Anak pak camat itu tergolong pendiam. Tidak banyak menebar diksi-diksi indah. Cuma pandangan matanya mengabarkan kepada semesta tentang rasa cintanya pada kembang Kampung itu.

Rasa cintanya kepada Farida tidak mampu dibendungnya saat pertama kali dirinya melihat wanita muda berada di rumah dinas camat.

Dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ingin segera dia meminang idola kaum Adam itu. Hanya lewat orang tuanya dia mengabarkan kasih sayang untuk Farida, idaman hatinya.

“Engkau sudah dewasa. Kami menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada mu. Karena engkau yang akan menjalaninya. Kami sebagai orang tua hanya berharap yang terbaik untukmu,” jawab Sang Bapak saat Farida menyampaikan amanah dari pak camat dan keluarganya.
“Sebagai orang tua kami hanya berdoa semoga pilihan mu adalah seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab untuk diri mu dan anak-anak mu,” sambung sang ibu.

Farida terdiam. Mematung. Mata indahnya memandang ke arah tungku api gula aren yang menyala. Semenyala cinta Sopian kepada dirinya.

Baca Juga  Sympnoni

Angin senja bertiup kencang. Membelai rambut panjang Farida. Sepanjang narasi yang disampaikan beberapa lelaki Kampungnya saat mendengar dirinya dilamar anak pak camat.
“Dia belum bekerja. Cuma mengandalkan nama orang tuanya. Apakah engkau bahagia nantinya?” tanya seorang lelaki kampungnya.
“Beda sekali dengan kami yang sudah bisa mencari uang sendiri. Tidak mengandalkan orang tua,” jelas lelaki lainnya yang sangat mencintai dirinya.
“Semoga pilihan mu benar. Dan yang paling penting, engkau bahagia. Itu doa kami,” sambung seorang lelaki lainnya dengan nada suara bijaksana. Padahal jiwanya bergelora. Degup jantungnya tidak teratur.

Farida cuma diam seribu bahasa. Dia tahu dan sangat paham, keputusan apa yang akan diambilnya.

Sebagai wanita dewasa, dia paham lelaki mana yang akan bertanggung jawab untuk kehidupan dirinya dan anak-anaknya. Lelaki yang tidak pernah menyebut dirinya sebagai anak dari orang nomor satu di kecamatan. Lelaki yang tidak pernah memandang sebelah mata profesi ayahnya yang hanya seorang pembuat gula aren.

Baca Juga  Bajak Laut dan Jambul Nanas

Naluri kewanitaannya, telah memberikan pilihan terbaik untuk dirinya. Doa malam yang dilakoninya saat semua orang terlelap dalam mimpinya, telah memberikannya arah pilihan. Suara langit telah diterimanya.

Farida tersenyum bahagia. Senyuman yang diidamkan para lelaki kampungnya yang akan segera diberikannya kepada seorang lelaki.

Ya, lelaki yang saban hari berada di teras rumahnya yang berlantai tanah liat. Yang tahu seluk-beluk kehidupan keluarganya. Yang tidak pernah memandang sebelah mata keluarganya. Lelaki yang tidak pernah menyebut siapa ayahnya.

Saat pak camat dipindahkan sebagai Kepala Kecamatan Koba tahun 1965, Farida menikah dengan Sopian di Baturusa. Saat itu dirinya berusia 20 tahun. Sementara sang suami berusia 23 tahun.

Baca Juga  Akhirnya Kita Berdiam Diri

Beberapa bulan usai menikah, Sopian diterima sebagai karyawan salah satu BUMN bidang pertambangan. Mereka pun tinggal di daerah yang terkenal dengan buah nanas dan penyedap masakan terasi. Tanah kelahiran sang suami.

Enam puluh delapan tahun kemudian, di ujung tahun 2007, di saat suara azan Magrib berkumandang dengan religius dari masjid, Farida menghembuskan nafas terakhirnya untuk menghadap Allah Swt, Sang Maha Pencipta.

Innalilahi wa Innailaihi bergema. Berarak menyelimuti semesta.
Seiring suara tangis anak dan menantu, keluarga hingga handai taulan mengapung di sebuah kamar rumah sakit ternama ibukota provinsi.

Semesta berduka. Awan menghitam. Seolah ikut merasakan kedukaan yang amat dalam dengan kepergian untuk selamanya seorang istri dan ibu serta nenek yang terbaik bagi mereka. Jutaan doa terus bergemuruh ke langit untuk Farida.

Al Fatihah untuk almarhumah Farida Binti Romadi.

Toboali, Juni 2024.

Rusmin Sopian