Karya: Sudi Setiawan

Perjalanan soreku terhenti ketika sudut pandang mata ini melihat rumah tua di persimpangan jalanan. Aroma setelah hujan menguap memenuhi hidungku, kesiur angin pun menerpaku ketika aku baru saja memarkirkan motor tak jauh dari pohon Jamblang; sejenis jambu-jambuan.

Mata ini tertarik dengan sebuah mesin tua bernama loko, bertengger tepat di depan rumah bergaya klasik dengan jendela-jendela panjang di sisi kanan-kiri bangun itu. Entah kenapa, perasaanku terpanggil kesini tiba-tiba.

Aku melangkah masuk ke dalam rumah tua bercat putih terang. Drek, jantung berdebar ketika menginjak masuk ke ruang pertama.

“Selamat datang,” ucap wanita berambut sebahu, tersenyum manis dengan deretan gigi yang rapi. “Ah, bagaimana bisa aku terpanggil masuk tempat tua ini,” pikirku. Aku menunduk, menyapanya balik dengan senyum terpaksa. Bagaimana tidak, aku sudah cukup lelah belakangan ini.

Lagi-lagi, mataku dibuat fokus pada sebuah patung batu menjulang tinggi ke ruang pertama; sebut saja itu batu yang asli walaupun hanya replika. Bertulis aksara kuno yang tak kupahami.

“Ini replika prasasti Kota Kapur,” suara yang tak asing berada di dekat ku. Aku menolehnya, mendapati wanita tadi yang sempat kutaksir berusia awalan empat puluhan.

“… Berisikan tentang kutukan. Ini bukan dongeng nak, tapi ini kenyataan yang tertulis di dinding batu dari era masa lampau…,” jelasnya, sembari berjalan ke sisi ruang lainnya.

“Dari mana?” tiba-tiba aku ditodong pertanyaan darinya. Sempat terpikir aku ingin mengatakan.

“Dari tob-”

“Ah, urang habang 1 “. Potongnya, sembari tersenyum ramah-ramah. Aku hanya mengangguk, pertanda aku mengiyakan perkataannya. “Tadi ada rombongan keluarga dari Bogor, katanya lagi liburan. Dan anaknya akan menyusul kesini. Saya kira adik ini salah satu dari rombongan tersebut”. jelas Ibu Ratna, kulihat dari name tag di atas saku bajunya.

“Mau lihat-lihat?” tanyanya, melihat diriku di sebelahnya. Aku tersenyum, seakan gerak-gerik mudah dibaca olehnya, karena tak ada jawaban lain. Aku hanya mengangguk.

Aku berjalan ke depan, sudut lorong sedikit menurun, kupikir ini soal keadaan kontur bangunan. Sepertinya ini hanya salah satu daya tariknya. Aku melewati barisan foto-foto

1 Urang Habang : Orang Habang atau Sabang merupakan sebutan untuk orang-orang yang berasal dari Toboali Bangka Selatan

bersejarah dari era abad masa lalu hingga abad pertengahan terpajang rapi, replika-replika kapal pertambangan, barang-barang antik, sisa-sisa peninggalan masa lalu dan beberapa di antaranya hanya berisi foto-foto orang-orang Belanda, pribumi dan tokoh-tokoh negeri ini pada masa itu.

Sempat berpikir, bagaimana mana mereka mengumpulkan semua ini? Tak terasa aku telah di ujung lorong menuju pintu keluar-sebelumnya aku tertahan di ruang geologi  Pulau Bangka, aku menyempatkan diri mengambil beberapa gambar untuk menambah koleksi. Dan, aku menemukan sesuatu di sana.

Anak kecil itu sedang memeluk pelanduk2 dengan tatapan kosong. Rambutnya dicepol ke belakang, tersenyum lesu menatap kamera yang memotretnya. Gadis itu seakan menatap orang yang di depannya dengan suatu harapan. Harapan yang mungkin hanya dia yang tahu apa itu.

“Anak gadis dari suku Lom3, tatapan harapan akan kehidupan yang bebas. Bebas dari belenggu orang-orang tamak pada saat itu”. Kali ini aku benar-benar dibuat kaget, aku sudah lama tak mendengar suara lembut itu. Bernada rendah dan menenangkan. Aku menolehnya- sedikit ragu-ragu, matanya berbinar terang seperti rembulan malam, menatap gambar di depannya.

“Martha-“.

“Pram, sudah lama kita tidak berjumpa”. Dia menolehku. Guratan tipis di wajahnya begitu kurindukan.

*

Aku menyempatkan diri untuk mengunjungi suatu taman yang dulunya adalah tempatnya singgah–Wilhemina Park, bertemu dan berkumpul dengan bangsanya. Wanita Belanda ini hanyalah residual memori yang tertinggal semasa hidupnya disini.

Martha terikat oleh masa lalu ditempat ini, katanya disinilah dia bertemu dengan laki-laki yang ia sukai dan awal kehidupannya yang keras; sebelum akhirnya dia mati di pulau kecil di selatan pulau Bangka.

“Tumben, dirimu mengunjungi tempat-tempat seperti itu?” Martha seakan bisa membaca pikiranku. Ah, sial. Aku seharusnya tidak pernah berpikir untuk mendatangi tempat itu. Padahal, Derama-temanku, sudah memperingatkanku. Tapi,

“… Eh”.

2 Pelanduk : Kancil dalam bahasa Melayu Bangka