Stigma
Karya: Sheila Fiorencia Caroline
Sunyi namun berisik. Ketika kamu berada di tengah-tengah kesunyian, namun kepalamu dipenuhi banyak suara. Kamu sendirian, namun pikiranmu membuatmu merasa tidak sendirian. Suara-suara itu seolah mengendalikan pikiranmu.
Membuatmu melihat hal-hal yang hanya kamu sendiri yang lihat. Mengendalikan perilakumu menjadi suatu perilaku yang aneh, tidak pantas, menakutkan, dan ambigu sehingga orang-orang lain mempertanyakan kemanusiaanmu. Terkadang kamu mungkin terluka karena dirimu sendiri, jika menjadi semakin parah, kamu mungkin mati karena itu.
Sedari kecil, orang-orang memiliki pendapat berbeda tentangku. Beberapa menyebutku istimewa atau spesial. Beberapa yang lain menyebutku mengerikan dan mereka menyatakan bahwa mereka berfirasat bahwa aku mungkin melakukan sesuatu yang buruk di masa depan. Aku diperlakukan seperti objek, bukan sebagai manusia.
Saat aku masih kecil, aku memiliki teman khayalan bernama Benny. Dia adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun dan memiliki perawakan kaukasia. Kami selalu bermain bersama dan dia membuntutiku ke mana pun aku pergi.
Namun, dia sering menyuruhku melakukan banyak hal di luar nalar. Kejadian terburuk adalah ketika dia menyuruhku membunuh kucing peliharaan kami dengan melempar vas bunga kesayangan Ibu dari kamarku yang berada di lantai dua.
Setelah itu, dia menyuruhku membuka bagian dalam perutnya dengan sebuah cutter. Namun, sebelum aku bisa melakukannya, tiba-tiba aku mendengar suara histeris Ibuku dan kurasakan tanganku yang dicengkeram dengan kasar oleh Ayahku. Sorotan amarah terlihat jelas di mata mereka, namun di sisi lain aku juga melihat ketakutan terukir jelas dari ekspresi mereka.
Sejak kejadian itu, orang tuaku membawaku ke banyak orang pintar. Berharap aku bisa terlepas dari apapun yang mereka percaya ada dalam diriku. Aku ingat menangis, meraung-raung, dan mengamuk selama proses “penyembuhan” tersebut.
Tidak ada satupun dari pengobatan itu yang berhasil menolongku dan orang-orang di sekitar menjadi semakin terusik. Aku bisa merasakan pandangan ketakutan dari orang-orang. Mereka melihatku bagaikan parasit, namun entah mengapa mereka masih penasaran dengan mengintip lewat jendela setiap orang pintar itu datang ke rumah kami.
Keadaanku semakin memburuk. Benny telah lama menghilang, namun makhluk-makhluk lain bermunculan. Makhluk-makhluk yang lebih menyeramkan dan menurutku berbahaya. Orang tuaku frustasi, aku tak memiliki satupun teman, aku dikucilkan dari masyarakat, dan aku hampir gila. Tak ada satupun mereka para orang-orang pintar yang mampu membantuku, hanya seperti orang yang sedang unjuk bakat.
Begitulah masa kecilku yang hancur berantakan. Visiku berbeda dari kebanyakan orang-orang. Aku seolah melihat apa yang tidak bisa orang lihat. Tiada hari tanpa pemberontakanku. Aku berhenti keluar rumah, aku berhenti bermain, dan aku berhenti berbicara pada siapapun. Di sisi lain, orang tuaku ikut stres karena para tetangga menjauhi keluarga kami karena ketakutan. Aku adalah objeknya. Akulah yang disalahkan.
Hingga saat usiaku memasuki usia remaja, orang tuaku tiba-tiba memutuskan menenui seorang Kyai. Berbeda dari orang-orang sebelumnya yang memamerkan macam-macan ilmunya.
Dia memberi visi yang berbeda. Aku ingat dia datang sambil tersenyum lega saat melihatku. Beliau berkata bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kyai tersebut justru menyarankan agar aku diobati secara medis. Untuk mencoba menemui seorang profesional.
Awalnya orang tuaku menolak. Walaupun memiliki banyak uang, namun pemikirannya jalan di tempat. Namun, karena desakan dari beberapa orang ditambah keadaanku yang tak kunjung membaik, akhirnya mereka luluh juga. Aku akhirnya dibawa menemui seorang psikiater di sebuah rumah sakit jiwa.
Sejak saat itulah, aku mulai merasa ditangani oleh tangan yang tepat. Aku didiagnosa menderita Skizofrenia. Karena keadaanku sudah terlalu parah, aku diharuskan untuk direhabilitasi. Awalnya kedua orang tuaku tidak setuju, namun mereka tidak punya pilihan lain, sehingga mau tidak mau orang tuaku menyetujuinya.
Stigma masyarakat akan penyakit mental masih sangat tinggi. Ketika kau hanya butuh perawatan profesional, justru dikait-kaitkan dengan hal mistis. Sehingga bukannya membaik, justru kondisi penderitanya semakin memburuk.
