“Kau tahu Mentilin, Boi? Itu mamalia endemik Bangka yang matanya bulat besar. Dulu orang sering bercanda mate jebok ya karena diibaratkan mata Mentilin. Ahh, dulu rasanya tak sesusah sekarang bertemu Mentilin. Mereka sering ditemukan diam-diam sedang minum di sisi Rangkui. Bayangkan sekuat apa Rangkui dalam ingatan kami, Boi? Bahkan tak pernah kukira Rangkui yang gagah perkasa akan menjadi pesakitan tua ratok seperti sekarang.”

“Kalau Rangkui sudah tak kuat menahan perutnya yang berlumpur, apakah tak pedih hati Atokmu ini melihat Rangkui bunuh diri begitu saja? Sudah tua atokmu ini. Sudah uzur. Sudah tak mampu masuk ke sungai dan memunguti sampah yang menyumbat laju air seperti dulu. Jika memang demikian, sama-sama sekaratlah kami,” ujar Atok Usen sambil membenarkan posisi kopiah resamnya.

Atokku memang begitu. Jika berkisah tak berkesudahan. Ada saja yang selalu dikisahkannya.

Baca Juga  Sora

Hari ini bercerita tentang Sungai Rangkui, besok-besok bisa jadi malah bercerita agungnya Bukit Mangkol yang katanya menjadi pusat pasokan air bersih kota.

Bahkan bisa saja di kemudian hari ia berkisah mistis legenda Mawang. Tak pernah habis kisah dari mulutnya seakan ia sudah menelan segala macam kisah kehidupan di tanah ini. Di dalam kepalanya, ia bak menyimpan seribu satu kisah seakan kerutan tak pernah singgah membubuhi jiwanya.

Namun masih saja sama. Aku hanya mendengar dengan takzim seakan Atok adalah Messiah yang turun ke bumi.

“Tapi mengapa Atok bilang Rangkui bunuh diri bukan dibunuh?” tak kuasa pula pada akhirnya aku bertanya. Memang terkesan bodoh betul pertanyaanku ini. Tapi kuyakin jawabannya tak mungkin sekadar bunuh diri. Atoku rajanya berbicara kiasan. Tipikal orang Melayu zaman dulu.

“Apalah lagi bukan bunuh diri namanya? Kau bayangkan saja, Boi. Rangkui diperkosa, dieksploitasi, dikeruk, setelah puas menyiksanya dibiarkan saja ia terbengkalai menanggung sakit. Apa tak malu Rangkui yang gagah perkasa hanya menjadi pesakitan level jompo? Bila ditanya pikun, mungkin Rangkui tak pernah pikun. Ia menyimpan memori kolektif di dalam badannya. Mana pula menurutmu yang lebih dirindukannya? Bunyi tawa anak-anak yang sibuk menggelitiki perutnya atau deru mesin timah ilegal yang membuat dirinya harus muntah darah? Tentu saja Rangkui memilih bunuh diri daripada harus terus-terusan dibunuh oleh zaman.”

Baca Juga  Riuh yang Tak Terlihat

Aku kini mahfum dari nada marah Atok saat bercerita kali ini. Kuakui Rangkui dulu laksana rumah bagi apa saja yang dilaluinya. Mungkin kini Rangkui sudah lelah menanti dirinya diobati namun harapan hanya sisa harapan.

Rasanya perih di ulu menatap bentangan sungai yang konon katanya mampu dilewati kapal-kapal dagang Netherland, kini Rangkui menciut ukurannya.

Atok bangkit dari duduknya.Kain sarung usangnya sedikit melorot. Kulihat cangkir burik yang sedari tadi di sebelahnya kini ia bawa menuju sungai.

Diambilkannya air dari Sungai Rangkui dengan tertatih. Atok Usen menyodorkan cangkir itu tepat di depan wajahku, “Ini kopi susu untuk generasimu.”

Tentang Penulis:

Shasa Apriva Rustam, lahir di Pangkalpinang di bulan April 1999. Seorang penikmat sastra yang aktif berkegiatan di  komunitas Prosatujuh dan Kebun Kata. Tulisannya telah dimuat di berbagai media online dan cetak, juga pernah menjadi penulis terpilih saat perayaan Hari Kesehatan Mental 2020.

Baca Juga  Mudik Backpacker

Menjadi salah satu penulis dalam antologi cerpen Riuh Rindang. Meraih juara 1 dalam lomba penulisan skenario film bertema lokalitas yang diadakan oleh Dinas Pariwisata kota Pangkalpinang.

Berdarah Tionghoa-Melayu yang juga kerap memasukkan unsur lokalitas di tiap tulisannya. Hingga saat ini ia tertarik dengan dinamika bermasyarakat di Bangka Belitung.