Titik Nadir
Dengan berlinang air mata dan perasaan hancur di hati, aku pun mempertanyakannya, “Kenapa… kenapa kau ingin tetap berteman denganku?! Apa yang kau inginkan dariku? Tidakkah kau lihat betapa hancurnya aku? Tidak bisakah kau pergi saja?!”
Aku mendengar helaan napas panjang darinya. Aku bisa menebak dia mungkin memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawabku. Namun, yang kudengar adalah isakan kecil darinya.
“Aku– aku tidak bisa meninggalkanmu–”
“Kenapa??” potongku.
“Karena aku menyayangimu, Laura!! Kau tidak tahu betapa baiknya kau dulu padaku. Hanya karena kondisimu sekarang bukan berarti hidupmu juga telah berakhir. Kau berharga bagiku! Kau telah menyelamatkan hidupku sebelumnya. Orang-orang menyebutmu licik, tapi aku percaya ada kebaikan dalam dirimu. Aku ingin membantumu, aku ingin bersamamu saat kau melewati ujian ini. Kau tidak kasihan melihat Ibumu yang menangis karena sikapmu yang seperti ini? Laura, aku tahu ini sangatlah berat, bukan hanya untukmu, tapi untukku dan Ibumu juga. Kumohon, Laura. Biarkan kami membantumu. Bagaimanapun kau harus keluar dari lubang terdalam ini. Kumohon, jangan menyerah. Masih banyak yang bisa kau lakukan. Ada banyak orang di luar sana yang bisa bangkit seterpuruk apapun mereka. Kau juga harus bisa, Laura.”
Mendengar itu, rasanya ada belati yang menusuk jantungku. Bagai ditampar di siang bolong. Hatiku terenyuh mendengar bagaimana masih ada orang yang peduli padaku. Sekelibat memori berputar dalam pikiranku.
Aku mulai mempertanyakan banyak hal hidupku. Aku sadar ada banyak kesalahan yang telah kuperbuat sehingga mungkin ini adalah hukuman yang pantas kuterima.
Sebelum kecelakaan hari itu, aku ingat aku menjadi sangat angkuh saat dipromosikan sebagai manajer. Aku melakukan berbagai cara agar dapat berada di posisi tertinggi. Aku mulai dibenci banyak orang dan menjadi buah bibir di kalangan karyawan lain.
Konflik-konflik mulai bermunculan dan puncaknya adalah hari itu. Aku marah ketika aku akan diturunkan dari jabatanku dan akan digantikan oleh orang yang tidak kusukai sama sekali. Aku dengan lantang menentang dan dengan lancang main fisik terhadap wanita yang telah merebut posisiku.
Mungkin itulah sebabnya semua ini terjadi padaku. Mungkin inilah buah karma yang kudapatkan dari apa yang kulakukan di masa lalu. Sebutir air mata kembali keluar.
Kali ini adalah air mata penyesalan. Penyesalan yang kini memenuhi diriku. Serangan kesadaran yang terlambat kusadari. Hari ini seorang teman sejati telah menyadarkanku.
“Oh, Tuhan….” rintihku diikuti dengan tangis sendu.
Kurasakan sebuah pelukan yang erat mengelilingiku. Sentuhan hangat yang selalu temanku coba untuk berikan, tapi selalu kutolak selama ini. Kali ini, aku menerima diriku dipeluk olehnya. Kubiarkan diri ini dicintai dengan sebagaimana mestinya.
“Tidak apa-apa, Laura. Menangislah,” ujarnya lembut.
Aku membenamkan kepalaku ke dadanya sambil menangis hingga puas. Cukup lama kami tetap dalam posisi itu. Hingga pada akhirnya, aku melepaskan pelukannya. Untuk pertama kalinya, aku mencoba tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana kelihatannya, namun aku bisa pastikan ini adalah senyuman yang tulus.
“Pikirkanlah baik-baik apa yang ingin kau lakukan setelah kau tenang. Aku akan selalu ada di sini,” ujarnya.
Aku terdiam sejenak sambil menghela napas, “Kurasa… aku ingin memulai semuanya kembali. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik.”
“Bagus, Laura. Bagus! Sekarang kita bisa mulai membiasakan diri dengan keadaanmu sekarang. Mulai dengan belajar menuntun dirimu sendiri.”
Sejak saat itu, aku mulai belajar membaca huruf braille. Aku belajar berjalan dengan tuntunan sebuah tongkat untuk para penyandang tuna netra. Aku belajar seperti bayi yang baru dilahirkan.
Aku belajar semuanya dari awal lagi. Ibuku dan temanku tidak pernah meninggalkan sisiku. Mereka menguatkanku setiap saat aku memulai langkah baru. Setelah aku terbiasa, aku mulai mengambil kelas musik. Aku mencoba belajar bermain biola. Walaupun butuh waktu yang lama untuk terbiasa, namun akhirnya aku berhasil.
Aku mulai menciptakan melodiku sendiri sejak saat itu. Melodi naik turun bagai seseorang yang pernah berada di fase titik nadir mereka, lalu perlahan naik kepada fase terbaik mereka. Aku sukses menjadi musisi orkestra sekarang. Tergabung dalam sebuah grup orkestra yang cukup sukses. Ibuku dan teman sejatiku tidak pernah melewatkan satupun konserku.
Aku tidak akan pernah tahu bagaimana aku harus bangkit dalam setiap keterpurukan jika bukan karena Ibu dan temanku. Aku tidak akan berada di fase ini jika bukan karena mereka. Aku berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Aku belajar bagaimana menghargai diri sendiri dan orang lain. Banyak hal telah kupelajari. Kuharap kisahku bisa menginspirasi banyak orang. Salam, Laura.
