Penjaga Terumbu Karang
Karya: Sutiono
Di sebuah pulau terpencil yang indah dan penuh pesona dengan dihiasi hamparan terumbu karang yang membentang mengelilingi pulau, terdapat flora dan fauna yang beraneka ragam. Pulau itu sering disebut dengan nama pulau Kipanoya. Di pulau tersebut tinggal seorang pemuda yang bernama Ariel, dan ia merupakan seorang pemuda yang aktif dalam sebuah organisasi pencinta lingkungan dan konservasi terumbu karang serta menjadi anggota aktif dari octopus diving club.
Suatu pagi yang cerah, hembusan angin laut sepoi-sepoi menerpa tubuh sampai menusuk ke tulang, dari kejauhan di bibir pantai terlihat lambaian pohon kelapa menyapa dan seolah-olah mau ikut bersama dalam menyelami akan indahnya suasana di bawah laut.
Ariel dengan temannya yang bernama Budi dan Sinwar berjalan di pelabuhan kecil menuju tambatan perahu di ujung dermaga. Mereka membawa semua perlengkapan, dengan cekatan mereka naik ke perahu dan berangkat untuk sebuah misi yang mulia yaitu melestarikan lingkungan dengan kegiatan perawatan terumbu karang.
Sekitar lima menit mereka berlayar, Ariel dan kedua temannya berhenti, dengan tersenyum penuh kebanggaan ketika melihat terumbu karang di bawah permukaan laut yang jernih, warna-warni ikan dan kehidupan laut yang indah membuat hatinya penuh rasa bahagia dan ceria. “Wooww.! Keren dan sungguh indah sekali,” terucap dari mulut Sinwar.
Sebagai seorang penggiat lingkungan yang berwawasan pembangunan berkelanjutan, menjaga laut dan terumbu karang adalah misi hidupnya, sesuatu yang diwarisi dari ayahnya yang dahulu seorang nelayan yang pro terhadap ke lestarian lingkungan. Ayahnya selalu berkata, “Laut bukan hanya pemberi kehidupan, tapi juga penjaga kehidupan dan kita wajib untuk menjaga itu semua.”
Namun, kebahagiaan Ariel dan kawannya tidak berlangsung lama. Desa dan pulau tempat tinggalnya sedang dilanda permasalahan besar yang mengancam keberadaan kawasan laut desa mereka yang sangat dicintai. Romli dan Ebonk, dua nelayan yang sangat kaya dan berpengaruh di desa, mulai menggunakan cara-cara yang merusak dan dilarang dalam menangkap ikan. Mereka menggunakan bom ikan dan jaring pukat harimau yang membuat terumbu karang hancur dan rusaknya tatanan ekosistem laut seketika.
Pagi yang cerah itu, mentari pagi tersenyum dengan ceria sambil tersenyum menyambut kedatangan nelayan pulang melaut, burung camar menari-nari di atas laut terbang kesana kemari sambil melukis indah dibalik awan, di pelabuhan Kipanoya yang indah, Ariel dan kawannya lagi menatap indahnya suasana pantai dan pelabuhan.
Dari kejauhan kapal para nelayan sudah kelihatan menuju pelabuhan dan siap merapat untuk berlabuhan. Di ujung pelabuhan terlihat, Si Romli dan Ebonk berjalan menuju ke arah mereka dengan membawa hasil tangkapan ikan yang banyak, tapi sungguh mengiris hati karena terumbu karang juga ikut di bawa bersama mereka.
“Romli, Ebonk, kalian harus berhenti melakukan ini!” teriak Ariel dengan tegas saat melihat mereka membawa hasil tangkapan yang banyak namun disertai puing-puing karang yang hancur. “Kalian sedang menghancurkan rumah bagi ikan-ikan itu, rumah bagi kita semua!”
Romli menatap Ariel dengan tatapan meremehkan. “Ariel, si anak kemaren sore, kami tidak punya waktu untuk bermain dengan ide-ide kamu yang tidak realistis dan tidak berguna itu,” jawabnya dengan sinis. “Kamu hanya pintar dengan teori saja, tapi di sini kami butuh hasil. Kami perlu uang untuk hidup bukan teori dan cerita dogeng seperti kamu.”
Ebonk menimpali dengan nada mengejek dan menunjukkan hasil tangkapannya, “Lihat saja hasil tangkapan kami hari ini, Ariel. Jauh lebih banyak dari yang bisa kamu dapatkan dengan cara-cara kuno itu. Kami tidak bisa menunggu ikan-ikan datang dengan sendirinya untuk di tangkap. Kami punya keluarga yang harus diberi makan dan pembayaran kredit tiap bulan.”
Ariel merasa geram dan frustrasi, tapi ia harus berpikir keras untuk menemukan cara bagaimana untuk menghentikan mereka sebelum terumbu karang semakin hancur. Bersama dengan kawan-lawan di komunitas pecinta kelestarian lingkungan laut dan beberapa pemuda desa yang merasa terpanggil dan peduli akan masa depan laut mereka. Dengan gerak cepat mereka merencanakan proyek restorasi terumbu karang. Namun, usaha Ariel terasa kecil dibandingkan dengan skala kerusakan yang dilakukan oleh Romli dan Ebonk.
Di siang hari itu, suasana desa agak mendung karena mentari tidak mau menampakkan senyumannya ke pada penduduk desa. Di balai pertemuan desa, berkumpul dengan ramai karena seorang investor kaya datang dengan membawa sebuah proyek yang luar biasa yaitu perencanaan membangun resor mewah tapi berkedok tambang di tepi laut.
Romli dan Ebonk, yang melihat ini sebagai peluang besar, segera mendukung proyek tersebut. “Ini dia kesempatan kita untuk menjadi kaya raya, Ebonk,” kata Romli dengan nada penuh semangat. “Kita bisa tinggalkan kehidupan melarat ini dan segera hidup enak.” Ebonk mengangguk setuju, “Akhirnya desa ini bisa berkembang dan maju. Kita akan terkenal dan punya uang banyak.”
