Dalam kasusku, aku melihat banyak hal menakutkan yang menbuatku sering merasa ketakutan dan terancam, aku juga sering mendengar suara-suara yang memerintahkanku melakukan sesuatu di luar kehendakku. Aku hampir mati berkali-kali karena keadaan itu.

Saat aku direhabilitasi, perawatan yang kudapatkan tidak semenyeramkan seperti yang ditunjukan di film-film. Justru, itu adalah proses yang penuh makna, setiap langkahku dituntun. Memang aku menerima beberapa obat-obatan yang harus diminum rutin, namun aku juga belajar hal-hal lain untuk menstimulasi otak agar tidak fokus kepada penyebab skizofrenia.

Bukannya aku tidak pernah mengamuk, tapi aku akan dibiarkan merenungkan perbuatanku dan aku biasanya dibantu untuk mencari akar masalah yang menjadi pokok utama dari kehancuran mentalku.

Selama rehabilitasi, terkadang aku merasa kesepian. Orang tuaku tidak pernah mengunjungiku dan aku selalu tidak punya teman. Kehidupanku sejak awal tidaklah mulus, bisa dibilang hancur. Aku sebenarnya tidak memiliki keinginan untuk hidup saat itu. Sampai aku bertemu seseorang.

Baca Juga  Seteru

Dia adalah perawat yang sering bertugas merawatku. Dialah teman pertamaku. Teman manusia sungguhan, bukan figur imajinasi. Seluruh hal yang kurasakan sebelumnya hilang seketika. Dia menjadi bagian yang lekat bagiku.

Aku direhabilitasi sekitar 6 bulan. Waktu yang sangat lama. Kedua orang tuaku bersikap biasa atas kepulanganku, tak ada kesedihan ataupun kesenangan.

Aku tidak terlalu peduli akan hal itu. Namun, ujianku ternyata tak selesai sampai di sana. Saat keluar dari rumah sakit jiwa, ternyata aku masih harus menghadapi penilaian orang lain. Mereka menganggapku orang gila, remaja tanpa masa depan dan memperihatinkan. Untuk pertama kalinya aku muak, aku tidak lagi mempedulikan itu.

Hubunganku dengan orang tuaku justru mendingin. Setelah semua yang terjadi, mereka kehilangan perasaan mereka padaku. Aku pergi dari rumah di usia 17 tahun. Aku pergi ke rumah perawat yang dulu telah banyak membantuku.

Baca Juga  Aik Nyet

Aku masih berhubungan dengan perawat yang merawatku. Kami sangat dekat dan berhubungan sangat baik dari waktu ke waktu. Dia banyak membantuku. Dia juga yang mengajarkanku untuk tidak peduli atas orang-orang yang menjatuhkanku. Hatinya sangat lembut dan pandangannya luas.

Dia hanya wanita paruh baya dengan seorang anak yang masih berusia balita. Dia telah bercerai dari suaminya karena satu hal yang tidak bisa ia ungkapkan. Untuk itulah, dia membiarkanku tinggal bersamanya sementara waktu. Aku juga akan membantunya menjaga anaknya ketika dia bekerja, jadi aku tidak terlalu merasa tidak enak.

Untuk pertama kalinya, aku merasa tenang. Aku seperti dilahirkan kembali menjadi seseorang yang baru.

Aku mendapatkan pekerjaan pertamaku sebagai pengrajin tanah liat. Gajinya tidak seberapa, namun cukup untukku bisa menabung dan melanjutkan pendidikanku yang tertinggal.

Aku mengambil beberapa paket susulan untukku yang bahkan tidak pernah masuk SMP. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Semakin lama aku tertarik dalam dunia perdagangan. Aku mulai mempelajari bisnis lewat buku-buku yang kubeli dari hasil kerja kerasku.

Baca Juga  Saat Malam, Doa-Doa Melaju dengan Tak Tahu Malu

Kini, aku sudah berhasil membuat usaha kecil-kecilan. Belum terlalu besar, tapi aku yakin usahaku akan berkembang seiring berjalannya waktu. Aku membuktikan pada banyak orang, terlepas dari masa laluku. Masa depanku masih ada dan terjamin.

Aku telah memaafkan semua orang yang telah melukai batinku, termasuk kedua orang tuaku, dan aku tidak akan melupakan orang-orang yang telah menyelamatkanku. Sang kyai dan ibu perawat. Kuharap kisahku bisa melawan stigma masyarakat atas orang-orang yang memiliki penyakit mental. Mereka hanya perlu dibantu, bukan dijauhi apalagi dimusuhi.

Sheila Fiorencia Caroline, alumnus SMKN 1 Sungaliat, hobi membaca dan menulis. Gadis ini telah menerbitkan buku cerpen berjudul “Tiga Menit Hening”.