Satu hal terbesit dalam pikiranku… Ayah.

Seolah pikiranku mempermainkanku, tiba-tiba aku seperti mendengar suara Ayahku. Suara yang sudah lama tidak kudengar. Suara yang mencoba meninggalkanku selama ini. Membunuh kami perlahan bagai ribuan pisau yang menyayat seluruh kulit kami.

Tak berselang lama, sesosok bayangan laki-laki muncul dari belakangku dan aku bisa melihat bayangan itu dengan jelas walaupun aku mungkin membelakanginya. Pikiranku yang kacau seperti sedang mencoba menghancurkanku. Ketika aku menutup mataku sebentar lalu membukanya kembali.

Hal-hal acak kembali kulihat. Kini aku seolah melihat Ayah berdiri di hadapanku sedang menyalahkanku atas segala hal yang terjadi. Suaranya menggema di kepalaku. Awalnya hanya satu figur dan sebuah ocehan panjang yang tertuju padaku.

Namun, lama kelamaan, ada lebih banyak figur yang menyalahkanku. Aku seperti bisa melihat Ayah di mana-mana. Sebelah kiri, sebelah kanan, ke atas, ke belakang. Ada Ayah di mana-mana yang bagai monster yang sedang menghantuiku.

Baca Juga  Buyut

Aku sudah tak tahan lagi dengan rasa sakit ini. Jariku terkepal dan hembusan napasku berat. Aku ketakutan setengah mati. Tiba-tiba pandanganku teralih ke sebuah pisau di bawah kolong kasur. Dengan perlahan dan tangan gemetar aku mengambilnya. Entah bagaimana itu bisa ada di sana. Mungkin ini sudah takdir.

Ketika aku menoleh ke belakang kembali, tiba-tiba sosok “Ayah” bergerak seolah akan menyerangku. Dengan kepanikan yang memuncak, aku berdiri dan menyaksikan sosok yang mirip seperti Ayah mulai berjalan cepat seolah akan menerkamku. Aku hanya bisa menutup mata, berharap semua ini akan berakhir.

Sedetik kemudian, aku bisa merasakan sesuatu yang berat menimpaku. Kubuka mataku. Kulihat pisau yang kupegang telah menusuk sang monster peniru Ayah. Tubuhnya yang berlumuran darah lemas menimpaku. Tak ada ketakutan, kesedihan, ataupun penyesalan. Aku justru menyingkir dengan tenang saat tubuh tinggi besar itu tergeletak dengan darah berceceran. Aku hanya merasakan kelegaan.

Baca Juga  Dihilep Antu

Dengan tertatih-tatih aku keluar rumahku. Masih dengan berlumuran darah. Jika bisa, aku ingin menghilang saja dari bumi ini. Aku tidak ingin menghadapi hari esok. Aku berjalan masuk ke dalam hutan dekat rumahku. Tanpa tujuan, tanpa masa depan. Setidaknya ada rasa terpuaskan dalam diriku. Tidak ada lagi beban yang menempel di dada dan kepalaku.

*****

2 tahun kemudian…

Seorang pria berjas putih menutup bukunya dengan hembusan napas kasar, kecewa. Dia melepas kacamatanya sambil menggelengkan kepalanya.

“Ryan, kau tidak akan bisa keluar dari rehabilitasi jika kau masih percaya dengan hal itu.”

Ryan, seorang remaja yang ditemukan pihak kepolisian tertidur di tengah belantara hutan dengan jejak darah di tubuhnya. Remaja yang percaya bahwa dirinya baru saja membunuh monster yang mencoba membunuhnya dan memakan mayat Ibunya yang bunuh diri.

Baca Juga  Permata

Psikolog paruh baya itu kembali berkata, “Ryan, dengarkan aku baik-baik. Kau membunuh Ayahmu di rumahmu karena kau marah dia menyelingkuhi Ibumu. Tidak ada monster atau apalah itu.”

Ryan hanya menatapnya sinis dari balik matanya, “Dan kau harap aku percaya padamu?”

Psikolog itu mengangkat kedua tangannya. Perawat dua tahun sia-sia saja pikirnya. Kemudian dia berdiri, hendak meninggalkan Ryan yang masih percaya akan halusinasinya. Sebelum pergi menutup pintu, psikolog tersebut berkata pada Ryan.

“Lihat, Ryan. Semua akan jadi mudah jika kau akui saja perbuatanmu dan menghentikan semua omong kosongmu. Kuharap kau bisa memikirkan baik-baik ucapanku.”

Shiela Fiorencia Caroline

Alumnus SMKN 1 Sungailiat tinggal di Sungailiat. Aktif menulis dan telah menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul “Tiga Menit Hening”.