Yakinlah, Tak Selamanya Kau Jadi Pemulung
“Nak, Nak, bangun, Nak!” ucap pria tua itu membangunkan Dinda.
“Kenapa aku tertidur di sini? Bukankah tadi diriku sedang bercerita di pangkuan ibuku, lalu sekarang kemana ibuku?” gumam Dinda. Dia merasa kebingungan sambil menoleh kanan kiri, melihat sang ibundanya itu.
“Nak, mengapa kau tertidur di sini?” tanya pria tua itu kepada Dinda.
“Tadi aku tidak tidur Pak, aku sedang bercerita di pangkuan ibuku,” jelas Dinda.
“Owh, ya, sudah, kalo begitu Bapak pergi dulu ya, ini ada sedikit rezeki untukmu, dan mungkin cukup untuk membeli makanmu,” ucap pria tua itu lagi berpamitan.
“Masyaallah, terima kasih pak!” ujar Dinda kepada pria tua itu.
“Sama-sama, Nak,” jawab singkat pria tua itu lalu segera meninggalkan Dinda sendirian.
Setelah bapak tua itu pergi, Dinda mulai melanjutkan pergi memulung sampah di tengah kota besar yang super ramai, dan dengan penuh kesabaran berbagai cobaan rintangan ia hadapi dengan senyuman, meski beratnya cobaan itu.
Hari-hari telah dilaluinya dan terus selalu berbagi waktu antara sekolah juga bekerja memulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia gigih dalam belajarnya yang pantang menyerah meski dihina banyak orang.
Tak terasa, setahun berlalu begitu cepat. Siapa sangka, karena kecerdasan dan kegigihannya dalam belajar, Dinda berhasil menghantarkannya diterima kulian di Universitas Gajah Nada jurusan kedokteran, sesuai impian almarhum Ayah Ibu jala itu. Dengan linangan air mata, Dinda berlari lalu bersujud di hadapan makan kedua orang tuanya. Dia bercerita sekarang telah berhasil kuliah sesuai jurusan impian orang tuanya itu. Dinda sangat bersyukur sekali atas yang sudah diberikan kepadanya.
“Terima kasih, ya Allah, terima kasih banyak,” ucap Dinda sambil bersujud di hadapan Allah SWT. Dinda memegang makam kedua orang tuanya itu.
“Ibu, Ayah, lihatlah putrimu ini, diriku telah berhasil diterima kuliah di UGM jurusan kedokteran sesuai keinginan kalian. Andai kalian masih ada, pasti kalian bangga kepadaku,dan aku pula telah tumbuh dewasa menjadi anak yang mandiri penuh perjuangan. Andai pula roda ini bisa diputar kembali, ingin sekali kumenukar nyawaku dengan kalian, tetapi takbisa. Ibu, Ayah, akan kubuktikan, aku bisa sukses. Aku akan membuat kalian tersenyum bangga di surga Allah SWT sana,” ucap Dinda kembali di makam kedua orang tuanya itu sembari meneteskan air mata.
Waktu terus berjalan dengan cepat, detik demi detik, hari demi hari. 10 tahun kemudian, Dinda sudah benar-benar sukses di masa depan, sukses mewujudkan semua impian kedua orang tuanya itu, bahkan orang -orang di kotanya itu tidak percaya bahwa anak pemulung compang camping dengan keterbatasan, kini berhasil sukses di masa depan dan sangat menyesali semua perbuatan mereka karena mereka selama ini sudah selalu merendahkan dirinya dan mencaci makinya hingga terus keluar air mata Dinda.
Dalam kesuksesanya itu pula Dinda tidak pernah membiarkan anak yatim piatu terbengkalai hidup di jalanan sepertinya dahulu, bahkan dia selalu membantu orang -orang kesusahan yang membutuhkan bantuan dirinya. Tidak hanya itu, Dinda juga setiap harinya selalu memberikan bansos kepada orang -orang yang membutuhkan, baik yang masih muda maupun tua. Beberapa anak yatim piatu seperti dirinya, dibawa pulang untuk tinggal di rumah miliknya, dibiayai seluruh kebutuhan hidup, hingga sukses yang memiliki masa depan cerah seperti anak lainya.
Dari cerita ini mengajarkan kita bahwa kehidupan itu ibarat tiada gelombang yang indah tanpa menerjang karang. Banyak orang mendambakan hidup aman, damai, tenteram, bahagia dan sejahtera. Dan untuk meraih sesuatu yang kita harapkan, kita harus terus berjuang untuk meraih apa yang kita inginkan dan bahwa kita harus juga mengingat roda kehidupan itu juga berputar juga prestasi bisa diraih tanpa memandang status, asalkan mau belajar dan berdoa, kita bisa dan jangan pernah menghina suatu pekerjaan orang selagi pekerjaan itu halal.
Simpang Rimba, 5 Oktober 2024.
