Sungai yang Menghidupkan
Dari belakang Tunku Singalangit terdengar suara lantang dari Sandi, dengan langkah tegas, ia mendekati Jarot yang sedang mengejekkan singalangit. “Jarot, cukup sudah!” kata Sandi dengan suara lantang. “Kau tidak bisa terus-terusan memperlakukan Tunku Singalangit dan warga seperti ini.
Sungai ini lebih dari sekadar aliran air biasa. Ini adalah warisan yang harus kita jaga.” Jarot menatap Sandi dengan tatapan meremehkan. “Oh, Sandi, kau juga sekarang ikut-ikutan, sok jadi pahlawan desa, ya? Kalian harus tahu, dengan siapa anda berhadapan.” Dengan wajah merah Jarot dan anak buahnya meninggalkan lokasi pertemuan.
Gejolak yang terjadi tidak berhenti di sana saja, kelompok yang setuju pertambangan yang dipimpin Tuan Jarot mulai melakukan intimidasi terhadap Tunku Singalangit dan warga yang mendukungnya.
Mereka mengancam akan mencemarkan nama baik Tunku Singalangit dan menebar fitnah bahwa Tunku Singalangit adalah sosok yang menghambat kemajuan dan pembangunan desa selama ini. Bahkan, Sebagian dari mereka dengan sengaja merusak alat-alat kebersihan yang digunakan Tunku Singalangit dan timnya untuk membersihkan sungai.
Namun, Tunku Singalangit tidak menyerah begitu saja, dengan memiliki pengalaman dan latarbelakang dari keluarga terhormat di desa itu, mendapat dukungan penuh dari warga yang setuju dengan kearifan lokal, pertanian dan perikanan.
Baginya, ini bukan hanya tentang dirinya, melainkan tentang masa depan Desa Siri Wengi dan generasi yang akan datang. Ia terus berjuang bersama warga yang setia mendukungnya, membersihkan sungai dan menanam pohon di sepanjang tepian sungai serta lahan bekas pertambangan yang dibiarkan begitu saja dengan tujuan untuk mengurangi erosi dan memperbaiki kualitas air.
Perlahan tapi pasti, usaha keras mereka mulai menunjukkan hasil. Air Sungai Sari kemis yang tadinya keruh dan tercemar, kini mulai tampak lebih jernih. Ikan-ikan kecil mulai kembali berenang, dan sawah-sawah di sekitarnya kembali menghijau. Semangat Tunku Singalangit dan warga desa mulai menular, dan semakin banyak orang yang bergabung dalam upaya mereka untuk menyelamatkan sungai.
Ketika berita tentang membaiknya kualitas air dan Sungai Sari kemis mulai jernih menyebar ke seluruh desa, Jarot merasa terganggu dan terancam. Ia dan kelompoknya sekali lagi berusaha untuk menghentikan upaya perbaikan sungai dengan mengancam akan menggunakan kekerasan.
Namun, saat melihat warga yang kini bersatu padu mendukung Tunku Singalangit, bahkan mereka yang awalnya ragu, Jarot menyadari bahwa ia tidak bisa melawan semangat kebersamaan ini. “Tunku Singalangit, kau memang keras kepala, tapi sepertinya orang-orang ini percaya padamu, kau hebat,” ujar Jarot dengan nada menyerah.
Tunku Singalangit menatap Jarot dengan tegas namun tersenyum penuh wibawa dan pengertian. “Jarot, kita semua ingin yang terbaik untuk desa ini. Kita bisa maju tanpa harus merusak alam kita. Sungai ini bukan hanya tentang air, ini tentang kehidupan dan harapan, baik masa kini maupun masa yang akan datang, kalua bukan kita siapa lagi.”
Sore itu di ufuk barat, mentari semakin jauh turun sambil tersenyum di balik awan yang menghiasi cakrawala dan menjadi saksi atas kejadian itu semua. Akhirnya, Jarot dan kelompok pro pertambangan dengan berat hati mundur dan mengakui kekhilafan selama ini.
Mereka mulai memahami bahwa keuntungan jangka pendek dari tambang tidak sebanding dengan nilai kehidupan yang diberikan oleh Sungai Sari kemis. Warga desa merayakan keberhasilan mereka, merasakan kebahagiaan yang mendalam karena berhasil menyelamatkan sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
Kini, Sungai Sari kemis telah kembali menjadi pusat peradaban dan sendi kehidupan di Desa Siri wengi. Airnya yang jernih, sejuk dan segar mengalir deras, menghidupi sawah-sawah dan ladang-ladang yang subur serta mengembalikan denyut nadi usaha perikanan yang mulai berkembang dan maju lagi.
Di suatu pagi yang cerah, lantunan merdu dari nyanyian burung-burung yang menari di ranting pohon serta bunyi air yang mengalir menambah betapa damai dan indah suasana pagi itu, Tunku Singalangit berdiri di tepi sungai sambil memandang air yang mengalir dan mengucapkan penuh rasa Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia tahu bahwa perjuangan ini bukan hanya untuk dirinya pribadi, tetapi untuk seluruh warga desa dan generasi mendatang.
Dan sungai Sari Kemis ini telah mengajarkan mereka bahwa integritas, etos kerja dan kebersamaan, serta keteguhan hati adalah kunci untuk mejaga keseimbangan alam dan meraih kehidupan Bersama. Dengan semangat baru, Desa Siri Wangi melanjutkan perjalanan dan mengingatkan mereka bahwa sungai yang menghidupkan dapat membawa harapan, cinta, kedamaian dan kebahagiaan serta masa depan yang lebih baik bagi semua.
Sutiono, S.Pd. Kim., M.M, Kepala SMKN 1 Tukak Sadai yang aktif menulis
