Benteng Vredeburg, sebuah ikon sejarah menawarkan lebih dari sekadar tembok kokoh dan gerbang besar. Benteng ini awalnya berfungsi sebagai pos penjagaan untuk memantau Keraton Yogyakarta. Nama “Vredeburg” yang berarti “benteng perdamaian” mencerminkan harapan untuk kerja sama harmonis antara pemerintah kolonial dan Kesultanan Yogyakarta, meskipun kenyataan sejarah seringkali lebih rumit.

Memasuki Benteng Vredeburg, pengunjung disambut dengan lorong-lorong lapang dan halaman yang luas, dikelilingi oleh bangunan lama yang kini berfungsi sebagai museum. Di dalam bangunan tersebut, terpajang diorama-diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah penting seperti pertempuran nasional dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setiap diorama didesain dengan detail yang teliti, memberikan gambaran hidup tentang masa lalu dan membawa pengunjung menelusuri jejak-jejak pahlawan tanah air.

Saya coba berbincang dengan beberapa pengurus benteng, diketahui bahwa selain menyimpan sejarah, Benteng Vredeburg juga menjadi pusat kegiatan budaya dan seni bagi masyarakat Yogyakarta. Acara seperti pameran seni, festival musik, dan diskusi sejarah sering menjadi penghias aktif dalam kalender kegiatan benteng ini. Selain itu, suasana benteng yang teduh dan pemandangan kota dari sudut menara pengawas menjadikannya tempat favorit untuk bersantai dan melewati waktu bersama keluarga atau teman.

Baca Juga  Bujoi, Pemimpin Sejati dari Bangka

Saya melihat dan mengamati bahwa benteng ini juga dikenal dengan arsitektur kolonialnya yang masih terjaga, menawarkan peluang fotografi yang menarik bagi para pengunjung. Pilar-pilar tinggi dan jendela berjeruji memberikan nuansa vintage Eropa, bercampur harmonis dengan elemen-elemen tradisional Jawa.

Seiring dengan berkembangnya Yogyakarta sebagai kota budaya dan pendidikan, Benteng Vredeburg tetap berdiri sebagai saksi bisu dari perjalanan panjang sejarah Indonesia. Selain lokasinya yang strategis, saya perhatikan fasilitas pendukungnya begitu memadai yang tentunya terus diperbaharui.

Saya jadi teringat bahwa di daerah saya sendiri yaitu kepulauan Bangka Belitung juga banyak sekali bangunan sejarah (eks kolonial Belanda) dan sejarah lampau (peninggalan kerajaan Sriwijaya), seperti prasasti, mercusuar, benteng, rumah residen, pesanggrahan, pelabuhan dan lainnya sebagai jejak sejarah tua dan jejak sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di wilayah provinsi kepulauan Bangka Belitung, sepantasnya bisa menjadi destinasi wisata sejarah yang informatif tetapi juga inspiratif seperti benteng Vredeburg yang menjadi salah satu pusat kegiatan edukasi sejarah, seni, budaya, peningkatan ekonomi bagi masyarakat Yogyakarta.

Baca Juga  Prof Zudan, Pengawal Profesonalitas ASN

Saya meyakini cara seperti ini harus bisa diterapkan, ditingkatkan dengan terarah di beberapa kota tua seperti di kota Mentok, kota Belinyu, kota Pangkalpinang, kota Toboali, dan kota-kota sejarah di Bangka Belitung lainnya. Acara seperti pameran seni, festival musik, dan diskusi sejarah lampau dan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia berlatar bangunan sejarah di Provinsi Bangka Belitung, harus  menjadi agenda terintegrasi dalam kalender sebagai kegiatan aktif kota sejarah, yang menjadi pusat kegiatan edukasi sejarah, seni, budaya, peningkatan ekonomi bagi masyarakat Bangka Belitung.

Kesan mendalam saya rasakan saat mengunjungi Benteng Vredeburg adalah lebih dari sekadar perjalanan ke masa lalu, tetapi juga sebuah langkah untuk memikirkan masa depan, memahami nilai-nilai kebangsaan, dan meresapi keragaman budaya di Yogyakarta. Harapan terhadap kesan tersebut bagi saya, dan mungkin sama bagi masyarakat lainnya, dapat juga diaplikasikan, dan dirasakan di kota-kota tua, atau kota sejarah di provinsi kepulauan Bangka Belitung.

Baca Juga  Obituari: Selamat Jalan Guru Kami Bu Kurniati

Heri Suheri, CIJ., CPW., CA-HNR., CFLS, Penulis tetap Timelines.id.