Pemimpin Negeri Kotak Kosong
Timah adalah jantung ekonomi Bangka Belitung, tetapi ketika jantungnya macet, darah ekonomi pun mengalir lambat. Sekarang, dengan harapan supaya timah bisa kembali bergerak lebih lancar, keduanya harus bisa mencari jalan baru yang bisa menghidupkan perekonomian lokal, meskipun bukan hanya mengandalkan timah.
Jadi, apa yang harus dilakukan oleh keduanya? Pertama-tama, mereka mungkin harus mencari celah untuk mendorong industri kreatif. Di tengah krisis ekonomi yang berlarut-larut, industri kreatif adalah penawar yang bisa membantu masyarakat menggerakkan roda ekonomi dengan cara yang lebih “ringan”.
Mulai dari seni, budaya, hingga kuliner lokal yang bisa menjadi daya tarik wisata, semua bisa dijadikan modal untuk menciptakan peluang-peluang baru. Bangka dan Pangkalpinang sudah dikenal dengan potensi alamnya, tapi belum banyak yang menggali potensi budaya dan kreativitas. Ini saatnya! Kalau orang lain bisa mengandalkan teknologi dan inovasi, mengapa daerah ini tidak bisa?
Selain itu, masalah besar berikutnya adalah dana untuk Pilkada Ulang. Uang, uang, uang. Ini masalah klasik, tapi tetap saja menjadi momok. APBD yang “empot-empotan” memang sulit untuk mencapainya. Untuk itu, kreativitas dalam mencari sumber pendanaan menjadi kunci.
Tak hanya mengandalkan APBD kabupaten/kota. Apakah mungkin melakukan permohonan bantuan ke pemerintah yang lebih tinggi? Ke pemerintah pusat yang belakangan terkesan “agak pelit” mengucurkan dana.
Atau mungkinkah memohon bantuan ke pemerintah provinsi yang konon kondisi keuangannya juga setali tiga uang dengan Bangka dan Pangklpinang. Atau apakah akan memungkinkan pula melibatkan pendanaan dari masyarakat yang peduli? Apakah mungkin pula digalang dana bantuan sosial atau sektor lain yang tak terduga? Pokoknya segala kemungkinan mesti di coba. Mirip-mirip lakon pengamen di lampu merah. Siapa tahu dengan begitu, masyarakat merasa lebih memiliki, dan bukan sekadar menunggu.
Lalu jangan lupa pula, salah satu tugas utama para Pj ini adalah menjaga agar suasana tetap kondusif menjelang Pilkada. Begitu banyak warna politik yang mungkin menggerus ketenangan, namun mereka berdua harus mampu memimpin dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
Jangan sampai proses Pilkada nanti menjadi “pertarungan politik” yang merusak, melainkan mestinya menjadi sebuah “pesta rakyat” yang sejati. Semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, dan politisi harus bekerja sama menjaga atmosfer demokrasi yang jujur dan transparan.
Jika keduanya bisa memfokuskan diri untuk menangani ekonomi yang stagnan dengan cara yang kreatif, menjaga suasana kondusif untuk Pilkada yang damai, dan menyiasati dana Pilkada yang terbatas dengan solusi luar biasa, maka yakinlah 7-8 bulan ini akan menjadi masa yang penuh pembelajaran dan prestasi. Jangan biarkan “kotak kosong” menguasai, tetapi isi “kotak” itu dengan kerja nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Karena, pada akhirnya, inilah kesempatan terakhir bagi mereka untuk membuktikan bahwa meskipun hanya “pejabat sementara”, mereka bisa membawa perubahan yang signifikan baik bagi perekonomian maupun bagi kehidupan politik di Bangka Belitung. Maka, jangan buang waktu, jangan terlalu lama ragu, dan jangan biarkan negeri “kotak kosong” ini berlarut-larut dalam kesulitan yang menghimpit.
Para Pj ini sangat diharapkan mampu mengisi “kotak kosong” tadi dengan melakukan kebijakan yang baik melalui pemetaan permasalahan yang akurat, menemukan berbagai ide dan alternatif solusi yang tepat, serta pada akhirnya mengambil langkah-langkah yang benar-benar bisa membawa kebaikan bagi rakyat.
Kepada M. Unu dan Isnaini, jangan hanya berfokus pada angka-angka atau data statistik belaka walaupun itu juga perlu, tetapi dengarkan pula bisikan rakyat. Karena yang mereka inginkan bukan sekadar perubahan di atas kertas, tetapi perubahan yang bisa mereka rasakan di lapangan.
Di kehidupan keseharian masyarakat. Semoga bukan hanya kotak kosong yang diingat rakyat, tetapi juga keberanian dan kebijakan bijak Anda yang mampu menorehkan dan mengisi jejak indah di hati mereka. Salam Takzim.
Penulis merupakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung.
