Yulizar Adnan: Dari Birokrasi ke Petani
Bagaimana rasanya berpindah dari dunia pemerintahan yang penuh tekanan ke dunia yang lebih sederhana tapi penuh kebahagiaan ini? Menurut Yulizar, perubahan ini bukan tentang lari dari tanggung jawab, tapi justru tentang menemukan tantangan baru yang membuat hidup lebih berwarna. Dari tanggung jawab besar sebagai pejabat, kini ia merasa lebih bebas, meski harus menghadapi ayam yang diserang penyakit, atau kambing yang terpaksa dikonsultasikan kepada dokter hewan yang berakhir dengan membocornya anggaran. Atau bagaimana ia mencoba menyiasati penggunaan pakan burung puyuh miliknya agar lebih efektif tetapi tetap produktif menghasilkan telur.
Mungkin ada yang bertanya, “Kenapa peternakan?” Jawabannya sederhana. Menurut Yulizar, dalam dunia peternakan dan pertanian, tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat hasil kerja keras tumbuh dan berkembang. “Dulu saya mengurusi angka dan data, sekarang saya mengurus tanaman dan hewan. Keduanya, kalau dikelola dengan hati, hasilnya bisa luar biasa,” ujarnya, sambil tersenyum sambil memegang sayuran hidroponik dan memeriksa aliran airnya.
Kini, Yulizar Adnan sudah menemukan jalur baru yang lebih hijau, penuh dengan tanaman hidroponik, ternak kambing, dan ikan. Dari kursi eselon ke kebun hidroponik, Yulizar membuktikan bahwa karier bisa bertransformasi, asal kita punya semangat dan sedikit “gila” untuk mencoba hal-hal baru. Jadi, kalau nanti ketemu di pasar atau kebun, jangan kaget kalau yang menyapa kamu adalah Yulizar, si mantan pejabat yang sekarang jadi petani sukses.
Sayuran hidroponik dan produksi telur burung puyuh yang dikelolanya saat ini dipasarkan di sekitar kota Sungailiat. Menurutnya dalam setiap seminggu ia sudah bisa mendapatkan uang dari hasil sayur sekitar Rp1,3 juta. Sedangkan dari telur puyuh ia sudah bisa menghasilkan sekitar 1000 butir per hari. Di pasaran harga perbutir telur itu kira-kira Rp400. “Yah pokoknya lumayanlah hasilnya. Setidaknya sudah bisa ada penghasilan buat menggantikan tunjangan kinerja atau TPP,” ujarnya sambal tertawa.
Untuk mengembangkan usaha yang ditekuninya ini ia juga melibatkan istrinya. “Kalau urusan produksi itu bagian saya yang bertanggung jawab dan mengerjakannya. Tapi kalau urusan pemasaran giliran nyonya yang berperan. Jadi kita berbagi tugas supaya makin fokus”. Namun cita-citanya yang sampai sekarang belum kesampaian adalah menjadikan kebunnya sebagai kebun edukasi. Kebun yang bisa menjadi tempat belajar masyarakat, terutama para pelajar. Menurutnya minggu depan akan ada pelajar taman kanak-kanak yang di Sungailiat yang akan mengunjungi tempatnya. Karena itu ia terus berusaha untuk membuat kebunnya menjadi lebih baik lagi penampilan dan kesuburannya, termasuk dari sisi keamanannya.
