3 Suku Lom : merupakan suku tertua di pulau Bangka yang masih menganut kepercayaan animisme

“Kau mencariku?” tanpa perlu basa-basi lagi seperti dahulu, Martha seakan tahu maksudku disini. Iya, dia sudah lama menemaniku sejak kecil. Seperti sudah ketahuan, aku hanya berkata sebenarnya.

“Jika boleh jujur, aku hanya merindukanmu sama halnya dirimu yang dulu sering mendatangiku”.

“Kau masih sama. Penasaran dengan semua hal yang ada didunia ini”, Martha menatap celah biru langit di antara pepohonan yang rindang. “… Tentang mimpi dan harapan. Benar bukan?” Ia kembali menatapku, apakah aku masih terlihat seperti anak-anak yang kehilangan harapan?

“Sepertinya, aku ingin menyerah dengan harapan-” potongku. Isi hatiku saat ini-lelah sekali.

“Menyerah?” Ia menoleh ku dan diriku hanya pasrah mengangguk.

“Itu bukan pilihan Pram. Itu hanya sebuah kalimat yang kau ucap, padahal dirimu sendiri tak ingin mengatakan itu… dan satu lagi, itu bukan seperti dirimu Pram.”

Kedua mata kami saling bertautan, melepaskan sesuatu didalam hatiku saat ini. Ada apa ini?

Baca Juga  Singgasana Tanpa Doa

Aku tersenyum. Tersenyum karena aku masih dibuatnya kagum akan sosoknya yang tidak pernah berubah, rasa kepeduliannya dan kasihnya begitu sangat terasa olehku-kadang membuatku iri sebagai manusia yang acap kali acuh sesama manusia. Bagaimana dia bisa sejernih itu dalam pemikirannya, walaupun sudah berada di dunia yang berbeda. Wanita itu lekas berdiri.

“Pram, mimpi itu seperti angin.”

“Angin?” aku beranjak mengikutinya, ada sejuta pertanyaan di kepalaku setelah kata yang ia katakan.

“Ya, sesuatu yang tidak pernah kau bisa pegang.”

“Kamu hanya bisa merasakannya tetapi tidak untuk melihatnya. Pram, Kau hanya perlu percaya bahwa angin dan mimpi itu layak untuk dikejar. Layak untuk diraih…” Martha datang seperti biasanya, memberiku akan sebuah petuah yang kadang-kadang tak pernah terbesit di kepalaku. Lagi-lagi, dadaku kembali terisi oleh harapan; tentang mimpi yang masih abu-abu.

“Sudah waktunya.”

“Sudah? Kau ingin pergi lagi?”

Baca Juga  Seteru

Martha hanya tersenyum, lalu mengelus pundakku, “… Aku tahu kamu bisa. Aku percaya itu.”

*

Semenjak pertemuanku dengan-nya, Martha di museum timah menjelang petang setelah hujan mereda. Kini aku tak bisa melihatnya kembali-entah ke mana dia pergi lagi- tanpa aku bisa merasakan bahwa dirinya selalu di dekat-ku. Percakapan singkat sore itu seakan memberiku wejangan darinya, tentang mimpi yang layak ku perjuangkan.

Benar, aku hampir menyerah dengan apa yang sedang aku jalani, mengejar mimpi mendapatkan gelar yang hanya tinggal di ujung masa akhir perkuliahan. Dia masih sama, tidak pernah berubah sedikit pun. Semenjak aku mengetahui bahwa ia menjagaku, aku seperti memiliki teman untuk berbicara.

Drek! Aku merasakan adanya kehadiran sesuatu. Aku membuka mata dan memastikan bahwa ini hanya pikiranku yang lagi riuh sebelumnya. Ttak! Bunyi berasal dari ruang tamu. Aku bergegas berlari. Apakah ada maling? Tapi ini masih terlalu pagi untuk mencuri. Pikirku sembari memastikan ada apa di sana.

Baca Juga  Puisi-puisi Dian Chandra

“Mak.” Deg!

Mataku melotot melihatnya, badanku seketika membeku, tatapanku hanya terfokus pada sesuatu yang membuatku makin tak percaya. Kau harus tahu Martha! Dia di sini. Gadis di foto itu kini sedang di ruang tamu mencoba mengambil permen gulali di atas meja, permen kesukaanmu dengan wajahnya polosnya berkata,

Abang, Areom minta gule-gule e ok4“-dengan pelanduk tetap di berada dipelukannya, gadis kecil itu menatapku dengan iba.

**

4 Abang, Adek minta gule-gule e ok : Kakak, Adik minta permennya ya- dialek bahasa Melayu Bangka wilayah Selatan.

SUDI SETIAWAN, adalah penulis kelahiran Bangka, Fresh Graduate S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Pohon Permintaan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Raksasa di Bukit Nenek (2023).