Hari itu, kembali namaku mengudara. Sebuah pencapaian besar di tahun pertama masa remaja. Dunia baru yang pertamakali ku pijak, keberhasil, membuat sosok senja dikenal hingga kini. Aku dirayakan, tak terkecuali mereka yang hanya tau aku lewat peranku. Ketika sukacita mulai menggerogoti hati dan pikiran, aku mulai ditampar dengan hal yang jauh dari perkiraanku.

Dia yang tak pernah berjumpa, namun ingin ku peluk. Dia yang ingin ku tanya bagaimana jalan hidupnya? Apa dia melihat sebuah peristiwa mengerikan di lalu? Yang ku dambakan, yang ku nantikan perjumpaannya. Yang ingin kurasakan setiap momen kebersamaan yang tak pernah terasa.
Menjadi sosok yang meremehkan sebuah keberhasilan.

Baca Juga  Alter Ego

Dengan enteng dia membandingkan ku dengan yang lain. Tidak ada yang suka di bandingkan. Biarlah dia berproses dengan sendirinya dan menikmati hasil dari kerja keras.

Kalimat sederhana tetapi berhasil menjadikan senja layaknya manusia tak waras. Demi membalaskan dendam. Dia bilang “Dia baru 2 di sini sudah 1.” Satu tahun lebih perjalanan yang membuatku merasa berat namun aku perlu menjawab sebuah pertanyaan “Kenapa harus 2?.”

Aku sempat berpikir, kenapa rasanya melelahkan, lelah menjadi makanan yang dilalui. Beribu kegagalan. Buruknya proses sempat menyentil bagian jiwa yang tak pernah ingin bercerita, takut lebih menguasai dari pada kelegaan setelah berbagi.

Dan hari ini, aku bisa berkata. Aku juga bisa menjadi yang pertama. Dengan bangga aku menunjukkan sebuah pembalasan terbaik, pencapaian besar sebelum akhir putih-abu.

Baca Juga  Drama Ekonomi Rakyat

Penulis merupakan siswi SMAN 1 Payung, Bangka Selatan.