Jatukrama
Aku meyakinkan dirinya, ini adalah keputusan yang telah ku ambil. Keputusan terbaik ketika aku memilihmu, dari semua kandidat yang selalu ibu bahas ketika arisan para ibu-ibu arisannya. Kamu adalah pilihan terbaikku, aku tahu itu. Tidak ada kata penyesalan bagi keputusanku nanti.
*
“Nak, sekarang umur sudah 35 tahun. Dan kamu tahu, semua orang bertanya kenapa kamu belum mempunyai anak? “suara ibu yang halus itu memekakkan telingaku, menghentikan kopi yang baru ku sesap per sekian detik yang lalu.
“Bu,” sahut Romo, pelan terasa dalam.
“Tidak ada yang salah di antara Sekala dan Laras bu, ini pilihan hidup kami berdua…”
“Tapi nak, apakah ini sudah menjadi keputusan yang tepat?” ungkapnya penuh kekhawatiran. “… Bagaimana dengan hari tuamu nanti jika tidak mempunyai anak?”.
“Aku akan tetap menua bersama Laras bu, Sekala sudah berjanji ketika akad. Apa pun kekurangan Laras, aku sebagai suaminya akan tetap mencintainya sebagai istri yang sempurna…”
Romo berusaha menghentikan Ibu yang ingin terus saja menanyakan perihal cucu yang dulu ku janjikan. Wajahnya penuh kecemasan, Romo tahu bahwa aku tidak akan pernah mengatakan hal yang berbeda dari awal keputusanku. Sore yang pekat ini terasa dingin ketika obrolan ini berhenti tanpa percakapan di akhir.
*
“Mas,”
“Iya, istriku.”
“Terima kasih.”
“Tentang?”
“Telah menjadi suamiku…” Laras-istriku menahan air matanya jatuh. Lagi dan lagi, pipinya basah oleh perasaannya membuatku bersedih hati. Senyum yang terlihat palsu mencoba menyembunyikan rasa bersalahnya.
“Aku akan tetap menjadi suamimu, menjadi orang pertama yang akan mencintai hingga masa yang tak pernah ku ketahui….”, Memegang tangannya yang hangat, untuk pertama kalinya. Kenapa ia tampak begitu menyedihkan. Aku merasakannya, bagaimana tidak, dia adalah separuh hidupku. Teman hidupku.
“Apa kita adopsi anak?” tanyaku. Mendengar itu, matanya mengembang, senyum kecilnya mulai kembali di wajahnya yang layu.
“Kamu tidak masalah?”
“Kenapa jadi masalah? Toh mereka juga manusia. Anak-anak kecil tidak pernah bersalah lahir di dunia, lebih baik kita menyambung garis kehidupannya. Itu lebih baik”. Laras merekah senyumannya, pertanda dia setuju dengan ideku saat ini
“Toh nanti ibu dan romo tidak akan mengganggumu lagi…”
**
SUDI SETIAWAN, penulis kelahiran Bangka yang gemar menulis Cerita Pendek, Puisi dan Esai. Beberapa karyanya tersiar baik cetak maupun daring dan anggota komunitas literasi Kebun Kata di Kota Pangkalpinang.
Cerita pendek berjudul Pohon Permintaan (2023) terbit di Harian Kompas dan Pemenang Sayembara Menulis Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ape Tu, Awan! (2024)
