Bunga di Antara Bebatuan
Kamu ngapain sih? Bentar lagi ada Nora mau duduk di sini,” usir Rana dengan nada terang-terangan.
“Aku mau tanya soal lomba debat bahasa Inggris itu gimana Ran?” tanya Namira.
“Gak tau, udah deh jangan gangguin aku lagi Ra!” Rana menoleh pada Namira. Menghentikan tangannya yang sejak tadi menulis.
“Ran, kok kamu jadi gini sih? Emangnya aku ada salah apa sama kamu?” Rana yang berniat meninggalkan Namira kembali terdiam. Menatap perempuan itu dengan wajah kesal. Rana tidak mau dijauhi oleh yang lainnya hanya karena berteman dengan Namira. Itu sebabnya Rana ikut menjauh dari Namira.
“Gak ada yang mau temenan sama pencuri Ra,” kata Rana berhasil menusuk hati Namira. Perempuan dengan rambut sepunggung itu menekankan kata pencuri dalam perkataannya untuk Namira.
“Aku lebih milih jauhin satu orang daripada aku dijauhin semua orang. Aku juga gak bisa apa-apa Ra. Aku gak mau jadiin diri aku korban kalau temenan sama kamu kaya dulu lagi,” ucap Rana.
“Jadi tolong jangan deket-deketin aku lagi,” pinta Rana.
“Aku bukan pencuri Ran..,” ucap Namira dengan nada pelan pada Rana.
“lya, mungkin bukan. Tapi di mata banyak orang kamu itu pencuri Ra. Sekarang aku tanya sama kamu. Mana ada sih yang mau temenan sama pencuri? Ada gak? Enggak kan?” tanya Rana.
“Tapi aku gak ngelakuin apapun Ran. Aku gak pernah mencuri,” ucap Namira pada Rana yang di depannya tampak marah.
“lya mungkin aja enggak. Tapi aku tetep gak mau temenan sama kamu kayak dulu lagi. Aku aja malu sama diri aku sendiri karena pernah punya temen pencuri kayak kamu,” ujar Rana pada Namira membuat Namira terpaku.
Serena yang mendengar pertengakaran antara Rana dan Namira merasa senang dan tambah mengompori Rana “Aduh bener banget Ran. Lagipula, gak ada gunanya juga kalau kita ambil hak milik orang lain,” ujar Serena sambil tertawa licik melihat kearah Namira.
Namira hanya diam. Perempuan itu lalu melangkah mundur, ia sadar diri. Namira sangat kecewa karena orang yang paling ia percaya malah menghianati dirinya. Kini, Namira lebih memilih menyimpan semua kesedihan, masalah dan perasaannya sendiri tanpa harus diketahui oleh orang lain.
Namira tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Ia memutuskan untuk membuktikan kepada semua orang bahwa ia tidak pantas diperlakukan seperti itu. Dengan tekad yang bulat, Namira semakin giat belajar dan berprestasi.
“Aku ga akan biarin kamu menang, Ra!” ancam Serena.
Namira hanya tersenyum. “Aku enggak pernah bertanding sama kamu, Ser. Aku hanya mau menjadi diriku sendiri.”
Akhirnya, saat kelulusan tiba, Namira berhasil meraih beasiswa ke universitas ternama di Indonesia. Semua orang terkejut dan kagum dengan prestasinya. Serena yang selama ini selalu meremehkan Namira, kini hanya bisa terdiam malu.
“Ibu bangga sama kamu, Namira,” ucap Ibu Namira sambil memeluknya erat.
“Mira, kamu sangat luar biasa. Prestasimu selalu membanggakan nama sekolah ini,” ucap Bu Dayu.
“Terima kasih, Bu. Semua ini berkat dukungan Ibu,” balas Namira ramah.
“Kedua mata Namira tidak sengaja menatap mata orang-orang yang dulunya sering merendahkannya.
“Ra, maaf ya dulu aku pernah mengejek kamu,” ucap Nora menyesal.
“Gapapa yang penting sekarang kita sudah saling memaafkan,” balas Namira tersenyum manis.
“Ra, aku minta maaf, aku benar-benar menyesal udah menyakiti kamu,” ucap Serena menyesal.
“Aku maafin kamu, Ser. Tapi ingatlah, iri hati tidak akan membawa kita kemana-mana,” balas Namira.
Namira tersenyum bahagia. Ia telah membuktikan bahwa ia mampu melewati segala rintangan dan mencapai kesuksesan. Ia adalah bunga yang tetap indah meski sering diterpa badai di antara bebatuan yang tajam.
Fiora Villela, Siswi SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan
