Kantung Timah
Ketika panas sudah berada di atas kepala. Mereka berempat mengecil mesin untuk beristirahat sejenak. Sebab, perut-perut mereka sudah menangis sedari tadi. Mereka naik ke pondok dan mendapati Jamari asyik dengan tidur siangnya.
Tanpa menunggu perintah, ketiga penambang itu langsung membuka bekal masing-masing dan memastikan menyudahi rasa kelaparan yang mengganggu. Ramidun melongok ketika melihat mereka makan tanpa perlu mencuci tangan.
“Kenapa?” tanya Jul menatap Ramidun keheranan. “Kau hanya belum terbiasa, Ram. Mungkin esok hari kamu akan makan di kubangan lumpur itu tanpa perlu air sebagai pelancar kerongkonganmu…” Jul menahan tawa. Ramidun merasa aneh.
*
Hari ini hasil tambang cukup banyak. Terlihat beberapa kantung Timah berisi penuh. Belum lagi, garis-garis timah yang berada di kubangan tanah itu terlihat masih banyak dan keberadaannya tentu di rahasiakan oleh mereka semua. Sebab, Jamari telah menutup mulut mereka semua tak terkecuali Ramidun.
“Seperti biasa. Bagi hasil kantung Timah itu menjadi dua. Nanti akan kuberikan sedikit banyak kepada Pak Rau agak tak berisik. Muak melihatnya hanya bisa berceloteh tiap hari…” ungkap Jamari. Sembari memastikan Mang Leng benar membagi kantung Timah itu sesuai dengan keinginannya.
“Masih banyak kan? Garis timahnya?” tanya Jamari.
“Masih. Mungkin bisa sampai seminggu ke depan,” jawab laki-laki dengan rambut yang digelung rapi si Bang Bib.
“Bagus” Jamari mengangguk-anggukan. “Oh ya kamu Ram. Pastikan kamu juga menutup rapat mulutmu jika ingin ambil bagian dari kantung Timah itu,” kecam Jamari kepada Ramidun yang sebenarnya juga tak paham.
Ramidun mengangguk. Jamari tersenyum.
Mereka semua lalu membereskan pekerjaan hari ini dengan rapi. Memastikan pula pekerjaan hari ini telah berakhir. Ada pertanyaan besar yang bersemayam di kepala Ramidun. Ke mana perginya kantung Timah yang seharusnya diberikan semua kepada tuan tanah yaitu Pak Rau?
Sebelum itu Jul telah meminta Ramidun agar tak banyak bertanya kepada mandor. Kata Jul anggap saja itu Ujungan hasil bekerja hari ini. Begitulah semua orang yang bekerja di sana menyiasati kecurangan itu dengan rapi. Jauh dari lubuk hati terdalam, Ramidun sedikit takut dan khawatir. Lambat laun, semua akan ketahuan.
*
Pagi-pagi sekali. Ramidun sudah berpamitan dengan Rahma yang baru saja memberi susu formula pada bayi mereka yang diberi nama Rastri. Tak lupa ia mencium kening sang istri dan anak sebelum meninggalkan mereka di bilik gubuk rumah mereka bersama.
Berharap, hari ini Ramidun pulang membawa uang gajian kepada istrinya. Sebab, menurut Jul, jika kantung Timah yang dijual Jamari akan diberikan sehari setelah kantung Timah yang berada di tangan Pak Rau terjual dahulu.
Ramidun menghela nafas. Mungkin hasil itu dia anggap sebagai Ujungan seperti apa yang mereka sebut.
Ramidun menuju kebun yang menjadi ladang penambang. Hari ini, langit sangatlah cerah, sepanjang jalan matanya terasa silau karena pantulan cahaya yang sangat terang. Sesekali Ramidun mengamati jalanan tanah merah itu, takut-takut jalanan berlubang dan bisa saja ia terjatuh seperti tempo hari.
Sesampainya Ramidun di kebun. Mata Ramidun terbelalak melihat semua alat-alat tambang sudah diangkut di dalam mobil truk dengan orang-orang gudang kepercayaan Pak Rau. Di sudut kubangan, Ramidun melihat Jul mengkode dirinya untuk mendatangi.
“Ada apa?” tanya Ramidun kebingungan.
Dengan nada suara yang rendah dan bisik-bisik. Jul mengatakan sesuatu yang membuatnya lemas seketika.
“Jamari ketahuan membohongi Pak Rau. Kemarin sore, Pak Rau memergoki Jamari menjual kantung Timah yang seharusnya diberikan kepadanya. Karena itu, Pak Rau murka dan menarik semua alat-alat tambang…”
Ramidun bergeming.
“Kita tidak akan mendapatkan gaji dari pekerjaan kita kemarin dan kabar buruknya adalah kita diberhentikan.”
Ramidun lemas. Wajah pucat pasi tak bertenaga. Sial. Ingin sekali Ramidun mengumpat. Baru kemarin ia bekerja dan hari ini dia harus menganggur kembali. Jerih payah keringat kemarin tak terbayarkan. Karena ulah mandor yang gila kesempatan untuk membohongi kepercayaan. Hal buruk lainnya ialah bagaimana ia membeli susu formula untuk Rastri?
***
SUDI SETIAWAN, penulis kelahiran Bangka yang gemar menulis Cerita Pendek, Puisi dan Esai. Beberapa karyanya tersiar baik cetak maupun daring dan anggota komunitas literasi Kebun Kata di Kota Pangkalpinang.
Cerita pendek berjudul Pohon Permintaan (2023) terbit di Harian Kompas dan Pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ape Tu, Awan! (2024).
