Ss Vyner Brooke adalah salah satu kapal pengungsi yang meninggalkan Singapura pada tanggal 12 Februari 1942 itu membawa ratusan penumpang hendak menuju Batavia. Dalam perjalanannya, kapal itu mengalami akhir yang tragis digempur oleh pesawat pengebom Jepang di Selat Bangka.

*Sekilas tentang Kapal

SS Vyner Brooke adalah kapal uap buatan Skotlandia. Kapal itu dinamai dengan nama Raja Ketiga Sarawak, Sir Charles Vyner Brooke. Kapal itu dirancang oleh arsitek angkatan laut F.G. Ritchie OBE, dari Perusahaan Ritchie & Bisset, Singapura.

Perusahaan Ramage & Ferguson dari Leith, daerah pelabuhan Edinburgh, yang membuat kapal, dan menyelesaikannya pada Februari 1928. SS Vyner Brooke berukuran 1.670 GRT yang dapat membawa sekoci, rakit, dan pelampung untuk 650 orang.

Bahkan kapal ini juga bisa mengangkut setidaknya 200 penumpang. Kapal itu memiliki kabin-kabin di geladak paling atas yang mampu menampung 44 penumpang kelas satu dan sebuah bar yang luas untuk makan malam. Kabin itu terletak di tengah kapal.

Bar itu seluruhnya terbuat dari papan kayu mahoni yang dipelitur dan dilengkapi dengan 20 jendela besar jenis Laycock. Bahkan, semua furnitur terbuat dari kayu mahoni dan kursi-kursinya dilengkapi dengan jok kulit. Selain itu, di geladak yang teduh terdapat beberapa kabin mewah.

Boleh dikatakan bahwa Vyner Brooke dapat menampung 50 penumpang kelas satu. Bagi penumpang yang mencari hiburan dan olahraga, terdapat ruangan geladak untuk permainan lempar dan tenis. Dek utama memiliki ruang inap untuk semua kru serta ruangan pendingin yang dirancang untuk suhu 2 derajat di bawah titik beku.

Keperluan cargo ditangani oleh 2 buah derek 3 ton di setiap pintu palka dengan berat 20 ton derekan. Vyner Brooke diisi dengan lantai dek yang baru, semua dilapisi baja setebal 2,5 in (6,4 cm) dengan 6 sekat kedap air. Kapal itu memiliki 6 tungku pembakaran bergelombang dengan area pembakaran gabungan seluas 124 kaki persegi (12 m2).

Yang memanaskan dua ketel berujung tunggal dengan permukaan pemanasan gabungan seluas 4.390 kaki persegi (408 m2). Ini diumpankan uap pada 180 lbf / in2 ke mesin uap tiga kali lipat bersilinder tiga yang dibangun oleh Ramage dan Ferguson. Mesin berada pada 297 NHP dan digerakkan dengan sekrup kembar.

*Dari Kapal Pesiar menjadi Kapal Angkatan Laut

Pada 10 November 1927, Istri Charles Vyner Brooke, Ranee Sylvia, meluncurkannya secara resmi di Leith, Utara Kota Edinburgh, Skotlandia. Kapal itu berlayar dari Leith menuju Singapura pada 17 April 1928. SS Vyner Brooke memulai pelayanannya sebagai kapal pesiar Kerajaan Sarawak.

Baca Juga  Dua Pencuri Mesin Komputer dan Monitor Ekskavator di Desa Air Belo Diringkus, Satu Didor Polisi

Kapal uap buatan Skotlandia itu juga berfungsi sebagai kapal dagang yang berlayar antara Singapura dan Kuching di bawah bendera Perusahaan Kapal Uap Sarawak. Kapal itu biasanya membawa sekitar 12 penumpang selain 47 krunya.

Pada awal Perang Pasifik, SS Vyner Brooke dianggap kapal pedagang yang dipersenjatai sebagai kapal kegunaan militer saat diambil alih oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Kapal dicat abu-abu dan dipersenjatai dengan meriam 4 inci di depan dan Meriam Lewis di buritan.

Sejak saat itu, ia dikenal dengan nama HMS Vyner Brooke. Para petugas kapal warga Australia dan Inggris yang sebagian besar adalah Pasukan Relawan Angkatan Laut Kerajaan Malaysia diminta tetap berada di HMS Vyner Brooke yang sekarang.

Kru kapal bertambah pula dengan awak yang selamat dari HMS Prince of Wales dan HMS Repulse serta beberapa pelaut profesional dari Eropa dan Malaysia. Baik HMS Prince of Wales dan HMS Repulse telah ditenggelamkan oleh pesawat Jepang
pada 10 Desember 1941.

Kedua bangkai kapal itu berada di dekat Kuantan, Pahang di Laut Cina Selatan. Vyner Brooke di bawah komando seorang kapten, Richard E. Borton, dikenal dengan sebutan “Tubby”. Berasal dari Yorkshire, lahir tahun 1890, Borton menghabiskan lebih dari satu dekade di wilayah Asia Timur.

Dia tinggal di sebuah pondok yang nyaman di Orchard Road, Singapura. Membesarkan keluarga dengan 4 anak, dan melayari perdagangannya sambil mempelajari seluk beluk pelayaran di antara ribuan pulau di Negeri Selat, Hindia Belanda, Filipina dan semua negeri kesultanan kecil yang berada di wilayah tersebut.

*Meninggalkan Singapura

Pada bulan Desember 1941, Perang Pasifik mulai mendekat Asia Tenggara. Jepang menyerbu Malaysia dan mulai masuk wilayah Singapura. Pada tanggal 8 Februari 1942, Pasukan Jepang mendarat di Pulau Singapura.

Evakuasi para warga pun mulai dilakukan karena situasi Singapura dalam keadaan genting. Pada malam tanggal 12 Februari 1942, dua hari sebelum jatuhnya Singapura ke tangan Jepang, HMS Vyner Brooke merupakan salah satu kapal yang meninggalkan Singapura dengan membawa pengungsi untuk meninggalkan Singapura.

Meskipun biasanya kapal itu hanya membawa 12 penumpang, selain 47 krunya, Vyner Brooke berlayar ke selatan dengan 181 penumpang, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Di antara penumpang terdapat 65 perawat Australia terakhir yang berada di Singapura.

Laporan-laporan lain mengatakan jumlah penumpang berbeda-beda yang berada di kapal. Situs Naval-History.net mengatakan terdapat 47 kru dan 181 penumpang, 125 orang menghilang. Hal ini menunjukkan terdapat 228 orang.

Baca Juga  Nun (1): Menatap Tanya

Mayor William Alston Tebbutt, seorang staf perwira perwakilan intelijen Australia yang juga ikut menumpang, menyatakan bahwa yang di atas kapal adalah “.. Letnan R.E. Borton ditambah 50 kru, termasuk kru meriam…”. Dia juga memperkirakan jumlah total penumpang sebanyak 200 orang.

Termasuk laki-laki, perempuan, dan anak-anak Indo-Eropa. Hal ini
menandakan jumlah keseluruhannya 250 orang. Penulis Ian W. Shaw, di dalam bukunya “Di Pantai Radji” (hal. 126) menyatakan terdapat 65 Perawat Angkatan Darat Australia, sekitar 150 warga sipil dan personil militer serta 40 kru, dengan total sekitar 255 orang.

Dalam situs Angelpro.com, Vivian Bullwinkel memberikan pernyataan bahwa “…265 laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang ketakutan, ditambah 65 Perawat Angkatan Darat Australia…”, diperkirakan sekitar 330 orang berada di kapal.

Kapten Borton mengatakan dalam laporannya bahwa orang-orang yang berada di kapal meliputi kru, 7 orang perwira dan 45 orang kelasi, penumpang berkisar 180 orang sipil dan tentara, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Hal ini menandakan terdapat 227 orang penumpang, tetapi kemungkinan tidak akurat untuk petugas kapal ketika berada di laut. Catatan dan ingatan yang berbeda terhadap jumlah para penumpang kapal menggambarkan
situasi yang kacau di Pelabuhan Singapura pada hari-hari terakhir sebelum penyerahan ke pihak Jepang.

Kenyataannya, pada tanggal 12-13 Februari 1942, ratusan perempuan dan anak-anak, bayi, laki-laki sipil dan petugas saling menekan. Mendorong, memaksa dan mengancam agar bisa naik ke kapal terakhir yang akan meninggalkan kota sebelum kengerian Pasukan Jepang tiba dari garis depan mereka.

Saat itu Pasukan Jepang berada di Bukit Timah dan Pasir Panjang. Sebenarnya jumlah yang diberikan untuk penumpang ‘SS Vyner Brooke’ antara 227 dan 330 orang, termasuk kru.

Tepat setelah pukul 17:00 pada tanggal 12 Februari 1942, para penumpang naik ke kapal kecil warna abu-abu tua itu. Kapal itu akhirnya berlayar dalam kegelapan. Hari itu menjadi pemandangan yang tidak pernah terlupakan.

Api besar membakar seluruh bagian depan Singapura dan kepulan asap hitam tebal menyelimuti pulau itu. Dalam kegelapan yang semakin kelam, kapten kapal tanpa sadar mengarahkan kapal ke ladang ranjau dan terpaksa berhenti pada malam itu.

Sebagian besar orang menganggap kapal itu akan menuju Batavia dan yang lain mendengar bahwa mereka akan langsung ke Australia. Jumat tanggal 13 Februari berkabut dan panas. Laut tenang dan kapten tahu bahwa bodoh kalau dia mencoba melakukan pelarian dalam kondisi itu.

Baca Juga  Pengelabuan

Jadi dia berencana untuk menyembunyikan kapalnya di pelabuhan pulau kecil dan malam itu menyelinap menuju kebebasan. Keesokan harinya sekitar jam 11.00 pagi, beberapa pesawat menuju ke arah kapal. Air laut masih tenang, masih tenteram ketika bom pertama mulai jatuh.

Meskipun bom-bom itu meleset dari sasaran, pilot pesawat berhasil menembak sekoci dengan senapan mesin dan meninggalkan lubang-lubang. Ketika pesawat-pesawat pengebom itu menukik, Borton melakukan serangkaian zig-zag yang tidak menentu terhadap kapal kecil itu.

Batangan bom pertama jatuh melebar, ledakan-ledakan itu menggetarkan jendela-jendela ruang kemudi. Namun hanya melemparkan pancuran air yang tidak berbahaya. Tetapi ketika pesawat berbalik kembali, mereka menemukan sasaran mereka.

Sekitar 27 bom dijatuhkan dan 1 bom jatuh tepat di bawah corong Vyner Brooke yang meledakkan dan menghancurkan kamar mesin. Bom lain menghancurkan anjungan, dan bom ketiga menghancurkan dek depan.

Kapal yang lumpuh itu perlahan-lahan terhenti, asap hitam ke luar dari badan kapal dan api menjilati kamar-kamar kapal. Para kru turun ke ruangan mesin yang terbakar parah. Kapten memberi perintah untuk meninggalkan kapal.

Dapat ditebak, banyak penumpang panik, anak-anak muda bertengkar
dengan orang tua untuk melarikan diri dari geladak bawah. Perawat Australia berusaha memulihkan dan menolong situasi di kapal, sementara kru berjuang untuk membersihkan sekoci.

Terlepas dari muatan yang banyak, tiga sekoci diturunkan dengan peralatan lengkap masing-masingnya. Dan dua di antaranya mulus berada di sisi kapal. Yang ketiga, terjerat oleh peralatannya sendiri dan terseret ke bawah bersama kapal ketika kapal tenggelam.

Sejak pesawat pengebom Jepang pertama kali menyerang, sampai Vyner Brooke menghilang ke bawah gelombang, hanya membutuhkan waktu selama 15 menit. Kapal yang tenggelam itu meninggalkan dua sekoci yang penuh sesak.

Beberapa rakit kecil, dan puing-puing di laut di mana lebih dari 100 orang yang selamat dan ketakutan menggelantung. Banyak dari mereka terluka atau menderita luka bakar parah. Kemudian pesawat-pesawat itu kembali lagi, kali ini menyemburkan peluru dengan tembakan senapan mesin.

Makin banyak mayat bergabung dengan mereka yang sudah mengambang di air. Dan pembantaian yang menyedihkan ini dilakukan oleh armada invasi Jepang dengan
meluncurkan pasukan bersenjata lengkap terhadap sekelompok orang yang tak berdaya.

Jepang mengabaikan tangisan minta tolong mereka yang masih hidup di air. Pasukan Jepang memiliki pekerjaan yang lebih mendesak. Tenggelamnya Vyner Brooke bertepatan dengan
invasi Jepang ke Pulau Bangka.