Keteladanan Membaca dan Menulis
Ketika maju untuk periode kedua sebagai Bupati Bangka, ia membuat tulisan yang kemudian sekaligus merupakan visi dasar dalam membangun Kabupaten Bangka. Judul buku itu “Gerbang Meraih Permata”.
Sebelumnya kami yang terdiri dari saya, Albana, Tajudin, Tarmizi Saat, dan Rustian Al Ansori menggarap buku yang merupakan semacam kilas balik kepemimpinan Eko dan perubahan-perubahan yang telah dilakukannya di periode pertama tugasnya sebagai Bupati Bangka. Judul buku sederhana itu adalah “Mengayuh Sampan Menuju Dermaga Harapan”. Buku ini diterbitkan pada September 2022.
Buku-buku agak serius juga pernah diterbitkan. Tiga buku berasal dari bahan-bahan disertasinya tentang kepemimpinan yaitu pertama buku “Kepemimpinan Integratif Dalam Konteks Good Governance”, kedua buku “Kepemimpinan Transformasional dalam Birokrasi Pemerintahan” dan ketiga “Kepemimpinan Integratif berbasis ESQ”. Dua buku di atas bahkan sempat dijual di toko buku Gramedia dan menjadi referensi dalam penelitian tentang kepemimpinan.
Ada pula buku tentang puisi yang diterbitkan. Salah satunya adalah buku yang berasal dari sejumlah karya para pelajar SMP dan SMA Kabupaten Bangka yang diseleksi dari ratusan puisi yang diikutkan dalam lomba cipta dan baca puisi. Buku itu diterbitkan dalam rangka ulang tahun Eko ke-55 tahun 2006. Judulnya “Kumpulan Puisi Anak Bangka, Sewindu Bapak di Sini”.
Dua buah buku puisi lainnya adalah “Antologi Puisi Penyair Bangka Belitung Lintas Generasi” yang merupakan kumpulan puisi dari penyair Babel yang sangat beragam latar belakangnya mulai dari pelajar sekolah dasar sampai pejuang juga menyumbangkan puisinya. Bertindak sebagai editor buku ini adalah penyair asal Belinyu yang kemudian menetap di Yogyakarta, Sunlie Thomas Alexander.
Sebuah buku lainnya yang diluncurkan pada September 2009 adalah kumpulan puisi Eko “Balada Pemulung Tua”. Judul buku yang diambil dari judul puisi yang ada di dalamnya. Puisi ini sempat menarik perhatian seorang pemerhati puisi yang juga wartawan di Sungailiat, Heru Sudrajat sampai ia berkomentar bahwa itu puisi yang rada aneh karena cerita pemulung kok ditulis seorang gubernur. “Apakah itu bentuk otokritiknya pak Eko ya?” katanya ketika membaca puisi itu.
Sebuah buku tulisan Eko yang cukup mengundang perhatian adalah buku berjudul “Gurindam Abad 21” sub judul ‘Berkelana di Padang Fana’ yang berisi sejumlah buah pemikiran dan perenungan Eko terhadap hidup dan kehidupan dengan sisi pandang agama. Buku ini sempat dicetak ulang beberapa kali karena banyaknya permintaan.
“Penulis pun tidak tahu jenis atau alirannya: apakah karya puisi atau prosa. Pikiran yang bebas menembus ruang itulah yang melahirkan suatu karya sastra yang bernuansa agama, sebagaimana pembaca dapat ikuti pada lembaran-lembaran berikut,” demikian tulis Eko pada sekapur sirih buku tersebut.
Sebagai seorang pemimpin Eko Maulana Ali telah pergi menghadap penciptanya 30 Juli 2013 silam. Tetapi kenangan akan dirinya dan apa yang telah diperbuatnya seakan abadi bagi masyarakat Kepulauan Bangka Belitung.
Beberapa bagian hasil buah karyanya masih kita rasakan sampai saat ini. Apakah pemimpin berikutnya akan pula memberikan warisan berharga serupa atau justru meninggalkan tumpukan utang dan beban baru bagi masyarakat? Kita kembalikan ke khalayak ramai untuk menilainya.
Membaca dan menulis buku adalah salah satu kebiasaan baik yang telah dicontohkan oleh Eko Maulana Ali sebagai bagian dari slogan dalam Bahasa Latin yang berbunyi: Verba Volunt Scripta Manent. Lisan akan Hilang Sementara Tulisan akan tetap Kekal. Ia tak hanya mengumbar kata lewat pidato dan janji tentang literasi. Ia telah menjadi teladan untuk itu. Apakah pemimpin-pemimpin kita selanjutnya akan begitu? Entahlah.
Salam Takzim
Yan Megawandi, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung.
