Kapal Pengungsi SS Vyner Brooke, Bukti Kekejaman Jepang di Mentok (Bagian I)
Berdasarkan laporan resmi yang sangat singkat oleh Kapten “SS Vyner Brooke”, kronologi perjalanan terakhir kapal adalah:
Kamis 12 Februari 1942: 20:00 – Meninggalkan Singapura.
24:00 – Memasuki Selat Durian dan lanjut hingga siang hari.
Jumat 13 Februari 1942:
08:00 – Berlabuh di teluk kecil di pulau lepas Lanka Island.
09:00 – Pesawat musuh memutari kapal, tidak ada serangan.
11:10 – Pesawat musuh memutari kapal, tidak ada serangan.
11:30 – Angkat sauh dan lanjut ke Kanal Lima, dekat dengan pantai Lanka Island.
15:00 – Kapal dikitari oleh tiga pesawat musuh, tidak ada serangan. Pesawat menuju utara.
Sabtu 14 Februari 1942:
01:30 – Berlabuh di Pulau Tujuh.
06:00 – Sebuah pesawat memberi sinyal, tetapi tidak dapat memahami sinyal; kemudian pesawat pembawa senapan mesin itu terbang ke selatan.
09:00 – Pesawat musuh mengitari kapal, tetapi tidak ada serangan.
10:00 – Mengangkat sauh dan lanjut menuju Selat Bangka.
13:00 – Diserang oleh sembilan pesawat musuh. Kapal berkecepatan penuh dan berusaha
terus menerus menghindari bom. Dek bawah terkena bom pesawat.
13:20 – Memerintahkan untuk meninggalkan kapal. Mesin berhenti. Kapten mengarahkan penumpang ke sisi kanan kapal. Sekoci-sekoci semua rusak parah.
13:40- Kapal miring ke sisi kanan, tersisa dari bawah ke atas selama sekitar dua menit, dan akhirnya tenggelam. Saat serangan, meriam Lewis dan meriam 4 inci sedang beraksi. Posisi kapal 8 derajat ke utara Mercusuar Muntok saat tenggelam.
*Kesaksian dari yang Selamat
Wilma Oram, salah satu Perawat Angkatan Darat Australia yang menjadi penumpang, melaporkan pada saat itu
“Pesawat-pesawat Jepang datang dan mengebom kami. Mereka mengebom kami pada jam 2 siang. Kami turun ke geladak bawah untuk berlindung,” ujarnya.
Dan di sisi tempat Mona (Mona Wilton, sahabatnya saat mendaftar di Perawat Angkatan Darat Australia) dan aku, tempat kami berbaring menelungkup, dan di sisi itu meledak menyeruak dari kapal. Pecahan kaca menyembur ke seluruh tubuh kami, kupikir kakiku telah terputus.
Tetapi ketika aku melihatnya hanya tersayat oleh kaca terbang. Tetapi salah satu dari perawat kami terluka
parah. Dia memiliki luka yang sangat parah di bokongnya. Kami membawanya naik tangga ke geladak dan membalut lukanya. Lalu kami harus meninggalkan kapal.
“Keadaan penumpang sangat kacau. Jadi kami menempatkan perawat-perawat yang terluka di
samping, menuruni tangga ke sekoci, dan mereka berhasil lolos,” kata Wilma Oram.
Lalu Mona dan aku lari ke samping dan turun melalui tangga ke sekoci. Jean Ashton berada di sekoci. Tetapi kapal itu berbalik sangat cepat. Sekoci penuh dengan wanita dan anak-anak. Kapal itu segera tenggelam. Jadi kami harus melompat ke luar dari sekoci.
Kami tidak bisa menghindar dari kapal. Tidak cukup cepat. Jadi Mona dan aku melompat keluar. Semua orang akan menyelamatkan diri mereka sendiri
pada saat itu. Dan Mona sempat berkata.
“Aku tidak bisa berenang,” kata Mona.
Dia memakai pelampung, jadi aku berkata kepadanya.
“Berenang gaya anjing saja,” timpal Wilma Oram.
Kami berdua sejajar dengan kapal dan berusaha menjauh karena kapal itu akan terbalik ke arah kami. Jadi berenang gaya anjing yang kami
lakukan. Tapi kapal itu terbalik ke arah kami, dan aku berkata kepada Mona.
“Kapal itu akan roboh. Sepertinya kita akan tenggelam kali ini. Kita tidak akan selamat dari ini,” sebut Wilma.
Aku mengangkat tangan dan menangkap pagar kapal dan melewati pagar. Ketika aku muncul lagi, tidak ada tanda-tanda Mona. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, aku kira kapal roboh menimpanya dan dia tidak bisa menghindarinya. Aku tidak pernah melihatnya lagi.
“Aku masih berusaha untuk menjauh dari kapal karena kapal itu terus terbalik. Dan rakit-rakit dari sisi atas kapal akan berjatuhan. Rakit-rakit itu belum terlempar, sebagaimana mestinya, dan aku melihat rakit-rakit itu mulai berjatuhan,” ungkap Wilma.
“Aku menundukkan kepala. Aku sudah melepas helmku sebelumnya dan rakit menghantam kepalaku. Dan ketika aku naik, rakit lain menabrakku. Aku pikir ada enam rakit sekaligus, satu persatu, rakit-rakit itu menghantam kepala aku dan terus mendorong aku ke bawah,” ujar Wilma Oram.
Elizabeth Simons menulis dalam bukunya “While History Passed” bahwa dia sedang berbaring di geladak bawah. Kepalanya bersandar di atas helm sebagai bantal, terapit di antara
tubuh yang lain. Ia mencoba membaca buku “Cactus” untuk mengalihkan pikirannya dari kecemasan saat pesawat Jepang menyerang.
“Jelas sekali bagi semua orang secara bersamaan bahwa dek kapal bagian bawah yang tenggelam sangat mirip penjara,” kata J. Elizabeth.
Lengannya terkena pecahan peluru yang beterbangan tetapi ia tidak sempat memeriksa lukanya sampai beberapa saat kemudian seseorang membalut lukanya.
“Kepingan baja itu masih berada dalam tanganku sebagai cinderamata dari peristiwa itu,” katanya.
Aku meraih tali yang tergantung di luar, melepas sepatuku dan meluncur dengan cepat ke dalam air. Begitu cepat sehingga semua kulit dari telapak tanganku terbakar, meskipun dalam kegaduhan aku benar-benar tidak menyadari kerugiannya sampai nanti.
“Aku terdorong keluar dari kapal dan dapat melihat beberapa sekoci berhasil diluncurkan. Tetapi beberapa sekoci bocor parah sehingga para penumpang mendayungnya dengan panik. Kami
berkumpul secara massal di air. Awalnya sangat menyenangkan,” ujar dia.
“Sebuah kesenangan, sebenarnya, dapat berenang di air dingin. Kami belum mandi selama beberapa lama dan bahkan mencuci ala kadarnya yang tidak mungkin dilakukan di kapal,” tambah dia.
Jenny Greer (Perawat Angkatan Darat Australia) mulai bernyanyi saat itu.
“Kami berangkat menemui Sang
Penyihir dan para gadis bergabung dengannya saat mereka berhasil menuju sepotong balok
tempat ia berpegang,” terangnya.
Elizabeth Simons menaiki sebuah rakit dengan dua pelaut Inggris dan seorang operator radio keturunan Indo-Eropa.
Elizabeth Simons kemudian melanjutkan pernyataan.
Sesaat Pat Gunther dan Winnie May Davis (Perawat Angkatan Darat Australia) tersapu oleh ombak dan Simons memberi tempat di rakit untuk Gunther dengan menyelinap ke dalam air di tempatnya berada karena Gunther tidak bisa berenang.
“Stan (seorang pelaut Inggris), Win dan aku bergiliran beristirahat di rakit dan, di sela istirahat, kami berpegangan erat pada tali di sisi-sisinya,” ungkap Simons.
Pelaut lainnya terluka bakar sangat parah dan nyaris telanjang di bawah terik matahari sehingga Simons melepas seragamnya dan menutupinya dengan seragam. Win Davis menemukan kotak P3K di kantong seragam miliknya dan memberikan suntikan morfin kepadanya.
Mereka bergabung dengan seorang ibu dan anak perempuannya yang juga
berpegangan pada rakit.
Pada malam hari, pelaut yang terluka bakar itu terpeleset jatuh dan hilang. Pada malam yang sama, mereka dikelilingi oleh armada kapal penyerbu milik Jepang yang mengabaikan teriakan permintaan tolong mereka.
“Aku ingat saat diangkat jadi aku bisa mengistirahatkan bagian atas tubuhku di atas rakit untuk melepaskan ketegangan tangan dan lenganku. Dengan posisi itu, aku benar-benar
tertidur!” kata Simons.
Mereka melihat cahaya suar di Pantai Radji tetapi sayangnya arus tidak
memungkinkan mereka untuk mendarat di sana. Ketika siang tiba, mereka betul-betul sadar sedang berada di tengah penyerbuan Sumatera dan kelak, lelucon kamp tahanan perang.
“Meskipun kami benar-benar sampai
di Sumatra, sayangnya Pasukan Jepang berjumlah sangat besar,” Simons menambahkan.
Akhirnya mereka berhasil dihentikan pasukan Jepang yang membawa para wanita ke atas kapal. Dan menyeret para laki-laki di atas rakit dari belakang hingga mereka mencapai pantai. Para Jepang “penyelamat” mereka ternyata manusiawi, melindungi mereka dari kemungkinan dibunuh di pantai di
tangan petugas yang kurang bersimpati, dan memberi mereka minum.
Jessie Blanch (Perawat AD Australia), mungkin adalah orang terakhir yang meninggalkan Vyner Brooke saat kapal berguling ke sisi kanannya. Dan mulai tenggelam dengan membungkuk terlebih dahulu. Ia sempat mengenang saat kejadian itu.
“Kapten kapal hebat. Dia berzig-zag. Mereka datang dan mengebom kami, dan meleset. Kapal itu sangat kecil. Mereka kembali dan konon mereka menjatuhkan 27 bom. Dan akhirnya 1 bom menghantam kami,” ungkap Jessie Blanch. Bersambung
Sumber: ayobangkabarat.com
