Nasihat Mulia sang Guru
“Iya, Pak,” sahut singkat Damar.
“Nak, kamu tadi dari mana? Kenapa telat? Kamu mau bolos, ya?” tanya guru wali kelasnya.
“Tidak, Pak, saya tidak bolos,” ucap Damar membela dirinya, berbohong.
“Jujur saja, Nak, jangan bohong. Jika kamu mau bicara di sini, ayo ikutlah ke ruangan Bapak sekarang,” sahut wali kelasnya.
Damar pun kemudian langsung dibawa ke ruang guru untuk dilakukan BK (bimbingan konseling) oleh wali kelasnya sekaligus guru matematika Damar. Mereka pun bicara berdua.
“Damar anakku, kenapa kamu datang nya terlambat? Emangnya kamu dari mana tadi?” tanya Pak Guru dengan lemah lembut.
“Ee … itu, Pak, saya tadi bolos ke belakang kelas karena tidak ingin belajar matematika yang super rumit, Pak,” jawab Damar dengan gugup. Dia berkata jujur kepada wali kelasnya itu.
“Ya Allah, Bak … kamu itu tetap aja ya, tidak ada perubahan sama sekali, sukanya bolos aja. Apa mau dipanggilkan orang tua aja! Ada laporan dari beberapa guru, kamu lagi, kamu lagi. Sampai bingung Bapak menghadapinya. Kira-kira kamu malu gak berbuat hal yang sama?” ujar Pak Hendra, nama wali kelasnya.
Dengan terkejut ia sontak menjawab.
“Eh, jangan Pak, jangann bilangin orang tua saya, ya,” ucap Damar memohon kepada wali kelasnya itu.
Melihat wali kelasnya itu meneteskan air mata, Damar takut dan merasa bersalah karena kelakuannya selama ini. Damar takingin berulah terus mengulangi perbuatan salahnya berkali-kali. Sampai akhirnya dia meminta maaf kepada Pak Hendra wali kelasnya.
“Aku minta maaf, Pak, karena sudah sering membuat jengkel Bapak. Aku menyesal dan janji tidak akan mengulangi lagi,” ucap Damar lagi kepada sang gurunya itu berjanji dengan serius.
Sambil menundukkan kepalanya, Damar introspeksi tentang kelakuannya selama ini. Dia minta maaf dengan tulus.
“Ya, sudah, Bapak maafkan, janji, ya, kamu bisa jadi anak yang baik, anak yang saleh, Bapak tidak ingin melihatmu membolos terus. Berubahlah dari sekarang, jadilah yang terbaik. Jika kamu gak berubah, kamu akan menyesal, Nak. Jadi, ayo berubah. Bapak akan selalu membimbingmu juga ada bersamamu karena Bapak sayang kamu, Nak,” ucap sang wali kelasnya kepada Damar dengan raut sedih seorang Bapak.
“Iya, Pak, janji mulai sekarang, aku akan berubah untuk jadi lebih baik lagi karena aku juga sayang Bapak,” sahut Damar yang ingin berubah
Pak Hendra tersenyum dan mengelus kepala Damar, muridnya itu, kemudian mereka tersenyum berdua sambil dia memeluk Bapak Wali Kelasnya yang baik hati itu.
Keesokan harinya, juga hari hari berikutnya seiring berjalannya waktu dengan cepat Damar mengubah image semua orang, dia yang dulu Badung menjadi Damar yang berprestasi
Simpang Rimba, 03 Agustus 2024
