Oleh: Rusmin Sopian

“Jangan banyak tingkah. Kelak dibenci orang.”

Demikian bunyi pesan WhatsApp dalam sebuah grup percakapan WhatsApp, saat penulis mengirimkan sebuah lagu karya OM Pancaran Sinar Petromak ( PSP) yang berjudul Tetangga Gue.

Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak (disingkat OM PSP) adalah grup musik dangdut humor asal Indonesia yang populer pada paruh akhir dekade 1970-an, terutama di kalangan mahasiswa, dewasa muda serta keluarga.

Para personel OM PSP beberapa di antaranya adalah mahasiswa Universitas Indonesia yang berkampus di daerah Rawamangun, kota Jakarta Timur.

OM PSP terdiri dari Ade Anwar (gendang I, vokal), Monos (gitar, vokal), Norman Sonisontani/ Omen (ukulele, vokal), Rizali Indrakesuma/Rojali (mandolin, vokal), Dindin (tamborin), Aditya (gendang II), Andra Ramadan Muluk (marakas), James R Lapian (bass) serta bintang tamu Edwin Hudioro (suling) yang merupakan anggota band Chaseiro.

Baca Juga  Malingering dalam Organisasi Pemerintahan

Salah satu personel OM PSP Rizali Indrakesuma pernah mengemban amanah sebagai Duta Besar Indonesia untuk India.

Lagu Tetangga Gue menceritakan makelar kasus yang ada di mana-mana dan susah ditangkap. Lagu itu mengandung pesan koruptor harus ditangkap dan diadili tanpa pandang bulu.

Kembali kepada jawaban kawan di grup percakapan WhatsApp itu, tentunya setiap penyampaian apakah dalam bentuk kritik dan pujian pun akan mendapatkan respon.

Budayawan Seno Gumira Ajidarma mengatakan dunia bertambah sempurna karena kontribusi sikap kritis.

Karena itu berlaku diktum bahwa kritik sangat diperlukan demi kemajuan zaman dan kebaikan bersama. Lenyapnya tukang kritik kata budayawan ini, merupakan awal ketertindasan baru.

Tak heran, ketika tukang kritik dibungkam, demokrasi akan menemui ajal. Matinya tukang kritik melahirkan pemerintah yang tirani dan otoriter. Hadirnya tukang kritik menjadi pilar sebuah pemerintahan yang demokratis dan kuat.

Baca Juga  Selamat Jalan Pipiet Senja, sang Pejuang Kata dan Cahaya Literasi