Oleh: Yan Megawandi

Ada suasana yang berbeda saat ini bila anda berada di Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Sejak awal Oktober 2024 lalu, ada nuansa khas Bangka Belitung yang bisa dirasakan di sana. Suara denting dambus yang ditingkahi bunyi gong dan pukulan gendang terdengar di ruangan-ruangan terminal. Suasana seperti ini sebenarnya sudah lama disarankan agar bisa menambah nuansa budaya lokal, baik di Bandara Depati Amir Pangkalpinang Bangka maupun di Bandara HAS Hanandjoeddin di Tanjungpandan Belitung.

Salah seorang pemrakarsa suara alunan musik dambus itu adalah legislator DPRD provinsi asal PKS dari dapil Kabupaten Bangka. Sudah beberapa tahun silam berlalu sejak Aksan Visyawan meminta beberapa pihak memperdengarkan alunan dambus itu. Beberapa kali bila bertemu di bandara, ia mengingatkan dan menanyakan bagaimana tindaklanjut sarannya untuk memperkenalkan musik dambus di bandara.

Baca Juga  Tiba di Bandara Depati Amir, Pj Gubernur Safrizal Disambut Lantunan Selawat

Ketika minggu ini saya berada di ruang tunggu Bandara Depati Amir, saya mendengar alunan dambus. Ini bukan dalam perjalanan dinas lho.  Ingatan saya pun jadi melayang ke mana-mana. Pertama kepada para pemusik dambus yang pernah saya kenal. Sayangnya sebagian besar mereka sudah tiada.

Mulai dari Cak Amit, maestro dambus asal Desa Kenanga Kabupaten Bangka, yang telah berkeliling daerah bahkan mancanegara mengenalkan dan memperdengarkan musik dambus Bangka Belitung. Lalu kepada Baijuri Tarsa yang piawai memainkan berbagai alat musik dan menjadi pimpinan Sanggar Kite di Sungailiat. Ada pula Mang Adnan dari Kampung Jurung yang pernah pentas di berbagai tempat di Sumatera dan Jakarta.

Baca Juga  Taber Kampung

Perhatian dan kesungguhan mereka dalam mempertahankan seni tradisi, terutama musik dambus, tak perlu diragukan lagi. Bahkan mereka telah menciptakan banyak lagu dan garapan dengan anak-anak asuhannya di sanggar masing-masing. Salah satu karya fenomenal yang dihasilkan oleh Baijuri Tarsa dan sanggar asuhannya misalnya adalah Tari Tepulut atau lagu Kute Lame.

Wajah yang terbayang berikutnya adalah wajah seorang pemain dambus asal Pulau Belitung, Husni. Sampai saat ini ia masih sering menampilkan dambus di berbagai kegiatan di Pulau Belitung. Ia pun akan menjamu para tamunya dengan denting dambus di rumahnya yang damai di Tanjungpandan.

Selain mahir memetik dambus, Husni juga dikenal sebagai pembuat dambus yang unik. Sebagian besar dambus karyanya adalah kayu bekas yang ditemuinya di pantai. Kayu itulah kemudian yang digarapnya sehingga menjadi dambus yang unik dan menarik. Suatu ketika ia pernah menyampaikan keinginannya untuk membuat museum dambus.

Baca Juga  Diasingkan untuk Menjadi yang Terbaik

Lalu wajah yang hadir di benak penulis ketika mendengarkan lagu dambus tadi ialah wajah teduh mantan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Eko Maulana Ali. Ia bukan saja pejabat tetapi telah menjadi bagian terdepan pemerhati dan penikmat budaya Bangka Belitung. Ketika masih menjabat Gubernur, kelompok-kelompok dambus sering tampil di rumah dinas Mahligai Serumpun Sebalai. Bahkan dalam beberapa acara di kampung, Eko Maulana Ali yang juga mantan seorang perwira TNI AL itu pun ikut menari dan mendendangkan lagu dambus.