Perempuan Seberang Jalan
“Ma … ma … malam,” jawabku terbata. “Siapa Anda?” sambungku yang telah berani menjawab pertanyaan singkat perempuan yang hadir tiba-tiba malam itu. Wajah lugu tanpa polesan make up dan gincu telah membuatku sedikit berani berhadapan dengannya.
“Dengan menggunakan kain dan baju potongan kebaya serta rambut diikat membentuk konde dengan sebuah kayu kecil sebagai penjepit agar rambut hitamnya tak terurai. Pemilik bola mata sedikit sipit dan bibir mungil serta hidung yang kecil jika di poles gincu dan bedak akan tampak lebih indah, wajah perempuan tersebut,” gumamku dalam hati.
“Ada perlu apa…?” Aku balik bertanya pelan. Kuamati bibir perempuan itu semakin seksi saat membuka pembicaraan, tampak tersusun rapi geliginya yang putih bersih terawat dengan jelas.
“Izinkan aku untuk bermukim di rumah ini,” jawabnya lantang, tidak seperti halnya sewaktu pertama kali bertatap muka saat mula bertemu.
Lama kuterdiam sebelum kujawab permintaannya.
Entah apa yang merasuki pikiran alam bawah sadarku malam itu.
“Ya, silakan, dengan senang hati saya persilakan. Silakan masuk!” tukasku seperti layaknya orang linglung mengizinkan seorang perempuan tanpa tahu asal-usul dan nama untuk tinggal bersama di rumahku
Braaakkkk!!!
Bunyi asbak rokok di lantai membuatku tersentak bangun dari sebuah mimpi.
Napasku tersengal dan bergegas bangun dari kursi kayu tanpa alas dan bantal, ternyata aku hanya bermimpi.
Namun, mengapa dalam mimpiku ini sama persis perempuan yang kulihat menghilang di balik pohon tepi jalan?
Apakah benar dia yang datang malam ini untuk pindah ke rumahku? Atau ini hanyalah ilusi yg membekas dikarenakan aku penasaran dan selalu mengingatnya setelah kejadian senja tadi? Kutatap jam dinding tepat pukul 12 malam, berarti aku telah tertidur sedari tadi. Semoga mimpi hanyalah bunga tidur malam ini.
