Kalaulah benar, bisa saja kita mungkin akan menemukan produk baru di pasaran: “Air Laut Bersertifikat“, diklaim lebih berkualitas, diproses dengan izin, dan pastinya lebih mahal. Apakah kita akan terjebak dalam tren ini? Memangnya kita butuh bukti tertulis bahwa laut itu “bersertifikat HGB, bersertifikat Hak Milik”?

Kalaulah benar, dengan semua kejenakaan ini, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah laut yang kita cintai akan berubah menjadi instrumen bisnis yang mencekik kebebasan kita? Dan apakah kebijakan ini akan membawa manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, atau justru sebaliknya?

Mari kita lihat bersama, sambil berdoa semoga berita trending tersebut diatas adalah (tidak terjadi), dan semoga agar laut tetap menjadi tempat yang bebas, tak terkekang oleh sertifikat (dan urusan administrasi lainnya) yang absurd.

Baca Juga  Metode Index Card Match – Solusi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik

Berikut lagu berjudul Kolam Susu karya Koes Plus, mungkinkah perlu kita dengar dan jadi perenungan kembali

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai, tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai, tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, wuh

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai, tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai, tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Heri Suheri merupakan penulis tetap Timelines.id