Karya: Sutiono, S.Pd. Kim, M.M

Di pedalaman hutan rimba yang terpencil yang masih penuh dengan flora dan fauna yang unik beragam, dengan kondisi hutan masih asri terdapat sebuah desa yang sering dinamai desa Air Ketiak dan aliran air sungai yang besar dengan nama yang sama dengan nama desa.

Desa ini tersembunyi di balik pepohonan lebat, dan jalan menuju ke sana sangat buruk, penuh dengan lobang dan agak becek ketika hujan, dan hanya bisa dilalui dengan susah payah. Di desa itu, hidup sebuah keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari bertani.

Poniman, kepala keluarga, bersama istrinya Ani, membesarkan lima anak mereka: Paejo, Jono, Agus, Emi, dan Nano. Jarak usia anak-anak mereka sangat dekat, hanya terpaut dua tahun satu sama lain. Paejo, Jono, dan Agus adalah tiga bersaudara yang sering membantu orang tua mereka mencari nafkah.

Baca Juga  Nyanyian Malam

Suatu pagi yang sejuk dan dingin, terdengar kicauan burung-burung bernyayi dalam menyambut pagi yang ceria dan di balik daun pepohonan yang rimbun embun pagi pun semakin antusias menjatuhkan air tetes per tetes membasahi tanah sebagai penanda datangnya mentari pagi menerangi bumi.

Ketiga bersaudara yang terdiri dari Paejo, Jono, dan Agus bersiap-siap pergi ke hutan untuk mencari getah damar, salah satu sumber penghasilan yang masih bisa diandalkan. Dengan peralatan sederhana berupa karung, parang, dan bekal seadanya, mereka segera pamit dengan orang tua dengan mencium tangan bapak dan ibunya.

Kemudian mereka mulai berjalan meninggal rumah dan hanya selang beberapa menit mereka sudah jauh meninggalkan rumah dan mulai masuk ke dalam hutan. Udara segar hutan yang menyejukkan, tidak terasa mereka sudah jauh berjalan dan membuat mereka mulai lelah.

Baca Juga  Pantun: Musim Kemarau

Paejo, si sulung yang paling dewasa, memimpin jalan, sementara Jono dan Agus mengikuti di belakangnya. Mereka berbicara sesekali sambil memandang sekitar, mencari pohon damar yang bisa diambil getahnya.

Setelah beberapa jam, mereka menemukan sejumlah pohon damar. Dengan cekatan, Paejo mulai mengambil getah damar yang telah membeku dan masih menempel di pohon, getah damar yang sudah mengeras dengan semangat segera dimasukkan ke dalam karung.

Jono dan Agus ikut membantu, dan hasilnya lumayan banyak. Setelah beberapa jam bekerja, karung mereka sudah setengah penuh dengan getah damar yang berharga.

Namun, di tengah keberhasilan mereka, sebuah kesalahan kecil terjadi. Saat Jono sedang mengambil air minum dari botol yang dibawanya, tanpa sengaja ia menjatuhkan botol itu, dan airnya tumpah hampir habis ke tanah.

Baca Juga  Karat di Bawah Tengkorak

“Jono! Waduh, Lihat apa yang kau lakukan!” Agus berseru marah. “Sekarang kita tak punya air lagi, dan perjalanan pulang masih jauh!”

“Aku tak sengaja, Gus! Jangan salahkan aku terus, dong!” balas Jono, tak kalah kesal. Perdebatan di antara mereka semakin memanas, namun Paejo segera datang melerai. “Sudahlah, jangan bertengkar terus. Kita masih bisa mencari sumber air di hutan ini. Ayo, kita cari bersama-sama,” kata Paejo dengan nada tenang, meski dalam hati ia juga khawatir karena sumber air hampir habis.