Karya Sheila Fiorencia Caroline

Hawa dingin menyeruak bagai entitas jahat yang mencoba masuk untuk menghancurkanmu di malam hari. Kegelapan tanpa ujung bagai kutukan hidup yang tak akan bisa lepas seumur hidup. Kehampaan begitu menakutkan ketika engkau berusaha mencari sesuatu yang kau sendiri tidak tahu apa itu.

Entah apa yang terjadi malam itu, aku hanya bisa merasakan sesuatu yang terasa cepat menghantamku bagai hewan buas. Ada rasa sakit yang tak terlukiskan dan diikuti oleh perasaan yang mati rasa. Tepat setelah itu, kurasakan diriku ambruk bersamaan dengan menghilangnya fungsi seluruh indraku.

*****

Sebuah cahaya terang yang menusuk mata tiba-tiba datang menghampiriku. Bersamaan dengan itu, dorongan untuk membuka mata semakin kuat. Kubuka kelopak mataku yang terasa berat dengan susah payah. Aku segera menarik napas dalam ketika aku mendapati bahwa aku tidak bisa melihat apapun. Bukan kegelapan kali ini, aku hanya… tidak melihat apa-apa. Semuanya kosong.

Aku yakin aku telah membuka kedua mataku. Kuraba-raba mataku hanya untuk menemukan sesuatu telah membalut kedua mataku. Sesuatu yang terasa seperti kain kasa. Kepalaku seolah masih berkabut, segalanya terasa membingungkan bagiku. Roda gigi di kepalaku berputar sedemikian keras mencoba menghubungkan berbagai kejadian yang telah terjadi.

Baca Juga  Asaku yang Telah Usai

Hingga pada satu titik, aku akhirnya bisa menghubungkan sebuah titik ke titik lainnya menjadi satu jalan garis besar. Aku mengingat perasaan terakhir sebelum diriku ambruk. Aku ingat berjalan pulang dengan pikiran kacau dari bekas kantorku setelah dipecat. Pasti pikiranku sedang kacau saat itu. Entah apa yang terjadi tapi aku berakhir seperti ini. Jika sesuatu membalut kedua mataku itu artinya….

“Tolong….” ujarku lirih.

Suara serak dan parau, terasa menyakitkan ketika berbicara. Aku butuh siapapun bersamaku untuk menjelaskan apapun yang membuat semua ini masuk akal. Tidak, aku tidak ingin percaya dengan firasatku kali ini.

Tak seorang pun menjawab, sedikit kepanikan naik dalam diriku, “Kumohon, tolong aku….”

Untunglah, tak lama setelah itu, kudengar suara derit pintu yang terbuka. Suara hentakan kaki mendekat dan mulai menyentuhku.

Baca Juga  Bumbu 3: Rasa Syukur di Balik Kesederhanaan

“Anakku! K-kau akhirnya sadar. Tunggu sebentar, akan kupanggilkan perawat untukmu.” Itu suara Ibuku, aku mengenali suaranya.

Dengan gemetar, aku bertanya, “Ibu… apa yang terjadi padaku?”

“Ssst… semua akan baik-baik saja, sayang. Ibu akan jelaskan semuanya nanti.”

*****

Atas semua yang terjadi hari itu, hidupku digulingkan begitu saja. Kehidupanku yang sebelumnya sempurna berbalik 360°. Tepat pada hari itu, aku telah kehilangan pekerjaanku. Pertengkaran dengan seorang rekan kerjaku telah mencoreng nama baikku.

Hanya tak berselang lama dari itu, saat dalam perjalanan pulang, aku mengalami kecelakaan yang menjadi puncak titik terendahkan. Kecelakaan yang merengut penglihatanku selamanya.

Tak pernah kubayangkan bahwa aku akan hidup dalam kegelapan selamanya. Kini kondisi ekonomi keluargaku benar-benar berantakan. Aku tidak lagi bekerja, entah aku bisa bekerja lagi atau tidak. Ibuku menjadi tulang punggung keluarga sekarang dan Ayahku sudah meninggal dua tahun yang lalu.

Sebagian pesangon yang kudapat setelah dipecat telah digunakan untuk biaya pengobatanku. Kini hidup kami hanya bergantung pada sisa pesangon yang tidak seberapa. Lebih buruk lagi aku tidak bisa lagi melihat. Hampir semua teman-temanku meninggalkanku. Aku ditinggal sendirian. Hidupku hancur sepenuhnya.

Baca Juga  Petualangan Kura-Kura

Namun, di balik itu, ada seorang teman yang tidak meninggalkanku. Seringkali dia mengunjungiku yang hancur dan tak berkeinginan untuk melanjutkan hidup. Dia dengan sentuhan hangatnya, selalu bertanya bagaimana hariku. Padahal aku tidak pernah lagi keluar rumah sejak kecelakaan itu, terus berdiam diri di kamarku.

Awalnya aku benar-benar marah dengan kehadirannya. Aku tidak membutuhkan orang yang berpura-pura peduli padaku. Aku merasa tidak bisa mempercayai siapapun lagi. Itulah yang kupikirkan saat itu.

Akan tetapi, dia tidak pernah pergi. Dia tetap bertahan walaupun berulang kali aku menyuruhnya pergi. Tidak peduli berapa kali aku memarahinya untuk meninggalkanku, tidak peduli berapa kali aku mengacuhkannya, tidak peduli berapa kali aku menyakiti perasaannya, dia masih tidak pergi.

Tepat pada hari ini, aku akhirnya menangis sejadi-jadinya di hadapannya. Dia mencoba menenangkanku dengan mencoba memelukku, namun aku teguh menolak.