayangkan empuk dan manisnya jika menjadi anak-anak di era silam.
Kulihat lelaki di hadapanku ini menatap lurus ke langit. Apakah betul kerinduan sebegitu kuat menyesap hatinya?
Aku mahfum bahwa zaman memang banyak membawa perubahan. Jangankan zaman Atok Usen, jaman ayahku dulu saja katanya ia senang memancing di sungai Rangkui.
Aku pun tak tahu yang mana satu ikan kelik puteh, ikan palak pinang, ikan betutu yang sering dibanggakan ayahku. Hal yang aku tahu, Rangkui kini hanya serupa sungai pucat pasi kehilangan darah.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.