Oleh: Dwi Meyqasari, S.Pd

Memasuki era revolusi industri 5.0, di mana teknologi cangggih menjadi pusat pendorong sistem perubahan yang jauh lebih efektif, efisien, fleksibel dan berkelanjutan. Menjadikan kita, mau tidak mau harus menerima perubahan yang ada.

Keberadaan teknologi canggih seperti AI, komputerisasi ataupun tekhnologi robot yang menggantikan fungsi keahlian manusia, membuat kita sebagai individu harus melek dan berdamai dengan perkembangan yang ikut serta membentuk Society 5.0. Tidak terkecuali dengan kondisi perkembangan akibat perubahan di lingkungan pendidikan sekarang.

Banyak negara maju sudah mahir dalam penggunaan teknologi untuk pendidikan. Terlebih di era Society 5.0 seseorang diwajibkan memiliki tiga kemampuan utama sebagai keterampilan hidup yang harus dimiliki untuk hidup; mampu memecahkan masalah, berpikir kritis, dan mahir dalam penggunaan tekhnologi.

Apalagi ketika pendidikan memberikan peranan pentingnya sebagai aktor penggerak perubahan. Sehingga lembaga pendidikan harus ikut andil dalam penyebaran pemanfaatan teknologi yang baik, positif dan bermanfaat secara menyeluruh di segala kalangan. Sebab perubahan dalam bidang tekhnologi ini jika ditelurusi lebih mendalam memiliki pola yang linier.

Baca Juga  Nokia Kembangkan Produk Terbaru Nokia G42 Hadir Suasana Nostalgia

Seperti pemahaman Aguste Comte (2016), Bapak Sosiologi Dunia yang menyatakan bahwa kemajuan progresif peradaban manusia mengikuti suatu jalan yang alami, pasti, sama, dan tidak terelakan. Sehingga perubahan yang berubah selalu mengarah ke kemajuan.

Sama halnya dengan perkembangan teknologi yang terjadi saat ini. Dalam dunia pendidikan di mana sudah seharusnya perubahan dimanfaatkan untuk kemajuan. Terlebih sebagai sarana dan prasaran penunjang serta media ajar dalam layanan pendidikan

Pada era society 5.0 terdapat istilah baru terkait dengan para anak-anak usia sekolah yang lahir setelah tahun 2010. Mereka dikenal dengan Generasi Alpha. Generasi Alpha memiliki karakteristik kelompok yang bukan lagi hanya mampu beradaptasi terhadap penggunaaan dan pemanfaatan teknologi untuk kehidupan.

Tetapi telah terbiasa dengan penggunaan teknologi. Karena sejak lahir generasi Alpha ini telah dibiasakan dengan pemanfaatan teknologi yang meyeluruh untuk kehidupannya. Generasi Alpha tumbuh di lingkungan yang mana internet sudah menjadi norma dan telah memiliki penggunaan akses tekhnologi terutama smarphone sejak dini.

Baca Juga  Teknologi Kapal Bor Geo Bonanza, Sampel Presisi dengan Recovery 100 Persen

Perkembangan fase menuju generasi Alpha ini didukung dengan adanya  perkembangan tekhnologi smartphone serta keberadaan internet yang menembus semua lapisan dan tempat, termasuk di Indonesia. Peningkatan dalam jumlah penggunaan smarphone di Indonesia yang sangat pesat.

Angka kenaikan setiap tahunnya yang terus meningkat menjadi penyebab tumbuh suburnya perubahan yang diakibat oleh perkembangan smarphone tersebut. Seperti,  berdampak terhadap pola hidupnya. Tidak terkecuali dengan generasi Alpha usia sekolah dimana dalam kondisi perkembangannya mereka belum mampu memberikan filterisasi antara memanfaatkan atau dimanfaatkan teknologi dengan benar.

Keberadaan penggunaan teknologi era Society 5.0 sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan dampak yang positif bagi penggunanya. Misalkan dengan keberadaan IA dan keberadaan komputerisasi dikalangan generasi Alpha usia sekolah sangat membantu dalam memudahkan pencarian sumber belajar dan pengganti alat media belajar yang lebih efisen dibanding era sebelumnya.

Baca Juga  Teknologi dan Interaksi Sosial: Jurang atau Jembatan bagi Mahasiswa Introvert dan Ekstrovert?

Proses pembelajaran akan bisa berjalan lebih efektif jika keberadaan teknologi dimanfaatkan secara benar dan bijak. Pembelajaran akan jauh lebih menarik dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik yang rata-rata berasal dari generasi Alpha. Sebab mereka cenderung telah terbiasa dengan  dasar penggunaan teknologi dalam kehidupannya. Namun semua ini, tidak akan dapat berfungsi secara optimal tanpa dukungan kecerdasan manusia dalam memberikan perintah yang tepat terhadap teknologi yang digunakannya tersebut.

Terlebih ketika kita mengingat kembali dampak negatif yang jauh mudah merasuki diri generasi Alpha yang tidak mendapatkan kontrol sosial dari lingkungan keluarga ataupun pertemanannya. Sebelum mereka menempuh pendidikan di sekolah, tontonan, permainan online, ataupun hiburan tanpa filterisasi ini akan sangat fatal jika dibiarkan terus menerus merasuki para peserta didik yang berasal dari genarasi Alpha.