Karya: Hikmah Tul Aulia

Sabtu sore. Dengan raga, jiwa, dan rasa yang masih sama, saya disana. Awal mula dari rasa yang takkan sirna. Bait pertama awalan terpikatnya saya pada tuan pemilik senyum menawan. Lucu bila dikenang. Maka izinkan saya untuk sedikit bercerita tentang si manusia menawan.

Bait pertama awal cerita di kala masa perekrutan anggota baru ekstrakurikuler PMR di sekolah menengah atas. Tertarik untuk mendaftar dengan alasan kemanusiaan. Pencitraan. Padahal saat itu hanya karena kewajiban pemenuhan minimal ekstrakurikuler disekolah.

Dengan kemeja putih berpadukan bawahan hitam tak lupa slayer kuning menggantung di leher. Bersiap untuk wawancara di sekolah. Sedikit tergesa-gesa akibat motor ayah yang tiba-tiba susah menyala. Setibanya di sana, ku isi daftar hadir kemudian mencari tempat duduk yang sudah disediakan.

Pembukaan dimulai, sambutan-sambutan bergiliran di lontarkan, pengarahan juga dipaparkan. Asik bercerita dengan teman, atensi ku tiba-tiba teralihkan kepada seseorang yang sedang berbicara di depan. Tampan. Satu kata yang terlintas begitu saja di benakku.

“Siapa dia?” tanyaku kepada teman di sebelah.

“Astaga, kamu dari tadi tidak menyimak ya, malah asik bercerita,” ungkap Dita. Dengan wajah kesal. Hanya kubalas dengan cengiran tak bersalah.

“Dia ketua PMR. Kak Deangga Byakta, kelas sebelas mipa dua,” lanjut Dita kemudian.

Andai saat itu aku tak bertanya. Andai saat itu aku tak melihatnya, kemudian jatuh ke dalam pesonanya. Namun satu yang pasti, sejak itu aku sudah punya alasan yang jelas untuk mendaftar estrakulikuler palang merah remaja.

Baca Juga  Syukur untuk Babel, Jangan Salah Uruslah

***

Deangga, kamu indah sekali ternyata. Pertemuan pertama anggota baru eskul PMR di sekolah. Lagi-lagi saya terpesona walau tanpa kata. Berbisik dalam hati. Tuhan, manusia seperti dia apa boleh untuk saya?

“Oke teman teman, kita bakal ngadain game. Jadi di tangan kakak sudah ada bola, bola ini akan terus di oper sampai musik habis. Dan di tangan siapapun bola itu berhenti, wajib maju ke depan memperkenalkan diri, serta motivasi. Gimana setuju ga?” suara kakak di depan sana mengintrupsi, dijawab dengan sorakan setuju dari anggota baru.

Musik mulai dimainkan. Bola terus bergerak dari tangan-tangan yang enggan. Sialnya, teman di sebalah menyerahkan dengan cepat bola itu ke tanganku ketika musik berhenti.

“Dit, apaansi gak mau aku,” ucapku kesal.

“Udah lah Nay plis bantu, kan kamu tahu aku ni pemalu hehe,” jawabnya begitu saja. Ingin kembali melayangkan protesan, suara MC mengintrupsi.

“Nah, di sana yang rambutnya di kepang ayo maju,” ucap Kak Widya selaku moderator menunjuk ku.

“Matilah aku,” dengan perasaan sedikit gemetar, kulangkahkan kaki depan. Malu yang kurasa sebenarnya tak seberapa. Hanya saja di sana, tak sengaja tertangkap oleh netra si pemilik senyum menawan.

“Nah, oke sekarang kamu boleh memperkenalkan diri serta motivasi, terus kalau ada juga boleh kasih tau kakak PMR terfavorit, oke,” ucap kak Widya. Jangan tanya keadaan ku saat itu. Sedikit gemetar yang berusaha kusembunyikan. Kupegang mikrofon itu.

Baca Juga  Bunga Putih

“Halo, perkenalkan nama saya Nayaka Delia. Untuk motivasi saya kenapa join PMR, karena saya baru saja menemukan cara untuk menjadi manusia yang bisa berguna bagi manusia lainnya dengan bergabung ke PMR.”

“Wah bagus sekali ya motivasi nya. Nah, kemudian kalo kakak favorit di PMR siapa?” tanya kak Widya lagi.

“Kak Deangga Byakta,” ucapku tentunya dalam hati. Hei, saya tak seberani itu itu untuk mengatakan kebenarannya. Apa lagi sang empu berada di sini, “Kak Widya dong,” bohong ku.

***

Pada waktu yang berbeda namun dengan rasa yang masih sama. Perpustakaan tempat peralihan ternyaman. Mengambil buku dengan asal, duduk di pojok ruangan yang jarang disinggahi orang. Mengambil posisi ternyaman, kepala sudah kubaringkan di atas buku. Namun tepat di depan sana, siapa sangka. Deangga si manusia menawan, rupanya tengah berkutat pada tumpukan buku, tak lupa kacamata baca yang bertengger di hidungnya.

Deangga, memandangimu dari kejauhan menjadi kegiatan terfavoritku entah sejak kapan. Di perpustakaan yang membosankan ini, engkau menjadi satu satunya objek menyenangkan. Bahkan, suara gesekan lembar-lembar yang ditimbulkan oleh tangan yang ingin sekali kugengam, menjadi irama paling syahdu untuk didengarkan.

Tuhan, engkau memang seniman paling mengagumkan. Maka, setidaknya izinkan saya hidup lebih lama serta tumbuh dengan rasa yang kudekap dalam diam. Jika boleh sedikit melunjak, untuk mahakaryamu yang satu itu. Mohon persatukan benang merah di antara kami, Tuhan.

Baca Juga  Gemah Ripah Loh Jinawi

***

Tepat pukul 12 siang, bel istirahat berbunyi. saya dan Dita melangkahkan kaki menuju kantin, melintasi koridor sekolah yang ramai seperti biasa. Dari arah berlawan, terlihat Deangga berjalan ke arah kami. Tidak salah lagi, ia memang mengarah ke kami.

“Nayaka Delia ya?” tanyanya setelah tepat berada di depan kami. Ah, terasa menggelitik ketika mengingat ini adalah dialog pertama di antara kami.

“Iya kak, dengan saya?” jawabku kemudian. Mengabaikan debaran dahsyat di dalam sana.

“Kita bakal ngadain rapat untuk anak PMR, jadi setelah istirahat kamu langsung ke ruang pertemuan ya,” ucap Kak Deangga sambil membolak balikkan kertas yang Ia bawa, “Oh iya, Dita juga nanti ke sana ya,” lanjutnya kemudian. Sedikit heran sebenarnya, saat panggilan yang ia ucapkan untuk Dita terdengar lebih akrab?

“Nay, kamu naksir kak Angga ya?” tanya Dita tiba-tiba. Tak lupa cengiran menyebalkan yang ia sertakan.

“Dih apaan sih, engga ya,” jawabku cepat.

“Halah, ga usah ngelak gitu, orang udah kelihatan kok dari awal hahaha,” balasnya lagi dengan nada mengejek. Aku pun berlalu berusaha mengelak dengan pipi yang terasa panas, jangan sampai Dita melihat. Sejak saat tiada hari yang terlewat tanpa godaan dari Dita.

***