“Kamu masih menyimpan semua itu, Nak?” tanya Pak Hendra terharu meneteskan air mata.

Aku hanya sedikit mengangguk, “Ini adalah harta berharga aku, Pak. Setiap kali aku merasa ragu, bersedih di kesunyian dalam diam, aku selalu membacanya lagi secara berulang-ulang di suatu tempat, dan kata dibuku ini juga penguat hidupku untuk terus menggapai mimpiku, Pak.” jawabku kepada kepala sekolahku itu.

” Maasyaallah, Nak, semoga apa yang kamu mimpikan tercapai ya, Bapak yakin kamu bisa, semangat terus, ya, Nak. Ada banyak sekali orang-orang yang menyayangimu dan kamu adalah kebanggaan sekolah, yang terus selalu mengukir prestasi gemilang di dunia kepenulisanmu,” ucap Bapak kepala sekolahku meneteskan air mata bangga kepadaku dan terus selalu memberikan doa terbaiknya di bangku putih itu yang disaksikan awan yang indah juga kicauan burung cantik merdu di atas pohon kecil yang tidak kuketahui namanya.

Baca Juga  Banjir pun Tak Mampu Membendung Semangatnya Mendidik

” Aamiin, ya Allah,” sahutku mengangkat kedua tanganku, mengaminkan doa terbaik sang Guru mantan kepala sekolahku itu.

Percakapan demi percakapan kami bicarakan bersama, kurang lebih 2 jam diriku berbincang bersama guruku. Kini aku harus berpamitan masuk ke dalam ruangan kantor karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan bersama penulis hebat lainya. Dengan penuh haru aku berjabat tangan, berpemitan kepada sang guru. Namun, hati mereka tahu bahwa ikatan antara guru dan murid ini takkan pernah pudar.

“Bapak, aku pergi dulu, ya ,masuk ke ruangan, assalamu’alaikum, Pak,” ucapku berpamitan kepada sang guru sambil menyodorkan tangan, bersalaman, menjalankan kewajiban tata krama seperti biasanya.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah, Nak,” sahut sang guru.

“See you next time, Pak,” ucapku yang mulai meninggalkan bangku putih indah itu.

Baca Juga  Kebersihan..ya Itu yang Utama

Pak Hendra terus saja memperhatikanku sepanjang perjalanan menuju ruangan kantor gubernur dan takpercaya siswa kebanggaannya terus semangat mendalami di dunia literasi. Namun, di saat perjalanan, tiba-tiba turun hujan, byurrrrrrr dan ya, ternyata itu guyuran dari sang ibundaku karena diriku masih molor tidur nyenyak.

“Dinda, ayo bangun, mari salat berjamaah dulu,” ucap sang ibundaku yang telah mengguyurku dengan segayung air.

“Hah, salat Bu, ini udah pagi, ya, Bu, bukanya tadi aku udah di kantor gubernur ya Bu? Aku juga di kantor di pertemukan dengan Bapak kepala sekolahku, Bu,” sahutku kaget, kebingungan.

“Dasar ngaco, ini nih, masih malam, Nak, baru selesai azan Isya yang dikumandangkan lewat masjid, Nak, bahkan kamu gak bangun-bangun dari tadi, makanya Ibu guyur pakai air,” ucap ibuku kembali.

“Yah, berati aku tadi cuma mimpi dong, kalo aku tadi di kantor gubernur dan dipertemukan dengan bapak kepsekku, bahkan main bersamanya,” jawabku memasang muka sedih karena itu hanya mimpi yang lalu lalang.

Baca Juga  Senja di Pagi Hari

“Sekarang ayo berwudhu, lalu salat,” ucap sang ibundaku yang menyuruhku salat berjamaah.

Diriku dengan cepatnya segera menuju keran di samping rumah, dan di tempat keren berwudhu, aku tahu bahwa pertemuanku dengan Pak Hendra, meski melalui mimpi indah, bukanlah sekadar pertemuan biasa, tetapi sebuah pertemuan yang mengingatkanku pada semua pelajaran hidup yang akan terus membimbingku.

Mutiara itu telah memberiku lebih dari sekadar ilmu; ia telah memberikan rasa percaya diri, keteguhan, dan keberanian untuk bermimpi. Aku berharap melalui mimpi ini nantinya akan menjadi nyata yang membuatku sangat begitu bahagia tanpa air mata.

Simpang Rimba, 9 November 2024