Timah dan Potret Suram di Balik Melimpahnya Sumber Daya Alam
Pada awal bulan lalu, saya berkesempatan untuk mewawancarai Dea Anugrah, seorang penulis sekaligus juga founder dari Malaka project. Dea, yang berasal dari Bangka Belitung, yang kebetulan pada waktu itu lagi melakukan kunjungan ke Malang Jawa Timur. Dea banyak menyoroti dampak sosial akibat tambang timah di Babel. Menurut Dea anugrah persoalan yang dihadapi Bangka Belitung, dan indonesia umumnya, ialah adanya ketergantungan terhadap barang mentah atau komoditas.
Di Babel, pada saat ini timah hanya dipandang sebagai komoditas mentah semata yang dikelola oleh smelter-smelter dengan dicetak menjadi balok-balok logam. Selama pemerintah masih berpikir bahwa Babel hanya bisa bergantung dengan komoditas logam timah mentah semata, maka praktik pertambangan secara inkovensional di Bangka Belitung akan terus masif terjadi. Apalagi kita belum mampu untuk mengelola manufaktur yang baik dalam pengelolaan tambang timah ini. Selama belum ada alternatif pekerjaan yang lain, maka praktik seperti ini akan terus menerus terjadi.
Hal tersebut menjadi permasalahan sulit, selama alternatif ekonomi yang lain belum tersedia, maka masyarakat Babel akan tetap bergantung pada tambang. Jika kita menyalahkan masyarakat Babel sepenuhnya atas kerusakan lingkungan ataupun Babel kehilangan masa depannya, kita rasa kurang adil. Karena bagi masyarakat, ini menjadi pilihan soal bertahan hidup dalam situasi yang sulit karena menjadi persoalan yang sangat sistemik dan tidak lepas dengan persoalan yang lebih besar dari hal ini.
Selain timah yang saat ini hanya dipandang sebagai komoditas mentah semata, Dea anugrah juga menyoroti meningkatkanya angka putus sekolah dan meningkatnya pernikahan di bawah umur yang sudah lama terjadi. Persoalaan angka putus sekolah dan pernikahaan dini di Bangka Belitung menjadi sebuah masalah yang seakan-akan tidak pernah mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Fenomena adanya putus sekolah dan pernikahan dini ini kerap terjadi karena faktor ekonomi dan kondisi lingkungan yang akhirnya memaksa anak-anak dan remaja untuk mengambil keputusan tersebut, yang akhirnya tanpa memikirkan masa depan mereka. Dengan tekanan ekonomi yang berat, banyak generasi muda merasa tidak ada pilihan lain untuk meninggalkan bangku sekolah dan bekerja sebagai penambang timah untuk bertahan hidup.
Di masa pemilihan kepala daerah serentak di seluruh indonesia. Dan sedikit menyorotkan persoalan yang masih terjadi hingga saat ini di Babel. Para calon kepala daerah di Babel belum ada komitmen secara serius untuk menangani persoalaan yang kompleks ini. Alih-alih merancang program yang berorientasi pada pendidikan, pelatihan keterampilan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat, para calon kepala daerah saat ini justru masih terjebak dalam siklus kebijakan dan narasi usang yang sama.
Misalnya mereka masih terjebak pada narasi pembangunan berkelanjutan, ramah lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya alam. Namun, praktik yang didorong tidaklah memuat gagasan mengenai kebijakan pro lingkungan atau secara khusus pro iklim dan pro transisi energi. Mereka hanya memproduksi narasi usang yang jauh dari konteks persoalan. Dan narasi-narasi using seperti ini terjadi terus menerus seakan sebuah permainan yang terjebak didalam lingkaran setan.
Entah sampai kapan persoalaan lingkungan dan sosial seperti ini bisa diatasi dengan baik, jika pemerintah memiliki keinginan untuk mengatasi persoalan yang sistemik ini. Pemerintah harus melakukan upaya yang serius yakni menciptakan program serta kebijakan yang berfokus untuk memperdayakan masyarakat yang lebih baik, pemerintah seharusnya memiliki wacana untuk merubah pengelolaan pertambangan timah di Babel dengan manufaktur yang lebih baik, tanpa bergantung bahwa pertambangan sebagai komoditas mentah semata.
Jika persoalaan ini mampu untuk diselesaikan oleh para kepala daerah yang akan memimpin Bangka Belitung di masa yang akan datang, niscaya persoalaan yang disinggukan diatas dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis merupakan pelajar asal Babel yang tinggal di Malang, Jawa Timur.
