“Bukan gitu, aku enggak bohongin kalian, aku kemaren cumann…” Seketika penjelasan Cherie terhenti, terdengar kalimat pedih yang memotong penjelasannya.

“Halah, mentang-mentang hidup jadi anak tunggal enak diprioritasin terus. Bukan berarti kamu bisa seenaknya aja, Cher! Kami juga disini sama-sama capek latihan, masa kamu enak-enakan izin terus, mana pergi jajan lagi?” suara Erika benar-benar menusuk tajam hati Cherie, dirinya tak sanggup lagi untuk berbicara menjelaskan semuanya. Dengan sedikit terisak menahan air matanya agar tak jatuh, dirinya bergegas bersiap lalu segera pergi meninggalkan suasana kelas begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Beberapa hari setelah kejadian kemarin, Cherie nampak tak masuk sekolah selama beberapa hari. Sang guru hanya mengatakan bahwa Cherie sedang izin karena ada urusan keluarga. Membuat semua temantemannya bingung seolah masih menuntut penjelasan dari Cherie.

Hingga pagi itu, di sekolah. Wali kelas mengumumkan kepada mereka, kalau ternyata Cherie kemarin izin karena harus menemani Ibunya yang sedang sakit untuk menjalani sebuah operasi di luar kota. Dan untungnya operasi itu berhasil dilakukan dan Cherie beserta keluarga sudah kembali pulang ke rumah hari ini. Selain itu wali kelas juga menambahkan kalau mungkin besok atau lusa Cherie baru bisa kembali hadir di sekolah.

Mendengar pengumuman tersebut, seluruh teman-teman Cherie terkejut. Mereka tak menyangka bahwa apa yang Cherie katakan ternyata memang benar adanya. Kini dengan dihantui oleh rasa bersalah, semua teman-temannya sepakat akan datang menjenguk ke rumah Cherie saat pulang sekolah sembari meminta maaf atas kejadian kemarin.

Waktu pulang sekolah pun tiba. Kini seluruh teman-teman Cherie sudah berada di rumahnya.

“Halo tante, kami teman sekelasnya Cherie. Kami denger kalo tante lagi sakit. Ini kami ada bawakan sedikit buah-buahan sama kue, semoga tante suka dan bisa lekas sembuh yaa,” ucap Adit mewakili temantemannya.

“Makasih banyak yah, nak. Maaf udah ngerepotin kalian semua,” jawab Ibu Cherie dengan nada yang pelan dan suara yang lembut.

Baca Juga  Bujang Beguyur: Hembusan Asap Rokok

“Kalian kok ada disini, enggak latihan hari ini?” tanya Cherie membuka obrolan di antara mereka.

“Enggak, kita sengaja datang kesini buat jenguk Ibu kamu,” jawab Adit.

“Sebenarnya kami juga datang kesini sekalian mau minta maaf sama kamu, Cher, karena kemarin kami semua sempat curiga bahkan sampai nuduh kamu tanpa bukti apapun,” tambah Nazwa dengan nada sedikit takut.

“Aku juga mau minta maaf, Cher. Karena kata-kata aku kemarin berlebihan, maafin aku yaa,” ucap Erika dengan nada yang lirih dan tatapan sedikit tertunduk, menunjukkan rasa bersalah dan ketakutan yang teramat besar dalam dirinya.

“Teman-teman semuanya, sebelumnya makasih karena kalian udah sempetin waktu buat datang kesini, bahkan sampai repot membawa buah sama kue segala buat Ibu aku. Jujur aja, awalnya aku emang sakit hati banget sama sikap kalian, tapi aku juga coba ngertiin posisi kalian dan berkat itu aku udah maafin kalian lebih dulu kok. Jadi jangan takut dan ngerasa bersalah lagi yaa, kita semua kan teman,” jelas Cherie dengan suara lembut dan senyum manisnya mampu mengubah suasana yang semula tegang perlahan menjadi tenang, memberikan rasa lega kepada semua teman-temannya.

“Kalau begitu, kenapa kamu kemarin beli kue di toko Ibuku, Cher? Seharusnya kamu kan merawat ibumu yang sedang sakit?” tanya Nayla dengan ragu.

“Iya, ditambah kamu juga gapernah mau cerita lebih banyak kepada kami, kami ini kan temanmu,” tambah Alexa dengan nada yang jengkel.

Dengan senyum tipisnya yang manis, Cherie menjelaskan semuanya kepada teman-temannya. “Maaf teman-teman, udah buat kalian bingung dan salah paham. Aku emang sempat beli kue di toko keluarga Nayla karena di hari itu, Ibuku sedang berulang tahun jadi aku dan ayah mempersiapkan sedikit kejutan untuk merayakannya. Hanya saja karena ayah sibuk bekerja, jadi akulah yang harus membeli kue dan beberapa peralatan lainnya.”

Baca Juga  Mimpiku Jadi Nyata

“Kenapa kamu ga minta bantuan kita aja? kita kan bisa rayain bareng-bareng dan bantu kamu buat beli semuanya biar kamu bisa fokus merawat Ibumu yang sedang sakit” tanya Adit menanggapi penjelasan Cherie.

“Bukan aku gamau ceritain semuanya sama kalian, tapi aku gabisa. Sejak kecil, sebagai anak tunggal, aku gapunya saudara yang bisa aku bagikan beban dan harapan keluarga. Semuanya aku tanggung sendirian, apalagi di situasi sekarang di mana Ibuku yang sedang sakit dan ayahku sibuk bekerja untuk membayar biaya berobat, hanya aku yang bisa mereka harapkan untuk melakukan semuanya. Aku gapunya kakak yang bisa ngajarin, atau adek yang bisa bantu setiap hal yang aku lakuin. Kadang aku juga lelah dan ingin selalu berbagi cerita dengan kalian semua, tapi aku terlalu takut melakukannya.” Saut kembali Cherie sembari menahan air matanya, mengingat betapa berat beban yang dirinya tanggung seorang diri selama ini.

Setelah penjelasan itu, suasana menjadi hening. Semua teman-teman Cherie tak menyangka bahwa sebagai anak tunggal yang sering dianggap hidup dengan nyaman dan fasilitas yang mewah terdapat beban dan harapan yang begitu besar yang harus ditanggungnya seorang diri.

“Cher, kenapa kamu ga cerita aja sih! Hiks hiks, aku kan bisa bantu bertanya pada kakakku kalo kamu butuh bantuan, kita semua disini juga pasti bantu kamu kok,” jawab Alexa sembari memeluk Cherie. Suasana yang awalnya sunyi kini pecah dengan tangis haru dan mata yang berkaca-kaca dari semuanya. Teman-temannya tak mampu lagi menahan rasa sedih mereka setelah mengetahui beban berat yang ditanggung oleh Cherie seorang diri. Pelukan hangat dari teman-temannya membanjiri Cherie, menghapus air mata dan rasa kesepian yang selama ini ia pendam. Tak sekedar simpati, tetapi sebuah pemahaman dan dukungan nyata yang teman-temannya berikan.

Adit, sebagai ketua kelas,  mengusulkan sebuah rencana untuk membagi tugas latihan drama agar dapat meringankan beban Cherie. Alexa akan membantu Cherie menghafal dialog sembari menjaga ibunya yang sedang sakit, sementara yang lain fokus pada properti dan tata panggung. Bahkan, mereka berinisiatif untuk membantu Cherie dalam urusan membereskan rumah dan pelajaran sekolah yang tertinggal selama ibunya masih dirawat. Bukan hanya itu, mereka juga berencana untuk membuat sebuah penggalangan dana kecil agar dapat membantu meringankan biaya pengobatan ibunya Cherie.

Baca Juga  Frustasinya Rona Buhiran, sang Maestro Negeri Terra Stannum

Semua teman-temannya berjanji akan membantu Cherie dalam hal apapun yang ia butuhkan, baik di sekolah maupun di luar sekolah.  Bahkan Erika, yang sebelumnya paling keras menuding Cherie, meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan berjanji akan menjadi teman yang lebih baik. Begitulah hari demi hari mereka lalui bersama dengan hubungan yang lebih erat antar satu dengan yang lainnya.

Hingga hari pentas seni pun tiba. Meskipun dengan persiapan yang sedikit terhambat, penampilan mereka sangat luar biasa. Cherie, yang didukung penuh oleh teman-temannya, mampu menampilkan peran putri kerajaan dengan sangat baik.  Bukan hanya aktingnya yang memukau, tetapi juga semangat kebersamaan dan persahabatan yang terpancar dari seluruh pemain. Setelah pentas, mereka merayakan keberhasilan penampilan pentas itu bersama-sama,  menandai berakhirnya sebuah kesalahpahaman dan awal dari persahabatan yang lebih kuat dan saling mendukung.

Cherie kini menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian, ia memiliki teman-teman yang selalu ada untuknya,  membantu meringankan beban, dan berbagi disaat suka maupun duka. Pengalaman ini juga tak hanya mengajarkan Cherie seorang diri, tetapi juga semua teman-temannya tentang arti sebuah persahabatan sejati yang di mana saling mendukung dan memahami menjadi kunci kebahagiaan bersama.

Sejak saat itu kehidupan Cherie pun berubah, bukan hanya karena dukungan teman-temannya, tetapi juga karena ia telah belajar bahwa berani berbagi dan meminta pertolongan bukanlah sesuatu yang salah, dirinya juga mulai mengerti bahwa kekuatan kebersamaan jauh lebih besar daripada kekuatan seorang diri.

Mevira Agustin merupakan siswi SMA Negeri 1 Toboali, Bangka Selatan