Karya: Fiora Villela

Namira Aruana adalah gadis sederhana yang dikaruniai banyak kelebihan. Kecantikan yang memukau, kercerdasan yang luar biasa dan senyum manis selalu menghiasi wajahnya. Semua orang memujinya. Para guru bangga kepada dirinya, teman-temannya menyukainya, bahkan orang-orang di luar sekolah pun sering memuji prestasinya.

Namun, kehidupan Namira tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan. Di balik keindahan Namira, ada Serena, sahabat kecilnya. Serena iri pada Namira. Ia merasa dirinya selalu tertinggal dari Namira. Namira pandai dalam segala hal, sementara ia seringkali merasa kesulitan.

“Namira menang lagi, juara kelas lagi,” ucap Serena dengan nada kesal, saat pengumuman juara kelas dibacakan.

Namira mendengarnya namun ia tidak menanggapi. Ia tidak ingin masalah kecil seperti ini merusak persahabatan mereka. Namun, Namira tidak sadar akan rasa iri Serena yang semakin besar terhadap dirinya.

Semua bermula pada hari di mana tahun pelajaran baru telah dimulai. Para siswa bersemangat untuk kembali mengikuti pembelajaran di sekolah setelah libur panjang. Hari ini mereka akan kembali mengikuti kegiatan rutin setiap hari Senin, yaitu upacara bendera.

“Ser, temenin aku ke koperasi yuk? Aku mau beli topi baru,” tawar Namira pada Serena karena biasanya mereka berdua selalu bersama.

Baca Juga  Kiasan Layang-Layang

“Maaf, aku sibuk” jawab Serena jutek sambil bangkit dari bangku membuat Namira memandangnya dengan sorot aneh. Mengapa Serena bersikap seperti itu? Apa salah Namira padanya? Kurang apa Namira menjadi sahabatnya?

Selesai upacara bendera, Namira bergegas pergi ke kantin untuk membeli air minum karena dirinya lupa memasukkannya saat menyiapkan bekal tadi pagi. Saat kembali ke kelas, semua orang melirik Namira dengan tatapan tajam. Seolah-olah ada kesalahan besar yang telah ia lakukan.

“Udah miskin, sekarang suka mencuri lagi,” ejek salah sau teman sekelas Namira.

“Kamu kan yang curi uang Lala?” tanya Nora sambil menunjuk Namira dengan nada marah.

“Hah? Enggak, aku gak ada curi uang Lala,” jawab Namira bingung karena tidak merasa melakukan hal yang dituduhkan pada dirinya itu.

“Udah deh, ngaku aja Ra, kenapa sih harus bohong? Padahal kalau kamu butuh uang kan bisa pinjam sama aku,” kata Serena semakin menyudutkan Namira.

“Kamu kok kayak nuduh aku Ser? Bukan aku! Aku aja baru masuk kelas habis beli air minum di kantin,” jawab Namira sambil mengangkat botol air minum yang baru ia beli.

Baca Juga  Depression

“Mana ada maling yang mau ngaku, udah jelas-jelas uang Lala ada di tas kamu Ra, kita udah geledah semua isi tas dan ternyata uang itu ada di tas kamu kalau bukan kamu siapa lagi!” Balas Serena dengan nada tinggi.

“Percuma Ra, kamu pinter tapi sikap kamu nol besar,” ujar Nora kecewa.

Satu persatu murid-murid pergi meninggalkan kelas dengan tatapan tajam atas apa yang telah diperbuat Namira.  Namira tidak menyangka bahwa teman-temannya akan menuduhnya seperti itu. Namira sadar, dirinya bukan berasal dari keluarga kaya, namun Ibunya selalu mengajarkan dirinya untuk bersyukur dan jangan sampai mengambil hak milik orang lain.

Kini tinggal Namira dan Serena berdua dalam kelas. Serena berjalan menghampiri Namira dengan ekspresi yang menunjukkan seolah-olah dirinya menang kali ini dari Namira.

“Gimana Ra rasanya dijauhin sama orang-orang yang selama ini selalu puja puji kamu?” ujar Serena senang.

“Jadi semua ini ulah kamu Ser?” Balas Namira terkejut dan menangis. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya tega melakukan hal itu.

“Kenapa kamu lakuin semua ini, Ser?” tanya Namira dengan suara bergetar.

Serena hanya tertawa sinis. “Karena aku iri sama kamu, Ra. Kamu selalu mendapatkan semuanya dengan mudah. Sedangkan aku? Aku gak pernah dianggap Ra.”

Baca Juga  Melukis Literasi

“Semuanya emang salah aku Ser. Maaf ya,” ujar Namira membuat Serena tersenyum jahat padanya.

“Oh, jelas salah kamu Ra. Kamu yang rebut semua kebahagiaan aku!” ujar Serena dengan nada tinggi.

Namira tersenyum pada Serena, “Maafin aku ya Ser, aku harap kamu gak lakuin ini ke orang lain ya? Sakit Ser rasanya,” ujar Namira. Hingga akhirnya Namira memilih pergi dari sana. Mengusap kedua lengannya. Meninggalkan Serena tanpa kata perpisahan.

Keesokan harinya, ketika di kelas. Namira tetap sibuk belajar meski tidak ada satu pun yang peduli atau menganggap kehadirannya. Meskipun ada, tetap saja Namira tidak bisa terus bergantung pada orang lain. Dalam hidup, Tuhan memang sengaja memberi kita cobaan. Agar kita tahu mana yang tetap tinggal. Dan mana yang memilih untuk pergi.

“Lagi apa Ran?” tanya Namira pada Rana. Namira sengaja duduk di samping Rana ketika bunyi bel istirahat.

“Lagi nulislah,” jawab Rana jutek. Perempuan itu sedang menatap buku paket lalu kembali menulis. Tidak menoleh pada Namira sedikitpun.