Rinai hujan menemani di kala sepi. Teringat senyum yang kau lemparkan ketika mata kita tak sengaja bersinggungan. Andai kautahu, lengkungan yang kauciptakan walau hanya seperkian detik itu, kini terbayang entah sampai kapan. Padahal kau hanya menunjukkan sikap ramah bukan? harusnya saya bertingkah biasa saja, bukan malah terbuai rasa.

“Pulang sama saya mau?” entah mimpi apa Naya semalam. Niat hati berteduh di bawah halte sembari menunggu jemputan ayah. Kak Deangga malah datang menawarkan tumpangan yang mustahil kutolak. Kulihat kembali room chat ku dengan ayah yang tak kunjung mendapat balasan.

“Emang ga ada yang bakal marah?” tanyaku kemudian.

“Siapa yang bakal marah emangnya? Lagi pula ini tengah mendung, bentar lagi juga pasti turun hujan. Kalau ga mau sih ga papa,” kata kak Deangga yang masih setia berada di atas motornya.

“Ya udah deh, boleh,” ucap ku tanpa pikir panjang. Hei, kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali bukan?

Tepat beberapa saat setelah melajukan sepeda motornya, rintik hujan mulai berjatuhan namun masih berupa gerimis tak berarti. Tak pernah kusangka, berboncengan dengan Deangga saat pulang sekolah, yang merupakan harap kecil yang senantiasa kuselipkan di antara percakapanku dengan Tuhan, kini telah terkabulkan.

Baca Juga  Dibunyek Antu

“Nay, rumah mu di mana?” tanya Kak Deangga membuka awalan percakapan.

“Di perumahan gema kak.”

“Oh berarti deket rumah Dita dong.”

“Eh iya kak. Kakak sepertinya cukup akrab yah sama Dita,” ucap kumemastikan.

“Oh dia ga pernah cerita ya?” Deangga malah balik bertanya. Seperempat siku mulai muncul di dahi ku. Memangnya apa yang tidak diceritakan Dita kepadaku?

Sesampainya di rumah dengan kondisi pakaian yang setengah basah. Turun dari motor kak Deangga, dengan perasaan sedikit enggan berpisah pada jok belakang. Setelah mengucapkan kata terima kasih dan hati-hati yang dibalas anggukan oleh Deangga.

Kini sang empu kembali melajukan motor. Kupandang punggung yang semakin mengecil lalu lenyap di persimpangan. Masuk ke dalam rumah dengan perasaan riang gembira. “Mama anak mu habis dibonceng kak Deangga,” bisikku bangga. Ah, teringat sesuatu. Sepertinya ada yang harus kutanyakan pada Dita besok.

***

Hari itu tiba. Dari pada memendam persepsi yang semakin tak karuan. Memberanikan diri bertanya pada Dita, walau takut jika ada hal mengecewakan.

“Dit, sebenarnya kamu sama kak Deangga ada hubungan apa?” tanyaku. Kulihat Dita sedikit tersentak kaget. Kutunggu jawaban yang tak kunjung dilontarkan. Entah apa aku yang tak sabaran. “Dit kamu pacaran sama kak Deangga?” tanyaku lagi. Kini dengan perasaan cemas-cemas harap.

Baca Juga  Aku Harus Bicara

“Pfftt. Nay, jangan bilang kamu semalaman overthinking gara gara ini?” Dita malah kembali bertanya dengan tawa yang tertahan. Tentunya tidak, tidak salah lagi maksudnya. “Aku sama kak Deangga itu sepupuan Nay, hahaha,” lanjutnya lagi.

“serius?” tanya dengan perasaan lega.

“Iya serius. Tanya aja sama orangnya sendiri, tuh udah nyamperin,” ucap Dita kemudian menunjuk ke arah pintu kelas. Dan benar saja, di sana Deangga dengan senyum manisnya berdiri bersandar tepat di daun pintu kelas.

Dan di sinilah saya berada. Duduk berdampingan di kursi taman, dengan si manusia menawan.

“Kak Deangga mau ngomong apa tadi?” tanyaku membuka pembicaraan. Setelah hening cukup lama.

“Nay, perihal rasa itu saya sudah tahu,” ujar Deangga. Ah, saya ketahuan ya?

“Maaf,” kata itu spontan terucap dari mulutku.

“Maaf untuk apa?”

“Maaf karena sudah lancang menaruh rasa, juga maaf karena sudah lancang menyelipkan namamu pada semoga yang kulangitkan,” saya memang pecundang. Di saat seperti ini, malah tak berani penatap ke arahnya.

Baca Juga  Puisi-puisi Dian Chandra

“Tidak ada kata lancang pada hal yang sudah diizinkan Nay.”

Mendengar kalimat itu, aku lantas menoleh.

“Rasa itu tolong selalu dijaga ya Nay. Perihal waktu, mari tumbuh bersama dengan rasa yang terjaga. Itupun jika Naya berkenan,” lanjutnya kemudian. Kubalas anggukan dengan mata berkaca tak dapat berkata. Tuhan apa ini artinya rasa ku terbalas?

“Juga terima kasih ya, sudah bersedia melangitkan namaku pada doamu itu. Saat ini saya belum punya apa-apa untuk sekadar berucap cinta. Saya memang seremedial itu perihal rasa. Maka, tunggu saya berproses ya? dengan rasa yang senantiasa terjaga. Begitupun dengan saya yang akan melakukan hal sama. Karena rasa ini tumbuh di antara kita berdua Nay.”

Kalimat itu menjadi awal terbentuknya judul pada lembaran baru bagi kami yang katanya masih remedial perihal rasa. Deangga, seperti katamu. Mari tumbuh bersama dengan rasa yang senantiasa terjaga. Mari bertemu dengan lembaran yang ke sekian, karena rasa yang kuceritakan ini, mungkin akan mengalahkan luasnya lautan.

Tuhan, engkau memang Seniman paling mengagumkan.Terima kasih karena sudah menciptakan mahakarya menawan berupa Deangga Abykta.

Selesai.

Hikmah Tul Aulia, Siswi SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan