Oleh: Raza Ar Rifki

Hanya sedikit orang yang mengerti dan paham tentang Bangka Belitung, selama saya tiga tahun tinggal di Malang. Banyak pertanyaan dan jawaban ngawur tentang dari mana saya berasal. Walaupun, dari banyaknya orang yang pernah berkenalan dengan saya, hanya segelintir orang saja yang mengenal Bangka Belitung.

Padahal jarak antara Jakarta dan Pangkalpinang hanya sekitar 728 kilometer atau jika kita menggunakan transportasi pesawat terbang hanya memakan waktu satu jam, hampir sama dengan  durasi album lagu dari band feast yang berjudul “Membangun & Menghancurkan”.

Namun dengan waktu dan jarak yang begitu singkat tak menjaminkan warga Jakarta (dan pulau jawa ) yang mengenal kawasan itu.

Mereka kebanyakan lebih fasih mengenal kawasan Madrid, Barcelona hingga London. Walaupun ada sekelompok kecil  yang paham dan mengerti di mana letak Bangka Belitung, walaupun hanya tahu karena pernah membaca/menonton Laskar Pelangi, yang menceritakan keindahaan serta melimpahnya sumber daya alam yakni tambang timah.

Baca Juga  Dari Solar ke LPG, Transisi Nelayan Bangka Selatan

Menurut sejumlah Lembaga survei geologis, tahun 2021 Bangka Belitung memiliki cadangan biji timah sekitar 6 juta ton, dan menjadi komoditas unggulan di Babel sebagai penopang utama perekonomiannya. Dengan rata-rata 35% perekonomian bangka Belitung dipengaruhi oleh pertambangan timah.

Dengan melimpahnya hasil produksi serta kandungan dari biji timah dibangka Belitung saat ini, menjadi jalan pintas masyarakat untuk bekerja sebagai pekerja tambang baik itu tambang konvesional maupun tambang modern. Tercatat lahan Babel yang rusak akibat pertambangan, sekitar 1.053.253,19 hektar lahan atau sekitar 64,12 persen dari luas daratan. Kerusakan terparah yaitu berada di pulau bangka sekitar 810.059,87 hektar (76,91) persen dari luas daratan provinsi tersebut.

Baca Juga  Akhir dari Sebuah Perjuangan

Semakin masifnya aktivitas pertambangan di babel, menyebababkan ruang hidup baik darat maupun pesisir laut di babel menjadi rusak dan memperhatinkan. Dalam kurun waktu 10 tahun Babel telah mengalami penyusutan lahan produktif seluas 320.760 hektar (data tahun 2020). Adanya penurunan lahan produktif ini menyebabkan masyarakat mengalami perebutan ruang hidup, dan mengharuskan masyarakat untuk hidup berdampingan dengan lahan bekas pertambangan timah,  Dimana lahan bekas pertambangan timah ini rentan untuk memamparkan zat radioaktif yang terkandung di bekas galian timah tersebut.

Tidak hanya berdampak dalam kondisi ekologis semata,  dampak dari pertambangan timah ini sangat berpengaruh dalam kondisi sosial masyarakat Bangka Belitung. Seperti rendahnya minat generasi muda di Bangka Belitung untuk melanjutkan pendidikan, tercatat pada tahun 2023 hanya sekitar 18,19 persen dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain yang ada di indonesia.

Baca Juga  Usaha Koperasi Melati Kian Berkembang Setelah Jadi Mitra Binaan PT Timah Tbk

Selain dengan rendahnya minat generasi muda Babel untuk melanjutkan pendidikan tinggi, angka putus sekolah di Babel Juga sangat tinggi, banyak pelajar di babel putus sekolah beralasan karena faktor ekonomi yang menjadi alasan kuat mereka untuk bekerja. Dampak sosial yang diakibatkan oleh masifnya pertambangan timah tersebut menjadi PR bagi pemerintah daerah di Babel saat ini.