Kesehatan mental dan  kesehatan fisik akan terganggu. Perilaku kenakalan remaja, baik yang menjadi korban atau pelaku cyberbullying, dan cyber crime akan semakin menjamur. Ataupun bahkan tindakan tanpa ataupun disengaja lainnya. Sungguh sangat menakutkan, jika momok dari dampak negatif perkembangan teknologi terus dibiarkan tanpa kontrol dari lingkungan masyarakatnya terutama lembaha pendidikan Oleh sebab itu, lembaga pendidikan harus sangat bersabar dan menguatan diri untuk memberi tindakan pencegahan dampak negatif perubahan teknologi pada anak usia sekolah yang berasal dari Generasi Alpha ini.

Layanan pendidikan sangat berpengaruh baik untuk menangkal dampak negatif perubahan teknologi bagi generasi Alpha terutama bagi mereka yang ada di tingkat menengah atas. Sebagai generasi digital nama lain dari generasi Alpha,  yang memiliki koneksi yang kuat terhadap penggunaan internet, menjadikan pola belajar melalui teknologi akan lebih mudah diterimanya dibanding pembelajaran yang konvensional.

Dengan memperhatikan profil peserta didik yang berasal dari kelompok generasi Alpha ini haruslah berimbang dengan layanan pendidikan yang diberikan dalam prosesnya. Pola layanan pendidikan yang berikan kepada Generasi Alpha haruslah disertai dengan kesabaran yang tinggi dan growth mindset atas perubahan tatanan yang ada.

Baca Juga  Upaya Konservasi Orang Utan Kalimantan dalam Menghadapi Ancaman Deforestasi dan Konversi Lahan Sawit

Sebab Generasi Alpha ini dikenal sebagai generasi Stroberi yang memiliki jati diri yang lebih rapuh dibanding generasi sebelumnya. Sehingga tindakan kekerasan yang mendidik untuk mendisplinkan kondisi kecanduan smarphone generasi Alpha tidak akan bisa dipakai lagi bukan hanya terkendala dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.  Tetapi juga dengan kondisi generasi Alpha semakin Stroberi.

Apalagi ketika ditambah dengan peningkatan angka kecanduan smarphone di Indonesia yang kini menduduki peringkat pertama di dunia. Berdasarkan data (cnnindonesia.com) dalam laporan State of Mobile 2024 yang dirilis Data.AI, warga Indonesia menghabiskan waktu dengan perangkat mobile seperti HP dan tablet pada 2023 mencapai rata-rata 6,05 jam per harinya.

Tidak terkecuali dengan generasi Alpha. Mereka menjadi pengguna internet terbesar dengan estimasi durasi sembilan jam per hari. Sehingga dengan adanya perubahan dan kondisi tersebut menjadikan guru sebagai pemberi layanan pendidikan harus mampu menyesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang.

Kecanduan terhadap smartphone untuk penggunakan suatu aktifitas yang tidak berfaedah di kalangan peserta didik generasi Alpha membuat para guru harus bergerak dengan ide kekinian.  Demi terwujudnya kesadaran para peserta didik dalam memfilter budaya negatif yang ada dari dampak negatif akibat kecanduan smarphone. Oleh karena itu, layanan pendidikan harus bisa mengembalikan peranannya sebagai agen kontrol sosial peserta didik generasi Alpha tersebut.

Baca Juga  Penerapan Metode STEAM dalam Proses Pembelajaran

Oleh karena itu diperlukan solusi untuk mengatasi semua ini. Hal tersebut akan semakin memperparah keadaan masa depan peserta didik jika para guru tidak mampu mensiasatinya. Guru harus semakin lincah dalam mengupgrate dirinya termasuk dalam memahami keterampilan penggunaaan teknologi kekinian agar bisa menyesuaikan dengan kondisi para generasi Alpha.

Hal ini diupayakan agar bisa menjadi alternatif solusi untuk memanfaatkan teknologi sebagai media penyampaian pembelajaran yang efektif pada para peserta didik. Oleh sebab itu guru perlu membuat inovasi pembelajaran terbaru, dengan tetap memperhatikan esensial dari isi pembelajaran bermakna yang ingin disampaikan kepada para peserta didik.

Baik dengan penggunaan berbasis media pembelajaran sederhana ataupun berbasis digital. Guna menyeimbangan keterampilan peserta didik terutama untuk beradaptasi dengan lingkungan dan keterampilan dalam penggunanaan teknologi kedepannya.

Baca Juga  Platform Pesan Milik WhatsApp Luncurkan Pintasan Baru di IOS

Meskipun terkadang konten dalam pemanfaatkan tekhnologi digital untuk layanan pendidikan tidak mampu memberi arti yang bermakna untuk penyerapan keilmuan itu sendiri.

Namun para guru wajib terus belajar memahami perkembangan teknologi. Demi memperhatikan pemanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran yang juga harus melihat latar belakang keberagaman dari profil para peserta didik. Baik untuk anak di kelas umum atau pun untuk anak anak yang memiliki kekhususan dan keberagaman dari latar belakang budaya, ras serta suku yang melekat pada peserta didik generasi Alpha.

Sehingga dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi yang mengerahkan peserta didik. Terutama konsisten memanfaatkan bukan dimanfaatkan teknologi tersebut akan memberi progress yang baik bagi perkembangan dan masa depan peserta didik. Guna mewujudkan lingkungan belajar yang efektif, interaktif, berdiferensiasi dan mampu menguatkan karakter Pelajar Pancasila serta memberikan keterampilan abad 21  bagi para peserta didik generas Alpha.

Dwi Meyqasari, S.Pd, Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Lepar Pongok