Rahasia Seorang Guru Muda
“Nah, aku kebetulan terpaksa pakai toilet dekat bilik itu karena yang lain penuh. Bagaimana aku tidak bisa mendengarnya? Ngomong-ngomong apa kau mengenalnya?”
Aku mengingat-ingat apakah aku pernah melihat siswi itu. Rasanya dia familiar, namun aku lupa di mana aku pernah melihatnya, “Gadis itu, ya? Ehm… aku familiar tapi aku tetap tidak mengenalnya.”
“Hmm… dengar-dengar dia dari kelas MIPA. Pintar pula katanya. Dia sering dipilih untuk mewakili sekolah kita di ajang olimpiade sains. Tidak kusangka orang sepintar dia malah berbuat seperti ini.”
“Baiklah, sekarang kita mempergoki kelakuan mereka dan kau punya fotonya. Apa yang harus kita lakukan?”
Mendengar itu, Dina terdiam sejenak, “Aku tidak merencanakan itu sebenarnya. Aku tidak berniat mengadukan ini ke siapapun, aku tidak mau terlibat. Rencananya akan kuhapus saja setelah menunjukkannya padamu.”
Untuk itu kami terdiam sejenak, aku memang tidak suka Pak Erwin, tapi tak kusangka dia akan jadi guru yang seperti itu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sangat penting.
“Tunggu, Pak Erwin bukannya udah menikah, ya?”
Ekspresi Dina berubah seolah mendapat sorotan ilahi, “Ah, benar! Astaga, bagaimana kita bisa melupakan hal ini?”
“Astaga, guru itu bahkan tidak puas dengan istrinya, malah menginginkan muridnya. Begini saja, daripada sia-sia kita cuma tau soal ini. Mending kita pakai bukti ini sebagai senjata kita kalau Pak Erwin macam-macam.”
Mendengar itu, Dina langsung tersenyum sinis, “Ah, benar. Tidak terpikirkan olehku. Dengan begini dia pasti akan ketakutan setengah mati jika istrinya tau.”
Tepat setelah itu, bel kembali berdentang pertanda waktu istirahat telah usai. Kami segera berpamitan untuk kembali ke kelas kami masing-masing. Dalam perjalanan, aku kembali terpikirkan atas kejadian yang Dina ceritakan. Memikirkan Pak Erwin bisa berbuat seperti itu membuatku agak ngeri.
Dalam perjalanan kembali ke kelas, aku melihat Pak Erwin berdiri di hadapan seorang siswi yang sama dengan yang di foto. Jika dilihat sekilas, tampak seperti interaksi guru dan murid pada umumnya. Namun, setelah mengetahui apa yang terjadi di belakang, rasanya menjijikan. Aku memutuskan berjalan cepat ke kelasku, pura-pura tidak melihat.
*****
Erwin adalah seorang guru muda yang baru mengajar di SMA Negeri Dirgantara selama setahun. Selain diangkat menjadi guru, di tahun yang sama dia juga telah menikah dengan seorang wanita yang dulunya merupakan teman kuliahnya.
Kehidupannya sempurna sampai dia bertemu dengan seorang siswi di salah satu kelas yang ia ajar. Siswi yang sangat cerdas. Siswi itu bernama Karin. Selain itu, Karin juga tidak pernah mengacau di kelas. Sehingga gadis itu menjadi anak emas di kelas setiap kali Erwin mengajar.
Erwin kerap kali ditugaskan untuk mendampingi Karin setiap dia akan melaksanakan perlombaan di luar sekolah. Intensitas bertemu semakin sering dan mereka semakin dekat. Mereka bertukar pikiran, cerita, hingga perasaan. Sampai ke tahap yang tidak seharusnya mereka tiba.
“Pak, aku takut. Bagaimana kalau istri Bapak tau?” ucap Karin dengan suara sepelan mungkin dan sorot kekhawatiran jelas terukir di wajahnya.
Erwin membelai rambut panjang gadis itu sambil berkata, “Aku akan mengurusinya, kau tidak perlu khawatir. Begitu kau lulus, aku akan cari cara membawamu ke kehidupanku.”
Mendengar itu, Karin tersenyum simpul. Membayangkan kehidupannya kelak bersama Erwin.
Sedang enak-enaknya menikmati waktu bersama, Erwin tiba-tiba mendapatkan sebuah pesan dari salah seorang muridnya.
Dina.
Gadis itu mengirim sebuah foto dan pesan pendek di bawahnya.
“Pak, bisa datang sebentar ke halaman belakang sekolah pas pulang sekolah? Tenang, kita akan bicarakan ini baik-baik.”
Sebuah foto dilampirkan. Kedua pasang mata terbelalak dan dua jantung serasa akan lepas. Gambar itu adalah mereka sedang berciuman di toilet perempuan pagi ini.
Shiela Fiorencia Caroline
Alumnus SMKN 1 Sungailiat yang tinggal di Sungailiat, Kabupaten Bangka. Aktif menulis dan telah menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul “Tiga Menit Hening”.
