Anak-Anak Putus
KAMI bertiga beristirahat di atas gundukan pasir putih menjulang tinggi, di sebelahnya ada bekas tambang yang kami sebut kolong yang berisikan air bak menjelma seperti danau yang luas; biasanya dihuni oleh buaya-buaya dari muara. Aku mengeluarkan bekal yang dibawakan emak, porsi yang hampir sama setiap harinya.
“Ikan asin terus…,” ejek si Giron melirik isi bekalku. Lantas, aku tak malu dan memperlihatkan isinya yang sederhana ini kepadanya jelas-jelas. Aku pun melirik balik isi bekalnya.
“Daripada kamu, Lempah Katis terus…” tak ingin kalah darinya dan ikut mengejeknya. Bekalnya, Lempah Katis yang berisi potongan pepaya muda dipotong dadu-dadu, terasi, cabe dan garam yang diberi kuah berwarna kecokelatan terang. Giron mengerutkan dahinya, pertanda dia tak terima. Aku tersenyum kemenangan.
Di tengah perdebatan kecil ini, Mamad datang dengan bekal yang terasa lebih menyedihkan di antara bekal kami berdua; aku dan Giron. Wajah yang berseri walaupun kotor dengan lumpur, Mamad dengan bangga memperlihatkan bekalnya kepada kami berdua.
“Nih bekalku. Nasi sama garam,” menyodorkan bekalnya ke aku dan Giron. Senyumnya terlihat bangga, tetapi hatiku malah terasa getir melihatnya. Ini bukan pertama kali bagiku melihat bekalnya hanya berisi nasi putih yang sudah dipanaskan lalu ditaburi garam dapur di atasnya.
Menu yang pastinya tak ingin ku telan. Tetapi tetap saja, pemandangan itu terasa begitu miris dimataku. Aku menyesal selalu berdebat dengan Giron perihal menu yang itu-itu saja. Giron tampak mengulum bibirnya ke dalam; matanya memerah, lekas aku menyadari bahwa situasi ini seharusnya tidak diperdebatkan lagi seperti tadi.
Walaupun dengan hatiku terasa terenyah, aku mencoba memahami anak laki-laki ini dengan sebaik mungkin, anak sulung sepertiku. Aku memberi bekalku yang tak mewah itu kepadanya; sepotong ikan asin dan setengah telur dadar ku kepadanya.
Aku hanya ingin membagi lauk pauk yang tak seberapa mewah itu kepadanya. Giron mengikutiku. Memberi setengah lauk Lempah Katis yang terasa hambar itu kepadanya, Mamad; yang baru kehilangan sosok seorang ibu.
Kami bertiga saling tersenyum, tawa renyah dan saling bercanda melupakan apa yang kami lalui di usia belia. Kami adalah anak-anak kecil yang kehilangan masa tumbuh seharusnya. Tidak seperti saat ini.
Dipaksa dewasa sedini mungkin. Pahit, tapi inilah kehidupan anak-anak pelimbang⁴. Bertukar isi bekal dan menikmatinya bersama-sama di atas gundukan pasir bekas tambang rakyat. Hingga kami lupa apa arti ketidak-punyaan dan melengkapi kekurangan.
Kami hanya anak-anak yang putus rasa nikmat dari dunia pendidikan dan lebih mementingkan isi perut dibanding isi kepala. Karena kami tahu apa arti kelaparan.
Besar di bawah pipa-pipa air sakan³ yang membasahi tubuh kami setiap harinya, berteman dengan lumpur dan asap-asap dari mesin diesel tambang ini sudah cukup membuat kami terhindar dari rasa lapar. Dan kami sendiri tak bisa menjamin sampai kapan kami akan tetap hidup seperti ini.
Di tengah rasa yang haru pikuk acara makan-makan, sosok berbadan tinggi-kekar, berambut ikal memanggil kami bertiga yang sedang makan sambil menatap bekas tambang yang penuh dengan genangan air. Kami mengenalnya sebagai Amang[5] Jajo, pria paruh baya yang baik hati. Sedang melambai-lambaikan tangan ke arah kami yang sedang duduk santai di atas gundukan pasir.
“Hei… kemari. Amang⁵ bawa ikan panggang untuk kalian,” satu-satunya orang yang berada di area tambang timah yang memperhatikan kami bertiga sejak lama dengan senyum tulus dari manusia yang baik hati. Syukurlah, kami bisa makan enak untuk hari ini.
**
SUDI SETIAWAN, adalah penulis kelahiran Bangka, Fresh Graduate S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Pohon Permintaan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Raksasa di Bukit Nenek (2023)
[1] Ngelimbang : aktivitas mencari bijih timah secara manual atau tradisional.
[2] Suyak : tas tradisional masyarakat Melayu Bangka yang terbuat dari anyaman rotan
[3] Sakan : tempat pencucian dan pemisahan material tanah, pasir dan lumpur dari bijih timah
[4] Pelimbang : orang yang melakukan aktivitas mencari bijih timah atau Ngelimbang
[5] Amang : Paman dalam bahasa Melayu Bangka
