Karya: Sudi Setiawan

AKU berusaha mengumpulkan tenaga dan ruh secepat kilat. Harus! Ayo bangun Ambar! Motivasi setiap pagi walaupun rasa kantuk yang mengganjal di pelupuk mata ini sulit disingkirkan, tidurku terasa begitu singkat dalam semalam-belum lagi badanku terasa remuk-kelelahan.

Aku harus segera bangun, itu saja. Cuaca yang dingin semakin membuatku enggan bangkit dari tempat tidurku. Aku duduk di atas dipan kayu, dengan mata yang masih terpejam rapat; mengatur nafas perlahan dan sesekali menguap.

Desember akan segera berlalu ditemani hujan yang mengguyur sejak pertengahan malam hingga fajar tiba, tersisa rintik-rintik tumpahan air di atas genteng rumah. Sayangnya, aku kembali sadar. Kembali sadar ke realitas kehidupan seperti biasanya.

“Ambar, hari ini pergi ngelimbang[1]?” Suara renta dari dapur sederhana, bertanya padaku yang melamun sedari tadi di depan kopi menguap panas. Ingin sekali aku berkata tidak, tetapi itu mustahil. Semua itu hanya terucap di ujung kerongkongan dan tertahan di sana.

“Iya, Mak…,” jawabku dengan suara parau; penuh keengganan.

Baca Juga  Kumpulan Cerita Pengalaman Menarik Siswa SMAN 1 Lepar

Setelah putus sekolah menengah pertama, rasanya hari-hariku sudah tak terasa lagi. Tak ada warna lagi. Itu membuatku hampir kehilangan semangat untuk bermimpi tentang masa depan. Aku hanya ingin seperti anak-anak yang lainnya, bersekolah sebagaimana mestinya di usiaku yang sekarang yang belum genap tiga belas tahun.

Semua itu terasa berat bagiku. Dan angan-angan itu seketika luluh dengan keadaan keluargaku yang memprihatinkan. Aku Ambar, anak sulung dari tiga bersaudara, yang katanya harapan pertama bagi emak dan bapak.

Itu keinginannya. Nyatanya aku harus menelan pil pahit bernama kehidupan. Banting tulang mencari selembar kertas untuk mengisi perut sampai kenyang.

Dengan penuh harapan, aku membawa bekal seadanya; ikan asin yang digoreng dengan minyak jelantah, telur dadar setengah matang dan nasi putih, tak lupa sambal terasi kesukaanku yang dibungkus plastik bening. Aku menenteng suyak[2] dan bergegas menuju area pertambangan rakyat-tempat dimana sumber penghasilan didapatkan.

Aku berjalan di atas pasir putih bekas tambang yang luas, terasa panas dan kasar ketika menyentuh telapak kakiku, aroma-aroma asap mesin diesel membumbung tinggi ke angkasa ikut menyumbat hidung kecilku. Pemandangan yang begitu miris, diikuti suara deru mesin diesel dari semua penjuru.

Baca Juga  Perahu Kertas

Daratan gersang dengan lubang-lubang ini bekas  tambang rakyat yang dipaksa memuntahkan bijih timah dari kulit bumi, emas-nya bagi masyarakat di pulau Bangka.

Dengan peralatan seadanya; piring terbuat dari bahan seng, karpet bekas dan ember milik emak, aku mendekatkan diri ke sebuah sakan[3] yang sedang mengalir deras membawa material tanah dan pasir bersamaan yang dihisap dari pipa mesin dari dalam tanah. Aku menggoyangkan piring itu pelan mengikuti alur air yang jatuh dari atas sakan³.

Pelan-pelan mengeruk pasir yang jatuh dari sakan³; kadang-kadang harus saling berebut dengan para pelimbang[4] yang lain. Aku tentu saja tak sendiri, ada orang-orang yang sudah berusia lanjut, pemuda-pemudi dan bahkan anak-anak sepertiku.

Temanku, Mamad dan Giron di sebelahku ikut mencari bijih timah dengan mengayak pasir untuk menyisakan butiran-butiran halus bijih timah berwarna kehitaman, yang aktivitas ini kami sebut sebagai ngelimbang¹.

Hari semakin terik-panas matahari membakar kulit- aku tak beranjak dari tempat yang sama di tengah daratan gersang, hanya ada pipa air yang keruh menghisap material dari dalam tanah, sakan³ dan para penambang dan pelimbang⁴ tadi.

Baca Juga  Kaban Limpai

Aku terus menggoyang piringku, mencari sisa-sisa bijih timah yang terbuang dari sakan³-tak begitu mudah seperti prosesnya. Kadang kala, kami hanya menemui timah berkualitas rendah; kopong ini jelas tidak laku di pasaran. Bijih timah terbaik sulit ditemukan.

“Sudah dapat banyak?” tanya Mamad yang ada di sebelahku sambil menggoyang piringnya ke kanan-kiri. Matanya memerah, wajah kusam dan tangannya mulai mengkerut kedinginan menatapku tanpa ekspresi lebih. Dan kondisi ini juga terjadi pada tubuhku.

“Belum mad. Masih sedikit…,” jawabku sambil memperlihatkan hasil ngelimbang¹ di emberku.

“Aku sudah lapar,” ungkapnya, sambil tersenyum kelaparan.

“Aku juga. Sudah lapar dari tadi…,” sahut Giron yang duduk di bawah sakan³.

*