Karya: Sheila Fiorencia Caroline

Malam itu kau masih tersenyum dan memelukku. Senyum yang cacat, namun aku tahu niatmu tulus. Aku berharap kita tidak harus bertemu hari esok. Keadaanmu begitu hancur dan itu membunuhku karena tidak ada yang bisa kulakukan untukmu. Jika aku tahu itu adalah senyum terakhirmu, maka aku akan berusaha lebih baik lagi. Namun tidak, aku justru tetap diam, tenggelam dalam kehampaan.

“Ryan, berjanjilah pada Ibu kau tidak akan menjadi seperti Ayahmu,” ujarmu.

Setetes air mata mulai jatuh dari balik pelupuk matamu. Aku sangat ingin menghiburmu, namun aku tahu tak ada yang bisa membuatmu terhibur sekarang. Matamu memerah karena terlalu sering menangis, lingkaran hitam di matamu semakin dalam, dan tubuhmu terkulai lemas di hadapanku. Ada perasaan tidak enak di dalam hatiku dan aku tidak tahu kenapa itu.

“Ayahmu itu… kenapa dia harus melakukan ini pada kita? Kenapa dia tidak pernah mencintaku?”

*****

Aku ingat ketika aku mendengar Ibu bertengkar dengan Ayah sepulang sekolah kala itu. Ibu berteriak seperti orang gila dengan air mata bercucuran, sedangkan ayah tak kalah keras saat berteriak terbukti dari urat-urat yang menonjol di sekitar lehernya.

Baca Juga  Kenangan Itu

Aku ingat aku harus berjalan diam-diam masuk ke dalam kamarku karena ketakutan. Aku tak sempat mengganti pakaianku, kubalut diriku sendiri dengan selimut sambil menutup kedua telingaku. Bagaimanapun suara-suaranya masih tetap terdengar dan dari yang bisa kudengar adalah fakta bahwa ayah telah berselingkuh dan memutuskan pergi bersama selingkuhannya.

Jiwa kecilku hanya mati rasa, aku tidak bisa merasakan apapun. Hal terakhir yang kudengar sebelum jatuh dalam tidur adalah suara bantingan pintu dari depan rumah dan suara tangisan Ibu yang menggema di seluruh rumah.

Sejak saat itu, aku belajar mengurus diriku sendiri dan Ibu. Nampaknya Ibu tak hanya kehilangan suami, namun dirinya sendiri juga. Setiap malam Ibu akan masuk ke kamarku dengan air mata bercucuran sambil bertanya, “Kenapa dia tidak pernah mencintaiku?”.

Baca Juga  Hati Siapa Tertikam

Aku tidak bisa bereaksi apa-apa saat Ibu seperti itu. Aku baru akan mencoba tidur jika Ibu sudah keluar sendirinya, terkadang dia akan tidur di sebelahku, namun selama hari-hari itu aku tidak bisa tidur dengan baik.

*****

Namun, hari ini berbeda. Ibu masuk dengan tenang sambil tersenyum tipis, tidak ada amukan atau tangisan, hanya senyum yang kurindukan. Dia berbicara sebentar padaku, memintaku untuk jangan sampai menjadi seperti Ayahku. Masih ada pertanyaan kenapa Ayah tidak pernah mencintainya, namun kali ini dia nampak lebih tabah.

Ibu berjalan keluar ke arah pintu kamarku. Pandanganku tak luput menatap langkahnya yang tertatih-tatih keluar. Sebelum menutup pintu, kudengar suara lembutmu mengucapkan sesuatu padaku.

“Selamat malam, Ryan. Sampai jumpa lagi.”

*****

Pikiranku yang berkabut dan perasaan tidak enak di dadaku membuatku tidak bisa tertidur. Tepat saat jam menunjukkan waktu tengah malam, aku memutuskan keluar kamar untuk memeriksa Ibuku. Mungkin dia sedang berada di kamarnya seperti biasa.

Baca Juga  Aku Harus Bicara

Aku berjalan pelan keluar, menarik kenop pintu dengan hati-hati.  Entah mengapa aku menjadi semakin tegang dalam setiap langkahku. Aku berjalan menuju pintu depan kamar Ibu. Gerakanku terhenti tepat di depan pintu. Aku mungkin mengganggu Ibuku dengan datang di jam segini, namun firasat tak enaklah yang membuatku yakin untuk memeriksa.

Keputusanku memeriksa ke kamar Ibu adalah keputusan yang sangat buruk.

Kedua kaki melemah, pandanganku terpaku pada satu titik, rasanya waktu berhenti berputar dan jantungku berhenti berdetak. Aku jatuh tertunduk lemas. Mulutku terperangah tak mampu mengeluarkam suara sama sekali.

Tubuh Ibu tergantung dengan tali yang menggantung di lehernya, meninggalkan jejak kebiruan di lingkar lehernya. Bibirnya pucat kebiruan dan matanya… mata terbelalak yang menatapku seolah bisa tembus menusuk jantungku. Untuk pertama kalinya sejak hari itu, ketabahanku goyah. Seluruh tubuhku bergetar hebat, napasku tersengal, dan dadaku sakit bukan main.